She keeps her secrets in her eyes
She wraps the truth inside her lies
Just when I can’t say
What she’s done to me
She comes to me
And leads me back to paradise
She’s so hard to hold
But I can’t let go

[Chorus]
I’m a house of cards in a hurricane
A reckless fire In the pouring rain
She cuts me and the pain
Is all I wanna feel
She’ll dance away just like a child
She drives me crazy
Drives me wild
But I’m helpless when she smiles

Maybe I’d fight if I could
It hurts so bad But feels so good
She opens up just like A rose to me
When she’s close to me
Anything she’d ask me to I would
It’s out of control
But I can’t let go

[Chorus]
I’m a house of cards in a hurricane
A reckless fire In the pouring rain
She cuts me and the pain
Is all I wanna feel
She’ll dance away just like a child
She drives me crazy
Drives me wild
But I’m helpless when she smiles

When she looks at me I get so weak

dan aku terjaga, saat lautan mendayu bersama senja
aku menemukanmu, tenang dan mesra
di tepian rawa sore itu..
hanya semilir angin tanpa ombak
kau terlelap di muara
hei lautan yang menjelma jadi telaga..
sampaikan salamku untuk sagaara,
semoga ia merasakan ketenangan yang sama,
sehingga gundah hatiku terbalas,
karena ia tersenyum disana.. ^^

Karatuang-Penajam, 26 Januari 2010

“Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuz).”~ [Q.S Hud: 6]

Terpana, lagi-lagi sama bait-bait surat cinta Allah buat kita, manusia. Hm, kalau dibilang mentafsirkan, diriku mah bukan ahli tafsir, tapi mungkin sedikit mentadabburi tentang makna keyakinan akan janji Allah. Di ayat di atas, Allah gak nanggung-nanggung loh menjamin rezeki semua makhluk bergerak (bernyawa) yang itu berarti gak cuma manusia, ada hewan, tumbuhan, bahkan mungkin juga virus (mahkluk unik yang ciri-ciri fisiknya gak mungkin dibilang makhluk hidup, tapi ternyata emang idup soalnya bisa replikasi **amaze**).

Karena hobbyku adalah ngedengerin orang cerita, kebetulan beberapa hari ini harus satu tim sama orang yang hobby banget cerita, tapi dia beneran story teller yang baik, karena ceritanya gak pernah berulang, sarat makna, nambah pengetahuan, inspiratif, dan inget kalo dah pernah cerita tentang sesuatu ke orang lain. Namanya Pak RZA, kemaren beliau nyerita tentang yang namanya matematika Allah. Dia bilang Allah itu punya perhitungan sendiri dalam balas membalas suatu amalan. Pak RZA bilang dia selalu ingetin ke anaknya tentang perlunya bersyukur. Ketika kita gagal dalam melakukan sesuatu, hal pertama yang harus kita lakukan adalah “introspeksi diri” pasti ada perbuatan yang salah yang pernah kita lakukan dan berimpact sama hasil pekerjaan kita, namun ketika kita berhasil dan mencapai apa yang kita targetkan, jangan pernah berfikir hasil yang kita capai itu semata-mata hanya karena usaha dan jerih payah kita sendiri. Contoh kecilnya, ketika si anak berhasil dapet juara di sekolah, beliau mengingatkan,

“Nak, kamu udah terima kasih belom sama mama, kamu dapet juara itu bukan cuma karena kamu rajin belajar dan pintar aja, inget mama yang tiap pagi sholat dhuha, tiap malem bangun tahajud buat doain kamu. Coba kalo kamu bikin kesel mama terus mama gak doain kamu, mungkin kamu gak akan kaya sekarang.”
(huwaa…jadi inget mama…T_T)

Back to the topic…tentang rezeki dan janji Allah. Sebenernya lagi-lagi balik sama apa yang dikatakan dengan niat. Ketika kerja, planning siy OK, punya target juga OK (harus lah…), bekerja keras untuk target juga OK, tapi di atas segalanya, jangan pernah lupa untuk mengingat, apa sebenernya yang sedang kita lakukan dan sedang kita cari. Toh pada hakikatnya jika yang kita inginkan masih berupa materi, tahta, dan kesejahteraan fisik semua itu hanya hal yang titipan semata. Seperti pesan mama yang pernah kutulis di notes sebelumnya bahwa, setiap kali mengusahakan sesuatu harus siap berhasil dan gagal, dan setiap kali mendapatkan sesuatu harus siap menjaga dan kehilangan. Tambahannya lagi yang kuinget, ketika diberi cobaan atau ujian, jangan pernah salahkan orang lain, introspeksi dan sadari dengan benar, bahwa setiap kejadian adalah impact dari perbuatan kita sendiri, dan setiap kejadian itu sudah ada yang mengaturnya. Hm, filosofi ini cukup ampuh loh, it works for ease the pain of regret.

Pernah gak siy, ngerasa capeeeek banget ketika ngerjain sesuatu? Biasanya apa yang kita lakuin? Kalo aq entah kenapa ketika ngerasa capeeek banget dan terbentur sama perasaan, ya Allah kok gini-gini banget siy aq kerja.. Nah, biasanya secara otomatis ada pertanyaan yang terbersit dalam hati, “aq tuh lagi ngapain siy? apa yang aq cari?” dan biasanya, wuuush…. banyak kelebatan-kelebatan bayangan (lebaaay) tentang orang-orang yang nasibnya lebih kurang beruntung dari aku, yang mungkin berusaha sangaaat banyaaak dan tak juga mendapatkan apa yang dia inginkan tapi tetap tawakal, terus juga usaha-usahaku yang gagal dan ternyata bisa juga kuselesaikan, pengalaman, dan lagi, niat karena “apa” ? kalau yang dicari hanya dunia, then maybe, we’ll always fall in the same situation and change the direction.. *cuma asumsi, ditambah pengalaman dikit, hehe*.

Yah intinya mah, kalo kita yakin akan rezeki dan janji Allah, insya Allah, apa aja yang kita lakuin bakal enjoy… masalah uang, masalah persaingan, masalah teman dan lawan, image, pekerjaan yang berhasil dan gagal, itu adalah proses, dan bunga-bunga yang indah, mati atau layu, dari sebuah keinginan untuk menjadi sesuatu yang berguna, membantu dan dibutuhkan. Sometimes, we should think about what we’ve done for our environment? Karena salah satu yang aq pahami, bahwa life is needed … how bout u?

curhat colongan
Balikpapan, 26 Januari 2010

Aku berdiri di tepian laut ini. Angin kencang menerpaku yang berusaha berdiri tegak di galangan pantai.
Suara deburan ombak itu kamu, desauan angin itu kamu, riak-riak kecil yang menghantam bebatuan itu juga kamu. Kau terhampar mesra di hadapanku, laut biru..
Sesaat kubisikan kata rindu, yang lantas menghilang bersama angin senja.
Langit pun masih biru, bercumbu denganmu di garis horison pantai.
Panorama itu membuatku cemburu, karena kenyataannya aq berdiri di sini, dan masih merindumu..

Bantaeng, South Sulawesi

Next Page »