Broken Wings (Part 1)

Sore itu aku melihatnya, dari gerak tubuhnya aku menyadari sesuatu. Orang ini terlihat lemah, dan aneh. Aku tergelitik untuk mengenalnya. Aku berkali-kali melihatnya di sela-sela aktivitasku. Aku melirik ke sayap perlindunganku, masih kuat. Kalau ada yang melukaiku, aku masih bisa mengatasinya. Aku ingin mengenalnya, boleh kan? Sayapku masih kuat, jika keanehannya brutal dan melukaiku. Tapi aku tertarik padanya, orang aneh yang baru kutemui, disini. Satu hari, dua hari, tiga hari, seminggu. Aku masih menangkap gerak-geriknya tanpa sadar, mencuri dengar tentangnya tanpa sadar. Sampai suatu sore, aku pertama melihatnya dari dekat. Mengamatinya sampai puas, dan memutuskan aq harus menjadikannya objek. Keanehannya masuk ke daftar type orang aneh yang kususun.

Dia beda, bukan seperti orang-orang sebelumnya, orang-orang aneh itu, yang hanya kukagumi saja. Aku mengikutinya terus menerus tanpa sadar, entah karena daya tarik keanehannya, karena kekhawatiranku, atau ini hanya sebagian kecil dari rencana Tuhan saja. Aku mulai dapat mengerti sumber aura itu, mengumpulkan informasi hingga addicted, terus menerus ingin mendengarkan ceritanya. Sampai akhirnya entah mengapa, aku memutuskan untuk melindunginya, dengan kedua sayapku. Dia terlihat sangat tegar, bagi semua orang. Tak pernah sedih, tak pernah mengeluh, hanya terkadang menghilang sesaat dan kembali dengan senyuman.

Aq tau, dia kuat bagi semua orang, tapi buatku dia hanya mahkluk lemah, yang melindungi dirinya dengan sekuat tenaga. Entah orang-orang menyadarinya atau tidak, tapi dia tersiksa, karena tak ada energi yang bisa dipinjamnya saat dia lelah menahan semuanya. Dia terlihat tak butuh orang lain, tapi aku tahu dia sangat butuh perlindungan, dari segala beban dan hal-hal buruk yang terus-menerus melukainya, yang ditutupi dengan senyuman simpul bodohnya. Aku hanya ingin melindunginya.

Aku tak pernah begini sebelumnya, terikat hati dan bahkan melepaskan sayapku, untuk objek penelitianku?? Tapi aku tidak menyesal. Sekali lagi yang ingin kulakukan hanya, melindunginya dari dunia. Entah aku bisa atau tidak, aku berikan sayapku untuknya. Semua anugerah ini, untuknya. Aku tahu, ini percuma, karena aku hanya bisa meminjamkan sayapku untuk melindunginya, tapi aku tak bisa meminjamkan tenaga saat dia benar-benar lelah menghadapi semuanya. Dia butuh sahabat, yang bisa membantunya mengobati luka yang menyayat-nyayat dibalik senyuman sok tegar yang selalu ia perlihatkan.

Ada seseorang, yang beberapa hari ini terus memperhatikan kami, entah apa yang dilihatnya, tapi aku merasa bahwa dia orang yang cocok untuk menjadi sahabatnya. Sahabat manusia bodoh yang kulindungi. Aku menyelidiki orang ini juga, dia sempat masuk ke dalam list objek penelitianku, tapi dia terlalu jauh kuraih. Tidak bisa diobservasi lebih dekat. Tapi sekarang, dia yang mendekat sendiri. Hah…senangnya, bisa mengobservasi dua orang sekaligus. Aku terus menerus mendalami karakter keduanya, menarik sekali. Mereka berdua punya pemikiran-pemikiran yang berbeda yang strategis dari orang-orang kebanyakan. Aku menikmati, mengamati dan menganalisis sistem bersama mereka, membantu orang-orang memecahkan permasalahan-permasalahan dalam sistem dengan cara kami sendiri, yang mungkin dianggap aneh oleh para penjaga sistem.

Aku sadar, terbawa terlalu jauh, dalam pemikiran mereka, dan membuatku semakin ingin melindungi, keduanya. Karena aku tahu , dengan sikap mereka yang seperti ini mereka akan dianggap berbahaya bagi sistem, mereka terlalu banyak mengetahui informasi di dalam sistem. Aku dan mereka tidak pernah bermaksud menghancurkan atau menentang sistem, kita hanya menikmati menganalisis dan mengkritik hal-hal ekstrim yang terus menerus dilakukan oleh para penjaga sistem yang menurut kami malah akan membahayakan sistem. Tapi tetap saja, kami terlihat seperti sekumpulan anak nakal berfikiran dangkal, terus menerus dinasehati, mungkin yang terlihat dari kami hanya tindakan-tindakan jahil yang sesekali kami lakukan untuk merubah suasana. Aku tahu, para penjaga sangat menyayangi kami, tapi mungkin mereka menunjukkan rasa sayangnya dengan cara yang salah. Seperti segenggam pasir, yang apabila digenggam sangat kuat, malah akan habis, tak tersisa di genggaman. Ingin keluar dari sistem? perasaan itu tentu saja ada, karena sifat kekanak-kanakan kami memang terkadang keterlaluan. Tapi apa salah mendengarkan anak-anak sesekali? Hm… mungkin kami hanya butuh perhatian, dan sangat senang mendapatkan perhatian, hingga tak bisa berhenti membuat marah para penjaga sistem. Kami, dianggap sudah berada di batas terluar sistem, sedikit lagi…tak bisa ditoleransi… Kami sadar, dan berjalan kembali mendekati sistem, tapi tetap saja sesekali berlari mendekati batas itu, dan kembali lagi.

Suatu hari, kami bertiga menyadari sesuatu, saatnya tiba, pergantian penjaga. Aku tahu, mereka berdua punya kemampuan untuk berada disana. Menjadi penjaga sistem, mereka punya hasrat itu. Tapi, mungkin lebih menyenangkan seperti saat ini, membantu dengan cara kami sendiri, tidak terlalu terikat dengan sistem, tapi juga tidak melewati batas terluar dari sistem. Tapi, aku tidak keberatan, jika mereka memang ingin berada disana. Aku akan tetap melindungi mereka, dengan kedua sayapku, dan terus berusaha ada bersama mereka. Sampai sesuatu terjadi tiba-tiba…keputusan para penjaga sistem yang lama……

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s