Makna Persahabatan

Fee, namamu lucu sekali. Ah, mungkin sebentar lagi kau pun akan meninggalkanku seperti teman sebangkuku yang lain sebelum kamu. Mungkin kamu hanya akan bertahan seminggu atau bahkan beberapa hari saja duduk denganku, sampai ada tempat kosong untukmu.

Aku tidak tahu kenapa tidak ada yang betah duduk denganku. Rheina pernah bilang padaku, itu karena aku tidak pernah mau ngobrol, apalagi bercerita tentang masalahku. Aku hanya bisa bilang kalau itu adalah privacyku yang tidak bisa diganggu gugat. Rheina langsung terdiam dan pergi. Kata-kata terakhirnya, “Kau tidak akan punya sahabat selamanya”.

Ah, aku masih tidak tahu, terlalu pentingkah untuk bersahabat ?. kalau hanya untuk melihat PR, apakah harus bersahabat dahulu ?. lagipula mereka yang biasanya melihat padaku. Lalu untuk apa ya bersahabat itu ?. Vox masih menggeliat di sampingku. Bulunya yang tebal pasti menghangatkan tubuhnya saat hujan seperti ini.

&&&

“Sha, boleh nanya’ nggak ?.” Fee menutup buku matematika yang sedang dibacanya, aku menoleh. Aku masih memepertimbangkan, perlukah kujawab?. “Kamu mau tanya apa Fee ?, soal nomor berapa ?,” tanyaku sambil menekan-nekan tuts kalkulatorku. “ Bukan soal matematika, tapi…”, ia memutus perkataannya. Aku masih sibuk menghitung rumus-rumus trigonometri di depanku, enta mengapa aku bertanya, “ Kalau bukan soal matematika jadi soal apa ?”. Setelah melihat ia tersenyum, tanganku refleks menutup buku dan meletakkan pinsil. Ada sesuatu di senyumnya yang membuat rasa ingin tahuku muncul. Apa yang kulakukan ?, padahal masih banyak soal yang mengasyikkan untuk kukerjakan.

“ Kenapa sih orang-orang bilang kamu nggak mau bersahabat dengan teman-teman yang lain ?”, Fee memutar-mutar pulpen ditangannya. Aku tidak menyangka dia sangat to the point. Aku bingung, apa yang harus kujawab. Apa aku harus menjawab sama seperti pada Rheina ?. entah kenapa rasanya aku tidak ingin kehilangan Fee. Seperti kehilangan Reza, Athika dan Rheina serta yang lain-lainnya.

“ Entahlah Fee, mungkin karena aku tidak pernah tahu untuk apa bersahabat itu !”, jawabku terus terang. Apakah aku sudah curhat pada Fee ?, laki-laki yang baru kukenal kemarin ?.

“ Kamu tida akan pernah tahu kalau kamu tidak mencobanya”, Fee meletakkan pulpennya. “ Aku sudah pernah mencoba, tapi aku kecewa. Jadi buat apa ?. Apa kau mau memberitahuku, Fee ?”, tanyaku pada Fee. “ Jadilah sahabatku, kau akan merasakan makna persahabatan itu sendiri !”, Fee menundukkan wajahnya dengan gaya sok malu-malu. Dasar anak kelas dua SMP, aku tersenyum.

&&&

“ Fee, kapan aku kan merasakan makna persahabatan yang kau katakan waktu itu ?”, tanyaku polos. “ Kau sedang merasakannya Sha !”, Fee terus melanjutkan komik buatannya. Aku jadi bingung sendiri, memangnya aku sedang merasakannya ?. Aku hanya merasa senang melihat komik Fee yang lucu. Aku tidak ingin ketinggalan satu pun torehan pinsil di tangannya. Apa itu gunanya sahabat ?.

“ Apa gunanya sahabat hanya membuatku lucu ?”. Fee tersenyum mendengar pertanyyanku. “ Vashaku sayang, kamu itu pintar dan juara kelas bahka umum, tapi kok tidak bisa menafsirkan perasaan kamu sendiri ?.” Fee menyelesaikan komiknya yang berjudul “Vasha And Vox”.

&&&

Fee, sekarang aku tahu maknanya persahabatan. Maknanya sangat dalam sampai memerlukan waktu bertahun-tahun bagiku untuk menemukannya. Sejak perpisahan SMP yang kurasa blank karena kau tidak datang, sampai saat ini kau terbaring didepanku, ditemani infus dan selang-selang yang aku tidak berminat menghitung jumlahnya.

Saat itu kau berkata, “ kau akan merasakan maknanya persahabatan jika kau telah kehilangan sahabatmu”. Sayangnya kaulah satu-satunya sahabatku Fee. Aku sangat berterimakasih kepada Sang Pencipta karena dua hari yang lalu kau datang menemuiku untuk memintaku menjadi sahabatmu selamanya. Kau memintaku untuk menjadi isterimu, setelah delapan tahun kau pergi dariku. Kini kau datang membawa persahabatan yang dulu. Afeerino yang membuka mataku. Kau salah, aku sudah menemukan makna persahabatan sebelum aku kehilanganmu, …aku tak ingin kehilanganmu…

Friendship is come from heart,

Nobody can guess who, when and where you feel it

 

(Ditulis dikelas, 2-1 SMANSA, terinspirasi dari seseorang yang sangat ingin kujadikan sahabat)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s