The Crew

Matahari terik akhirnya sampai juga ke wajah putih cenderung pucat milik Ryo. Dasar cowok, keringatnya tidak tahan ingin terus menerus keluar dari pori-porinya. Gerah luar biasa yang dirasakan Ryo tidak membuatnya gentar ikut mengantri wawancara untuk menjadi panitia sebuah acara bergengsi di kampus. Ia sudah menghabiskan dua botol softdrink yang akhirnya malah memaksanya untuk menahan malu bersendawa disela-sela antrian. Ryo melirik ke kanan dan ke kiri berharap ada seseorang dari fakultas yang sama sekedar teman ngobrol. Ryo tak sengaja melihat pita putih yang terikat di tangan cewek yang duduk di sampingnya. Ia melirik lagi pita putih yang terikat di tangannya. Hm…nih cewek daftar di seksi yang sama, fikirnya.

“Punten mbak, saya Ryo, daftar di dekor juga ya?” Ryo melaksanakan aksinya setelah menunggu beberapa saat sampai si Mbak akhirnya beradu pandang dengan Ryo. Emang lagi gerah banget kali ya, bukannya dijawab si Mbak hanya senyum terpaksa sambi mengangguk.

“Oh…dari fakultas mana Mbak?” Ryo rada-rada malas melihat respon awal si Mbak.

“MIPA”, duh…akhirnya si mbak ngomong juga. Tapi setelah mencerna beberapa menit Ryo malah kaget, di MIPA ada ya makhluk seperti ini? Sepertinya ini salah satu makhluk hasil riset yang nggak berhasil. Kalau dilihat dari fisik sih, ogah deh ngomong sama orang seperti ini. Tidak ada menarik-menariknya sama sekali. Biasa! Tapi untung Ryo walaupun katanya ganteng, tetep murah hati. Bukan apa-apa sih, tapi kata ibunya orang-orang seperti Mbak yang disamping ini suatu saat bisa berguna buat kita. Maklum, ibunya Ryo sarjana ilmu komunikasi, jadi sejak SD sudah diajari building relationship. Tapi bukannya masuk FIKOM si Ryo malah masuk ILKOM. Meleset sedikit sih, tapi…karena meleset itulah Ryo jadi terkenal bisa melakukan hal yang katanya susah dilakukan oleh mahasiswa Ilmu Komputer, yaitu berkomunikasi dengan manusia, menggunakan bahasa manusia, bukan C, PASCAL atau VB, apalagi ASSEMBLY he..he…

“Saya juga MIPA Mbak, Ilkom. Mbak jurusan apa?” Ryo mulai sumringah, akhirnya ia bertemu orang yang satu fakultas. Maklum, anak MIPA benar-benar jarang yang mau ikut acara seperti ini.

“Statistika, 2004” Waduh, si Ryo mikir lagi. Pantas saja seperti orang kesedot rumus. Jelas lah, anak Statistika. Tapi yang lebih mengagetkan Ryo ternyata mereka satu angkatan. Tapi cewek di depannya terhitung boros wajah. Ryo akhirnya hanya bisa senyum, habis si Mbak sepertinya tidak berminat untuk ngobrol dengan Ryo. Akhirnya lima belas menit kemudian sampai juga giliran si Mbak. Ryo konsentrasi mendengarkan, ingin tahu nama orang aneh di depannya.

“Sachi Kaira Paramitha”

Orang yang punya nama langsung mendatangi sumber suara untuk wawancara. Ryo masih bengong antara bingung dan tidak percaya. Masa sih, makhluk di depannya tadi punya nama Sachi. Bukannya itu bahasa Jepang yang artinya bahagia? Tapi kok sama sekali tidak mencerminkan orangnya ya.

“Zulfikar Yoseph Naril” Ryo rada-rada pikun sama namanya sendiri. Soalnya yang konsisten memanggilnya Zulfikar hanya satu orang yaitu dosen Aljabar Matriks yang sudah sangat pikun, setiap ketemu Ryo pasti minta kenalan lagi. Orang lain, pasti langsung ingat, mana ada lagi cowok dengan style dan penampakan wajah seperti Ryo di seantero MIPA. Unik.

Setelah lima menit bersama sang koordinator dekorasi, akhirnya wawancara Ryo selesai. Ryo membayangkan lagi uang lima ribu yang tadi ia pakai untuk beli minuman, ditambah keringat dan waktu yang telah dihabiskan hanya untuk berhadapan lima menit dengan sang koordinator dekorasi. Tapi Ryo tidak menyesal soalnya koordinator dekorasinya cantik, he..he… . Ditambah Ryo bertemu dengan Sachi makhluk aneh yang mungkin akan satu seksi dengannya di kepanitan nanti, kalau Ryo diterima.

Dua hari kemudian Ryo tanpa sengaja menangkap bayangan aneh ditambah bulu kuduknya berdiri saat berada di tangga depan perpustakaan. Setelah diperhatikan ternyata itu Sachi, sedang duduk di pojok perpustakaan, sedang serius membaca buku setebal tiga inchi dengan kacamata minusnya. Hiy… Ryo cepat-cepat berlalu dari situ.

“Halo, ini siapa ya! Ada yang bisa saya bantu?” Ryo dengan sigap mengangkat ponselnya yang bergetar dua kali. Memang sudah sangat terlatih berkomunikasi, Ryo yang baru saja merinding bertemu Sachi langsung bisa sumringah menerima telepon.

“Ini Raya Co Dekorasi acara Pekan Scientist Muda. Mau ngabarin, setelah dipertimbangkan, kamu sepertinya lebih cocok untuk ke seksi Public Relation. Mau nggak dipindah ke seksi itu?”

“PR ya? Sebenernya milih dekorasi soalnya nggak pernah siy. Pengen nyobain. Tapi…”

“Kalau kamu nggak mau nggak apa-apa sih, biar salah satu anak dekor yang udah aku setujui aku cancel.”

“Mm…boleh tau nggak siapa?”

“Kaira. Anak MIPA juga, Statistika. Dia sih punya konsep yang bagus banget buat dekorasi, tapi sepertinya susah bekerja dalam tim.”

“Sachi Kaira Paramitha?”

“Wah, kamu kenal? Aku kira kamu nggak bakal kenal orang seperti dia. Soalnya aku tanya beberapa anak MIPA yang daftar tidak ada yang kenal dia. Jadi gimana?”

“Aku minta waktu sampai sore ini ya, bisa kan? Aku harus mikir dulu nih, soalnya ini kan acara yang gede banget.”

“Okey, buat kamu apa aja deh. Ntar sore aku telepon lagi. Thanks ya!”

“Yups, sama-sama.”

Ryo berfikir keras sesaat setelah Raya menutup teleponnya. Kalau dia bersikukuh ingin masuk dekorasi dia berarti megorbankan Sachi, tapi kalau dia menerima tawaran menjadi PR dia bosan. Setiap kegiatan yang diikuti pasti ujung-ujungnya PR, fundraising, pokoknya hal-hal yang sama sekali biasa menurutnya. Kalau dia mau jahat, peduli amat dengan Sachi Kaira yang baru saja dikenalnya dua hari yang lalu. Dia memang tipe orang yang seharusnya tidak mengikuti kepanitiaan. Tapi apa ya kira-kira yang membuat Sachi nekat mengikuti wawancara acara Pekan Scientist Muda ini. Ryo jadi penasaran. Tanpa berfikir panjang lagi, Ryo berbalik arah kembali ke perpustakaan. Ia berharap mudah-mudahan Sachi masih ada disana.

Orang yang dicari masih bertengger santai di perpustakaan, sama sekali tidak mengalami perubahan posisi dan ekspresi. Ryo masuk ke perpustakaan fakultas dengan hati-hati. Maklum, seumur-umur kuliah disini Ryo sama sekali belum pernah masuk ke perpustakaan fakultas. Sekedar tahu saja tempatnya ada di situ, tepat di depan tangga menuju jurusan Ilmu Komputer, sehingga kalau ada yang bertanya Ryo tidak terlalu malu. Anak MIPA macam apa yang tidak pernah ke perpustakaan fakultas. Ya seperti Ryo ini, tapi…sekarang dia sudah ada di dalamnya. Rasanya aneh, tapi apa boleh buat. Ini tentang keputusan yang harus diambilnya sore ini.

“Ehm… Mas!” langkah Ryo terhenti ketika tiba-tiba penjaga perpustakaan memanggilnya. Tadinya Ryo mau cuek, mungkin saja orang lain yang dipanggil. Tapi setelah melihat kiri kanan dengan kecepatan super dia tidak menemukan laki-laki lain di ruangan itu. Yang ada akhirnya Ryo berbalik dan melemparkan senyuman mautnya.

“Iya Bu, ada apa?”

“Isi buku tamu dulu Mas, baru boleh masuk. Untuk arsip perpustakaan”

“Oh, iya. Saya terlalu bersemangat nih Bu. Pengen cepet-cepet baca buku.” Si ibu spontan tersenyum, tapi Ryo akhirnya hanya menuliskan nama panggilan dan nomor induk mahasiswanya. Itu juga setelah berfikir agak lama, soalnya gara-gara nervous Ryo jadi lupa nama panjang dan nomor induk mahasiswanya. Ada coretan kecil di angka terakhir nomor induknya. Soalnya yang ditulis Ryo ternyata adalah nomor induk Deny, teman sekamarnya yang sering menitipkan absen saat kuliah.

Setelah selesai dengan urusan administrasi singkat yang sangat dibenci Ryo, ia buru-buru bertandang ke meja tempat Sachi duduk.

“Ehm, selamat siang.” Ryo menyapa sambil menyiapkan senyuman terbaiknya. Sachi masih tidak bereaksi.

“Ehm, Sachi! Pa kabar!” Ryo mencoba lagi. Kelihatannya berhasil, soalnya Sachi menurunkan bukunya dan melirik ke arah Ryo.

“Kamu ngomong sama aku?” Sachi memandang laki-laki di depannya dari bawah ke atas seperti detektor logam.

“Ya iya lah! Masa aku ngomong sama buku! Masih ingat aku?” Ryo masih tersenyum seperti tadi.

“Zulfikar Yoseph Naril, Ilmu Komputer 2004. Lahir di Jakarta, Enam April 1986. nomor induk G64104066. Single, asisten praktikum algoritme dan pemrograman favorit. Hobi, futsal dan baca komik plus nonton anime, warna kesukaan hijau army. Makanan favorit tempe bakar, yang paling dibenci ti…”

“Cukup-cukup…” Ryo menghentikan perkataan Sachi karena dia merinding ditambah keringat dingin mendengarnya. Makhluk di depannya ini bisa dapat informasi seengkap itu darimana? Padahal dia sendiri lupa nama panjang dan nomor induk mahasiswanya. Senyuman Ryo langsung hilang.

“Kamu ini penguntit ya? Bisa dapat informasi sebanyak itu. Kita kan baru kenalan dua hari yang lalu. Aku saja sering lupa dengan NIM-ku sendiri.”

“Aku punya memori yang merekam semua yang aku dengar. Kamu kan bukan orang kebanyakan seperti aku. Informasi tentang kamu tidak perlu dicari tapi bertebaran, bahkan sampai di toilet mahasiswi.”

“Duh jadi nggak enak, maklum orang terkenal. He..he.. tapi aku belum kenal kamu, masih kenal nama dan jurusan plus angkatan saja.” Ryo akhirnya kembali normal dan berani duduk di sebelah Sachi.

“Ngapain kamu mau kenal aku. Aku kan orang nggak penting. Cukup kan, nama, jurusan dan angkatan. Oiya satu lagi, aku tidak suka dipanggil Sachi, karena orang-orang mengejekku tidak pantas dengan nama itu. Lain kali, kalau kamu masih berminat memanggilku, panggil aku Kaira.” Jawab Sachi ketus.

“Nggak apa-apa sih kalau kamu nggak mau kenalan sama aku. Aku hanya butuh kamu menjawab satu pertanyaanku. Setelah itu aku pergi deh. Deal?”

“Okey, deal. Aku nggak mau lama-lama duduk disebelah kamu, terlalu mencolok. Aku nggak suka banyak orang yang melihat ke arahku.” Sachi kembali menutup wajahnya dengan buku. Kali ini judulnya terlihat jelas. Modern Architecture and Decoration. Ryo jadi berfikir, ada ya buku seperti ini di perpustakaan MIPA. Lagian ngapain anak Statistika baca buku arsitektur. Ryo geleng-geleng kepala.

“Kenapa kamu pengen masuk ke seksi dekorasi Pekan Scientist Muda?” Sachi meletakkan bukunya.

“Kamu kenapa nanya tentang itu?” Sachi meletakkan bukunya dan melepas kacamatanya. Ternyata Sachi tidak terlalu nerd seperti keliatannya. Sedikit terlihat guratan keturunan Jepang di matanya. Ryo adalah pemuja manga dan anime Jepang. Agak dag dig dug juga melihat penampakan yang mungkin orang Jepang sungguhan di depannya.

“Ya, mungkin saja aku bakal kerja sama kamu di dekorasi. Kita kan sama-sama daftar ke dekorasi.”

“Aku kan belum tentu diterima. Pengumumannya kan baru lusa.” Sachi kembali mengenakan kecamatanya. Hilanglah sense Jepang yang tadi sempat dirasakan Ryo.

“Jangan-jangan kamu udah dapet bocoran ya? Atau udah dihubungi oleh Soraya Tinfika koordinator dekorasi?” Sachi melirik curiga.

“Hei, bisa nggak sih manggil nama orang biasa aja, nggak usah lengkap-lengkap. Aku susah nyernanya. Kamu kan udah janji mau jawab. Jawab aja sih, katanya nggak mau lama-lama deket aku…” Ryo menggoda Sachi.

“Aku pengen membuat aula utama jadi lab basah raksasa dengan konsep dekorasi yang aku buat.”

“Oh ya? Ceritain ke aku dong!”

Sachi tidak menjawab, tapi malah mengeluarkan setumpuk kertas ukuran A3 dari tas ransel hitamnya. Kertas itu penuh dengan sketsa dekorasi untuk ruangan aula utama yang akan digunakan untuk PSM. Mulai dari dekorasi panggung sampai tata letak semua bangku, sound system, jalur keluar masuk, stand dan lain-lain. Di lembar berikutnya ada konsep dekorasi yang lebih minimalis dan seterusnya. Ada lima konsep dekorasi dan semuanya sudah lengkap tata letak, bahan dan peralatan yang akan digunakan untuk membuatnya, contact person penyewaan alat-alat dekorasi dan perhitungan biaya yang harus dikeluarkan untuk setiap konsep dekorasi.

“Kamu yang buat semua ini?” Ryo takjub, Sachi mengangguk.

“Kamu udah ngelihatin ini ke Raya?” Sachi mengangguk lagi.

“Aku juga udah nyerahin kopiannya untuk dia pertimbangkan.” Sachi tersenyum, Ryo kaget melihatnya. Tapi dia tetap berusaha biasa saja. Agak menyeramkan sih senyumannya, tapi lebih baik dari pada dia dijutekin terus.

Ryo masih mengamati konsep dekorasi di tangannya. Gila, ini sama saja pekerjaan dekorasi sudah selesai, tinggal teknis. Kalau orang seperti ini dikeluarkan dari seksi dekorasi hanya karena Ryo yang sebenarnya sama sekali buta dengan dekorasi, sayang sekali. Raya juga aneh, apa dia tidak mempertimbangkan kualitas pekerjaan Sachi. Untuk mengonsep dekorasi sedetail ini pasti dibutuhkan waktu, konsentrasi serta kemauan yang sangat besar. Dia menyia-nyiakan orang seperti Sachi. Ryo harus mengalah, dia harus masuk PR. Sachi menyadarkan Ryo, ini acara besar. Bukan tempat untuk coba-coba. Orang dengan kemampuan PR seperti Ryo memang harus berada di PR. Orang dengan kemampuan seperti Sachi seharusnya memang berada di dekorasi.

“Keran banget Chi, eh Kaira. Aku jadi minder nih. Sepertinya aku nggak bakal diterima di dekorasi. Saingannya kamu sih. Kamu udah pasti diterima nih!” Ryo memberi semangat.

“Jangan menghiburku seperti itu. Aku tahu kok, orang yang parasnya menarik seperti kamu separuh masalah dalam hidupnya sudah diselesaikan oleh parasnya. Jadi orang seperti aku tidak akan dilirik. Sebagian besar manusia di dunia ini menganut sistem menilai fisik. Jadi, hasil rekruitmen lusa sebenarnya sudah ketahuan.” Sachi dengan enteng menanggapi perkataan Ryo. Yang diajak bicara malah naik darah setelah mendengarnya.

“Kamu benar-benar orang yang tidak punya semangat hidup. Kalau kamu berusaha kamu pasti bisa Kai. Kamu punya kemampuan dan kamu tidak jelek! Kamu itu terkurung dalam duniamu sendiri. Sekali-sekali lihat kebawah, jangan terus menerus mendongak ke atas. Banyak orang yang berhasil yang bahkan awalnya tidak punya kemampuan apa-apa. Tapi mereka mau berusaha. Kamu hanya malas. Pantas kalau kamu tidak suka orang melihat ke arahmu, karena kamu takut mereka melihat seorang pecundang yang enggan berusaha.” Ryo menghentikan omongannya setelah beberapa pasang mata melirik ke arahnya sambil mengeluarkan suara berdesis tanda bahwa ia berisik. Sachi masih mematung, shock mendengar celotehan Ryo. Ryo juga berfikir, ngapain dia marah-marah.

“Aku sudah selesai. Semoga kamu bisa keluar dari duniamu itu. Pertanyaanku sudah terjawab.” Ryo buru-buru keluar sebelum menarik perhatian lebih banyak dari para pengunjung perpustakaan.

“Orang seperti dia memang mudah bicara seperti itu.” Sachi menggumam sambil membereskan sketsa dekorasinya yang berserakan di meja.

“Raya, maaf nih aku telepon kamu lebih dulu”

“Oh, iya nggak apa-apa kok Ryo. Gimana udah ada jawabannya.”

“Aku bersedia masuk PR deh, jadi Kaira nggak usah dikeluarin kan?”

“Kamu mau masuk PR? Yah…kita nggak jadi satu seksi deh. Ya udah nanti kamu bakal dihubungi sama Danar Co PR. Tentang Kaira aku nggak janji soalnya dia sebenarnya masih dalam pertimbangan.”

“Kok gitu? Bukannya dia punya konsep yang bagus banget buat dekor?”

“Iya sih, tapi dia nggak bisa kerja team. Itu susah Ryo! Lagipula Co. dekornya kan aku. Aku juga punya konsep dekor sendiri. Belum tentu juga konsep dekor yang dibuat Kaira disetujui oleh BPH.” Raya jadi ketus

“Tapi nggak salah kan menerima orang dengan kemampuan mengonsep dekorasi seperti Kaira di team kamu. Mungkin dia bisa sangat membantu dan dia bisa belajar bekerja dalam team. Kamu jangan menjudge dia seperti itu kalau belum merasakan kerja satu team dengan dia.”

“Duh Ryo, kok kita jadi berantem gara-gara Kaira sih. Iya ntar aku usahain buat masukin dia. Tapi keputusannya ada di rapat koordinator dan BPH sore ini. Ya udah ya, aku mau kuliah nih.”

“Iya, sorry udah marah-marah.” Ryo menutup sambungan teleponnya. Sial fikirnya, sejak bertemu Kaira tadi dia jadi gampang naik darah, padahal sudah lama Ryo tidak marah-marah seperti ini. Dia biasanya selalu bisa menahan amarahnya dan memasang senyuman peneduh hati untuk siapapun. Siapa sih Kaira, kenapa dia membela cewek aneh itu. Lagipula orang yang dibela juga tidak punya semangat sama sekali untuk mendapatkan posisi menjadi salah satu anggota seksi dekorasi.

Pengumuman panitia akhirnya ditempel di setiap fakultas. Acara setaraf nasional yang menjadi agenda tetap Badan Eksekutif Mahasiswa tingkat Kampus itu membutuhkan lebih kurang dua ratusan panitia, tapi untuk seksi dekorasi yang tertera hanya sepuluh orang ditambah koordinator. Jadi dari beratus-ratus orang pelamar yang mengantri untuk diwawancarai hanya sembilan orang yang diterima. Ryo mengamati dengan seksama daftar nama seksi dekorasi. Dia belum puas hanya melihat namanya saja yang tertera dengan sangat jelas di urutan pertama di bawah nama koordinator pada seksi PR. Dia mengulang sebanyak tiga kali menelusuri sepuluh nama pada seksi dekorasi, tapi dia tidak menemukan nama Sachi Kaira Paramitha. Raya benar-benar payah. Dia akhirnya benar-benar membuang Sachi.

Ryo tidak bisa berbuat apa-apa. Yang bisa dia lakukan saat ini hanyalah melupakan semua tentang Sachi dan konsentrasi untuk tugas besarnya sebagai orang kedua di seksi PR. Danar menunjuknya sebagai wakil. Jadi kalau Danar tidak bisa hadir di rapat BPH Ryo yang harus menggantikannya untuk melaporkan perkembangan seksi PR.

Semua berjalan lancar seminggu pertama. Sesekali Ryo mengintip ke perpustakaan saat turun dari jurusan. Sachi masih ada disana, dia memang selalu ada disana sejak dulu. Membaca buku-buku tebal, Ryo hanya tidak menyadarinya karena belum kenal. Hari ini rapat BPH pertama, Danar tidak bisa hadir, ada kuliah sore. Akhirnya Ryo menggantikannya.

“PR gimana?” Faathir sang ketua menanyakan kesiapan seksi PR.

“Kami sudah membuat time schedule di rapat seksi pertama kemarin. Tinggal dijalankan. Kemungkinan minggu ini masih mengumpulkan list pembicara dan orang-orang yang harus dihubungi dari semua seksi.” Ryo menjawab dengan mantap. Faathir mengangguk puas.

“Dekor?”

“Konsep udah selesai semuanya. Tinggal teknis. Mungkin minggu ini mulai mencari bahan-bahan dekorasi dan mencicil membuat barang-barang pajangan yang lumayan banyak.”

“Bisa lihat konsep jadi dan perhitungan biayanya.” Aura sang bendahara angkat suara.

“Ada tiga konsep dengan biaya yang maksimum, minimum dan sedang. Oiya, aku sampai lupa kalau harus disetujui BPH dulu. Ini konsep dan perencanaan biayanya.” Raya mengeluarkan sketsa gambar ukuran A3 yag sudah diperbanyak. Setiap peserta rapat mendapat tiga lembar yang setiap lembar mewakili satu konsep.

Ryo gemetar memegang sketsa di tangannya. Dua dari tiga konsep ini adalah sketsa Kaira. Yang terakhir agak mirip hanya sudah dimodifikasi, menjadi konsep dengan biaya termahal. Ryo menahan emosinya. Dia tidak ingin mempermalukan Raya atas tindakan plagiasi dan pengakuan hak cipta yang dilakukannya.

“Okey bagus. Sepertinya kita memilih yang sedang saja, karena yang minimal terlalu minimalis. Agak kurang terasa sense scientistnya. Ngomong-ngomong gambar kamu bagus juga Raya. Yang lain gimana?” Raya tersenyum sementara audiens yang lain mengangguk setuju. Hanya Ryo yang terlihat kaku. Tidak bereaksi sampai akhir rapat.

“Raya! Kamu keterlaluan, ini kan sketsa milik Kaira! Kamu mencuri konsepnya, mengakuinya sebagai karyamu dan tidak memasukkan dia ke seksi dekorasi. Kamu benar-benar keterlaluan!” Ryo membentak Raya.

“Aku nggak pernah mencuri konsep ini dari Kaira. Aku juga tidak pernah mengakui kalau ini sketsaku. Kamu jangan nuduh sembarangan. Dia yang tidak mau masuk ke seksi dekorasi. Kamu jangan nyalahin aku dong” Raya refleks mendorong Ryo dan meninggalkannya. Ryo yang sedang marah masih tidak mau menerima perkataan Raya. Akhirnya Ryo berjalan menuju perpustakaan berharap Kaira masih berada disana.

Perpustakaan terlihat sepi. Ibu pengurus perpustakaan juga sudah membereskan barang-barangnya.

“Sudah tutup Mas.”

“Oh, Kairanya sudah pulang ya Bu!”

“Yang biasa duduk disana kan?” Ibu pengurus perpustakaan menunjuk ke arah pojok. Ryo mengangguk.

“Sudah, sepuluh menitan yang lalu lah.”

“Makasih Bu!” Ryo langsung menuju parkiran. Ah, masih ada besok. Aku masih bisa bertanya pada Kaira besok. Ryo memutuskan untuk pulang saja. Dia sedang tidak mood bertemu orang-orang. Ternyata ada orang-orang picik di dunia ini. Selama ini hidupnya anteng-anteng saja. Ryo terus menggumam sampai akhirnya ia menemukan sosok Kaira baru saja naik ke angkutan umum. Ryo tanpa pikir panjang memutuskan untuk mengikutinya.

Sampai di depan rumah Kaira, Ryo melompat turun dari motornya dan memanggil Kaira. Kaira menoleh dan terkejut. Makhluk menyilaukan ini kenapa bisa ada di depan rumahnya.

“Kai, aku mau ngomong masalah konsep sketsa kamu! Raya memakainya, dia menggunakannya untuk dekorasi.”

“Oh Ya?” Kaira tersenyum.

“Kamu nggak marah? Dia membajak karyamu!” Ryo bingung melihat senyum Kaira.

“Aku senang, berarti konsep aku bagus dong. Tujuanku untuk menjadi panitia udah terpenuhi. Walaupun bukan dari tanganku. Tapi aku senang. Setidaknya kalau tidak sesuai dengan yang aku harapkan aku tidak terlalu kecewa, karena itu buatan orang lain. Kamu mau mampir?”

“Enggak deh! Lain kali aja. Aku pulang ya!” Sachi mengangguk. Ryo menyadari satu hal lagi. Tidak semua yang kau anggap buruk bagi seseorang adalah hal yang buruk bagi orang itu.

Inspired by Sunako Nakahara,

Rie 2007

6 thoughts on “The Crew

  1. Masa siy? mukaku kan gak ada jepang2nya…
    hehehehe

    **mikir**
    Tapi makasih dibilang mirip…
    (gak ada niat mirip-miripin loh..)

  2. maksudnya karakter nya yag rada mirip.. huekeke… kmu kan g nyeritain fisiknya secara detail..jadi aq menilainya dari karakter yg kamu ceritain

    • maksudnya karakter nya yag rada mirip..

      apa itu berarti aq = suram
      aq kan terinspirasi Sachi dari Sunako Nakahara, berarti aq mirip Sunako Nakahara dunk…
      **logika matematika yang aneh**

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s