Vanish (Part 1)

Satu

Ballroom hotel di hadapanku terlihat sangat manis berbalut hiasan satin dan bunga-bunga serba hijau kuning, warna kesukaan Faras dan Rizal. Besok Faras dan Rizal akan menikah. Akhirnya, setelah bertahun-tahun saling memendam perasaan mereka disatukan juga oleh takdir.

Rizal, dengan prinsipnya cinta tak harus memiliki dan berpegang teguh pada janji kami bahwa dating is nothing! berhasil menahan diri untuk tidak mengungkapkan perasaannya selama lebih dari tiga tahun kepada Faras. Padahal aku tahu dan pastinya Faras juga tahu bahwa Rizal sangat mencintainya. Laki-laki itu tidak bisa berbohong jika mencintai seseorang.

Aku sangat mengenal Faras, the best girl for Rizal I ever known. Good girl, Rizal juga pantas mendapatkannya. Sahabatku ini memang orang istimewa. Sungguh, mampu mengenalnya pun aku sudah sangat bersyukur, apalagi bersahabat seperti saat ini. I never imagine that.

“Zal, sudah malam, aku pulang ya…,” aku menghampiri Rizal yang sedang sibuk mondar-mandir menghafal lafaz akad nikah. Aku sebenarnya kegelian sendiri, sebegitu nervousnyakah sahabatku ini.

“Kamu sendirian Vi? Baru pukul sembilan, Chandra juga masih sibuk. Temani aku sebentar.” Rizal memohon-mohon padaku. Aku paling tidak bisa melihat dia seperti ini. Aku hanya mampu tersenyum dan duduk dihadapannya.

“Tenang Zal, kamu jangan nervous. Faras tidak akan lari” Aku tertawa kecil.

Thanks ya Vi, untuk semuanya. Chandra juga, aku mungkin tidak bisa menghadapi semua ini tanpa kalian.” Rizal memelas, wajahnya pias, mungkin terlalu lelah mempersiapkan semua ini.

“Istirahat saja Zal, kamu pucat. Aku juga sudah janji dengan papa tidak pulang lewat dari pukul sebelas. Semuanya sudah selesai kok, kamu tidak usah khawatir. We do the best for you. Semangat ya!” aku memberinya semangat. Tak lama kemudian tampak Chandra berjalan ke arah kami.

“Ehm, calon pengantin baru berduaan dengan gadis lain, bisa-bisa jadi gossip loh!” Chandra menggoda Rizal. Rizal hanya tersenyum.

Good luck bro! Akhirnya salah satu dari kita mendua…ha…ha…!” Chandra tertawa sambil menepuk-nepuk punggung Rizal.

“Ya, sekarang kamu yang harus menjaga Vias. Jangan sampai dia salah lirik cowok lagi seperti dulu.” Rizal menatapku.

“Ya, tenang bro aku selalu ada untuk cewek aneh yang satu ini. Kalau dalam dua tahun dia tidak menikah juga, paling-paling aku lamar!” Chandra melemparku dengan tissue di tangannya.

“Dasar gila! memangnya aku mau?” aku balas melempar Chandra.

“Udah yuk Vi, udah jam setengah sepuluh. Bisa-bisa aku disate sama papa kamu,” Chandra melihat arlojinya sesaat.

“Memangnya papaku tukang sate!” aku melotot pada Chandra.

“Ya udah Zal, sekarang aku dan Chandra pulang. Kamu istirahat, besok pagi kita standby disini jam enam OK!” aku beranjak.

“Hati-hati ya! Thanks for all!” Rizal ikut beranjak dan mengantarkan kami sampai ke lobby hotel yang sengaja disewa Rizal untuk pernikahannya.

Aku duduk di bangku depan sedan dark blue milik Chandra. Aku ingat saat kami bertiga bertengkar masalah warna ketika membeli mobil ini. Aku ingin warna dark blue kesukaanku, Rizal ingin warna hijau dan Chandra memimpikan memiliki mobil berwarna hitam yang menurutnya lebih kelihatan elegan. Tapi akhirnya stok yang tersedia tinggal yang berwarna dark blue untuk mobil limited edition yang ditaksir Chandra.

“Vi, akhirnya dia pergi juga!” Chandra tiba-tiba membuka pembicaraan setelah suasana yang agak hening beberapa saat.

“Apa maksud kamu Ndra?” aku sedikit mengerutkan dahi.

“Rizal…, akhirnya dia menikah juga. Kamu merasa kehilangan tidak?” Chandra menoleh ke arahku.

“Em, sejujurnya sejak pertama kali Rizal mengatakan perasaannya tentang Faras kepadaku tiga tahun yang lalu, aku tahu saat ini akan tiba. Aku tahu perjuangan keras Rizal untuk tetap menomorsatukan kita dibandingkan perasaannya. Kamu ingat saat Faras mengikuti LKTM?” aku mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu.

“Iya, sebenarnya Faras sudah mengajak Rizal untuk satu kelompok penelitian dengannya, tapi akhirnya dia memilih satu kelompok dengan kita. Padahal dengan kemampuannya aku yakin jika dia satu kelompok dengan Faras mungkin mereka bisa jadi penyaji terbaik.” Chandra tersenyum mengingat kejadian itu.

“Kamu baik-baik saja Vi?’ Chandra melambatkan mobilnya.

I’m fine, mungkin hanya lelah. Kamu juga istirahat ya, kamu seharusnya check up seminggu yang lalu kan? Pasti malas lagi” aku melirik Chandra yang senyum-senyum sendiri.

“Iya Viasku yang baik…, aku janji minggu depan aku check up. Mana tega aku membiarkan kamu mempersiapkan sendirian pernikahan Rizal dan Faras. Kamu tahu kan kalau sudah check up pasti aku akan dikurung di rumah sakit untuk tes ini itu selama beberapa hari.” Chandra menghentikan mobilnya tepat di depan pintu rumahku. Mama sudah mengintip dari balik gordyn biru yang menghiasi jendela rumah mungilku.

Thanks ya Ndra! Langsung tidur, jangan kebanyakan sms!” Aku keluar dari mobil Chandra, yang tak lama kemudian diikuti juga oleh Chandra.

“Tenang Vi, handphoneku sudah mati sejak sejam yang lalu, lowbatt.” Chandra meringis. Mamaku keluar dan tersenyum pada Chandra. Selang beberapa menit kemudian Chandra pergi setelah berpamitan dengan mamaku.

Fiuh…akhirnya hari ini selesai juga. Aku merebahkan tubuhku di tempat tidur. Rizal dan Chandra, kenapa ya aku bisa bersahabat dengan mereka? Rasanya terjadi begitu saja. Sudah lebih dari tiga tahun sejak kami pertama kali bertemu dalam suatu proyek penelitian di kampus. Entahlah apa yang mereka rasakan, tapi aku sangat menyayangi mereka. Terlalu bahkan, sampai terkadang aku melupakan bahwa kami masih berada dalam komunitas yang lebih besar.

Aku salut dengan masing-masing kepribadian mereka, two interesting people. Dua orang yang mempunyai aura sangat kuat untuk mempengaruhi orang lain. Berada di samping mereka suatu anugerah, bisa mengetahui keseharian mereka suatu kebetulan terindah. Aku memang terlalu menyayangi mereka.

Aku sadar, aku tak berhak mengharapkan apapun dari mereka. Kami memang bersahabat, entah itu yang sebenarnya atau hanya perasaanku saja. Karena mereka laki-laki yang tak akan pernah dimengerti oleh wanita. Semua terjadi begitu saja, mengalir. Aku pernah berjanji pada diriku sendiri, selalu ada untuk mereka, karena sahabat adalah yang selalu ada saat kita jatuh dan tak pernah bertanya kenapa, saat dibutuhkan.

***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s