Vanish (Part 11)

Sebelas

“Vi, kamu gila ya?” Chandra setengah membentak. Aku tahu dia sangat terkejut dengan apa yang aku ceritakan.

“Maaf Vi, aku nggak bermaksud membentakmu.” Chandra langsung meminta maaf.

“Nggak apa-apa Ndra. Aku tahu dengan keputusanku ini, semua orang pasti akan menentang.”

“Vi, Faras tidak serius, dia bahkan belum membicarakan masalah ini dengan Rizal.”

“Aku tidak tahu Ndra, sampai aku menanyakannya sendiri ke Rizal.”

“Vi, aku mau menanyakan sesuatu. Kau janji akan menjawab semua yang kutanyakan kan?”

“Apapun Ndra!”

“Kamu melakukan ini karena selama ini kamu mencintai Rizal?”

“Itu… mungkin. Aku juga tidak tahu.”

”Apa aku tidak pantas buatmu Vi ? ”

”Ndra, aku tidak pernah membanding-bandingan mana yang lebih baik dan lebih buruk. For me, both of you is very precious”

“Vi, aku mohon, fikirkan lagi…aku mohon dengan sangat semua ini tidak akan menyelesaikan masalah. Ini hanya akan membuat masalah diantara kalian bertambah rumit“

“Ndra, aku nggak tahu kenapa aku akhirnya memutuskan untuk memilih Rizal. Mungkin karena aku terlalu menyayangimu. Aku ingin kamu mendapatkan yang terbaik, Saras…”

“Vi, rasa itu sudah tidak ada. Harus berapa kali aku katakan. Saras hanya obsesiku. Aku memilihmu Vi. Aku bersumpah, aku serius memintamu menjadi istriku.”

Aku tidak lagi bisa berkata-kata. Aku tidak pernah melihat Chandra seserius ini. Aku mulai bertanya-tanya apakah selama ini yang kurasakan sebenarnya adalah Chandra terlalu perfect, terlalu berharga, I feel if I’m too bad for him sampai aku tak pernah berani memecahkan frame itu dengan memutuskan untuk menerima Chandra. Aku terlalu menyayangi Chandra sampai tak berani menyentuhnya, takut ia terluka atau aku yang terluka jika memilih Chandra. Karena aku mempercayai mitos bahwa laki-laki tidak akan pernah melupakan cinta pertamanya.

Chandra, dengan semua senyuman yang mewarnai hariku? Aku sadar aku sempat mencintainya, as a woman. Aku masih tidak mengerti. Aku sangat takut menyakitinya. He’s my friend. Sisi hatiku yang lain berkata, “Lantas kenapa jika dia temanmu? Apa karena teman kalian tidak boleh saling mencintai?”. Tapi, aku bertahan. Rasa sayang yang selama ini kurasakan dan kubangun bukan atas dasar itu, tapi ini semua karena persahabatan ini, yang lebih dari segalanya buatku. Aku jadi semakin bingung. Jika aku kemarin berfikir begitu lama saat memutuskan untuk menerima tawaran Faras, menjadi istri Rizal, sekarang dengan begitu mudahnya semua ini tergoyahkan oleh Chandra. Dasar plin-plan! Aku rasa saat ini aku tidak cukup sadar dan sehat ‘jiwa’ raga untuk menentukan pilihan ini.

“Ndra, sebaiknya kamu tanya ke orangtuaku.”

Chandra tersenyum perlahan. Otaknya sedang merelasikan satu persatu kata-kata yang kuucapkan.

“Thank’s Vi!” Chandra mengeluarkan ponsel sambil berlalu meninggalkanku.

“Em…Vi, satu lagi. Maaf, aku sudah mengecek kemana ginjalmu yang sebelah lagi. Ada disini kan? “ Chandra memegang pinggangnya.

Aku sedikit terkejut. Aku sebenarnya sudah siap untuk saat seperti ini. Lambat laun Chandra yang penuh keingintahuan itu pasti tahu. Aku hanya bisa tersenyum.

“Ndra, jawab satu pertanyaanku. Jujur…”

”Oke !”

”Kamu tidak menikahiku karena itu kan ?”

”Tidak ! tapi itu membuat list alasan untuk menikahimu bertambah panjang” Chandra berlalu sambil melemparkan senyum sejuta wattnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s