Vanish (Part 12)

Dua Belas

”Vi, aku minta maaf untuk semuanya. Aku emosi. Kamu benar Vi, aku memang sedang tidak stabil saat itu. Aku malah mengecewakan Rizal, dengan menyangsikan cintanya.” Faras akhirnya meminta maaf atas kejadian beberapa minggu yang lalu. Yang tanpa sadar menekan alam bawah sadarku, kata dokter…

”Ras, aku tahu, wanita kadang memang terlalu mengikuti naluri. Kadang kita fikir kita melakukan hal yang terbaik, padahal mungkin apa yang kita lakukan menyakiti lebih banyak orang”

”Bagaimana dengan Chandra ? Dia sangat memperhatikanmu”

”Entahlah Ras, aku masih merasa tidak berhak.”

”Vi, kau harus tahu satu hal. Kebanyakan wanita bahagia ketika menikah dengan orang yang mencintai mereka, bukan dengan orang yang mereka cintai… ”

”Aku tau itu Ras… ”

”Aku masih tidak tahu, aku sangat menyayangi Chandra sampai tak berani membuatnya sakit sekecil apapun. Karena itulah aku akhirnya malah menjauh dari kenyataan kalau ternyata dia mencintaiku. Aku hanya takut dia terluka.”

”Vi, jangan ragu lagi. Itu akan semakin menyiksa Chandra. Kau tidak ingin melukainya kan?”

”Aku masih tidak tahu Ras, aku nggak yakin.”

”Lantas, siapa? Jika bukan Chandra?”

”Galih?”

”He..he..entahlah…”

Aku dan Faras hanya sampai disitu. Rizal datang untuk menjemput Faras. Mereka akan ke dokter, memeriksakan keadaan rahim Faras. Aku belum memberitahu siapapun tentang lamaran Chandra. Aku hanya bilang pada Faras kalau Chandra ternyata suka padaku. Aku masih saja ragu. Akhirnya aku kembali ke kantor dengan perasaan gamang.

”Vi, kamu udah makan?” Galih tiba-tiba menghampiriku.

”Eh, belum. Kenapa?”

”Mau bareng yang lain nggak?”

”Iya, ntar aku beresin meja dulu.”

”Kamu udah baikan kan? Kalau memang masih lemas tidak usah dipaksakan.”

Heh…, ada angin apa nih Galih jadi perhatian ke aku. Sebenarnya aku memang benar-benar kagum pada manusia super perfect di hadapanku. Tapi… ah, hanya mimpi mendapatkan cintanya, he..he…

”Vi, kamu dimana?” Chandra meneleponku.

”Lagi mau makan bareng anak-anak”

”Oh…tadinya pengen aku ajak makan.”

”Nanggung Ndra, udah pesen. Kamu makan sendiri aja. Ajakin aja anak-anak di studio.”

”Ya udah deh. Maaf yah udah ganggu.”

”Aku yang minta maaf, nggak bisa nemenin kamu.”

”Ya udah see u aja.”

Aku, entah kenapa merasa lebih nyaman disini bersama Galih. Aku sedikit terganggu dengan Chandra. Kenapa ya? Biasanya nggak kaya’ gini.

”Chandra ya Vi?” Galih membuatku tersadar dari lamunanku.

”Eh, iya” aku meletakkan ponselku kembali ke tasku.

”Ntar kalo’ ketemu dia, bilang ya bulan depan ada reunian SMU, jadi harus balik ke kampung.” Galih tersenyum.

Oiya, aku baru sadar kalau Galih dan Chandra satu SMU. Berarti Galih juga kenal dengan Saras dong. Aku juga kenal Galih dari Chandra. Tadinya cuma kenal-kenal nama, tapi setelah dikenalkan oleh Chandra aku kagum padanya. Satu lagi kebetulan dia jadi satu divisi denganku setelah perkenalan itu.

”Mm, berarti ada Saras juga dong.”

”Lho, kamu kenal Saras? Gak tau dia datang apa nggak, habis setelah perpisahan dia hilang, nggak ada yang tau kemana.”

”Beberapa waktu yang lalu, sebelum aku sakit Chandra bertemu dengan Saras.” aku melahap nasi seafood yang masih hangat.

”Uhuk…uhuk…” Galih tiba-tiba tersedak.

”Lih, kamu nggak apa-apa?” aku menyodorkan air mineral pada Galih.

”Nggak, nggak apa-apa. Saras? Ada di sini?” Galih terlihat sangat terkejut.

“Iya, Chandra sempat makan siang dengannya ketika aku tiba-tiba pingsan waktu itu.”

“Wah, kejutan! Chandra pasti senang sekali. Saras sudah membuat dia gila bertahun-tahun.”

“Oh ya? Segitunya? Chandra bilang, Saras juga ternyata suka padanya sejak SMU.”

”Wah, pucuk dicinta ulam tiba dong. Ini memang masa-masa orang seumuran kita menikah kan ya? Tinggal tanya dong kapan tanggalnya.” Galih tertawa kecil.

Aku melihat tawa Galih yang tidak tahu apa-apa. Apa dia bisa tertawa seperti itu kalau tahu Chandra sedang mencoba untuk melamarku dan meninggalkan Saras?

“Kamu sendiri kapan Vi?” Galih tiba-tiba mengalihkan pembicaraan.

“Waduh Mas Galih kok nanya itu, aku bingung kalau ditanya gitu. Ya sedatangnya jodoh aja lah. Kalau emang jodoh nggak kemana kan! He..he…” Aku berusaha tertawa dipaksakan.

“Jangan gitu juga Vi, kamu kan udah tergolong mapan. Nanti malah pada takut nikah sama kamu. Takut kesaing!”

”Kamu, takut nikah sama aku?”

”Saya takut kamu udah punya orang yang kamu suka atau nunggu kamu.”

Aku sadar mukaku langsung merah. Kata-katanya datar, tapi nusuk sampai hati. Aku jadi tergoda untuk bertanya-tanya apa maksud perkataannya itu. Mudah-mudahan tidak ada maksud apa-apa, karena aku memang tidak ingin kegeeran. Hwah…

”Galih! Jangan bercanda!” aku melihat ke arah Galih dan berharap ia tidak menimpali atau menjawab apapun, karena kalau dia berkata yang aneh-aneh sedikit saja, mungkin aku bakal goyah dan berprasangka padanya. Untung saja dia hanya tertawa ditahan sambil menutupi bibirnya.

”Duh, Mas Galih godain Mbak Vias nih…,” Dhita yang duduk di sebelahku ikut-ikutan menggoda aku.

”Udahan yuk, ntar si boss marah lagi ditinggal sendiri.” Alfian berinisiatif untuk beranjak lebih dulu. Akhirnya kami semua kembali ke kantor.

***

One thought on “Vanish (Part 12)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s