Vanish (Part 13)

Tiga Belas

”Vi, ntar ke kampus ya. Aku pengen ngobrol masalah kita.” Chandra meneleponku dan aku mengiyakan dan menyudahi pembicaraan kami. Aku memang sudah tiga hari tidak bertemu dengannya. Tidak lama kemudian ponselku bedering lagi, Rizal. Duh, mereka ini emang soulmate sejati, selalu saja bareng.

”Wa’alaikumussalam, ya Zal?”

”Vi, kamu kira-kira kapan ketemu Chandra?”

”Mm, sore ini kaya’nya. Ada apa Zal?”

”Enggak, aku pengen adain acara seratus harinya Fathiyya. Kamu sama Chandra bisa dateng kan malem ini?”

”Ya ampun…, malem ini ya? aku sampai lupa. Maaf ya Zal, aku lupa. Tapi ada yang bantu-bantu Faras kan?”

“Ada, rame kok di rumah. Eh, gimana hubungan kalian?”

“Hubungan?”

”Iya, Chandra udah cerita kok ke aku. Kalian ini, kenapa nggak dari dulu aja sih!”

”Dasar si Chan-chan, dia belum datang ke rumahku kok, jadi belum terjadi apa-apa. Segala hal bisa terjadi Zal. Ya udah, ntar aku bilang ke Chandra. See Ya, Assalamu’alaikum” aku menutup telepon. Dasar Chandra, ternyata dia udah bilang ke Rizal. Iya sih, dia emang orang pertama yang harusnya tahu.

”Vi!” Suara Galih membuatku terkejut dan buru-buru menoleh.

”Vi, aku butuh kamu besok pagi presentasi ke klien, kamu bisa kan? Jam delapan, jadi kita harus nyiapin semua bahan hari ini.” Galih menghampiriku sambil membawa setumpuk file proyek yang harus dipresentasikan besok.

”Mm, malam ini seratus harinya Fathiyya, dan sore ini aku ada janji dengan Chandra. Gimana ya Lih?” aku mengetuk-ngetukan pinsil di meja.

”Malam ini, wah…, tapi nggak ada orang lagi Vi, semua sedang konsentrasi ke proyek pemda. Kamu tahu kan, divisi ini emang paling laris. Out of sale semuanya. Gini aja deh, sekarang kan masih jam dua. Kamu ketemu Chandra jam berapa?”

”Jam limaan, aku mungkin ke kampusnya”

”Ya udah, ini kita selesaikan dulu sebisanya, kalau sampai jam lima belum selesai, biar aku yang selesaikan.”

”Nggak-nggak, kamu kan kemaren udah lembur sampai pagi ngerjain progress report proyek sebelumnya. Kamu juga ngerjain kerjaan aku waktu aku sakit.”

”Nggak apa-apa Vi, seratus hari Fathiyya loh, nggak akan ada hari itu lagi.”

”Aku batalin janji sama Chandra deh, kalau sampai maghrib belum selesai kita bagi dua aja kerjaannya, jadi kamu nggak usah begadang lagi.”

”Kamu yakin, aku nggak mau gara-gara aku urusan kamu sama Chandra terganggu.”

”Nggak apa-apa kok, urusan aku sama dia bisa kapan aja.”

”Ya udah aku telepon Chandra deh, biar aku yang minta izin ke dia.”

”Ya ampun, nggak apa-apa kali Lih. Nggak sepenting itu kok. Ntar aku sms aja.”

”Udah nggak apa-apa. Kamu ntar ke tempat aku ya, bawa bahan yang ada di komputer kamu.”

”Tapi…” aku terlambat, Galih sudah beranjak dari tempatnya sambil memencet satu nomor di PDAnya.

”Halo Ndra, …nggak ada apa-apa. Gimana kabar kamu? …aku baek, aku mau ganggu acara kamu nih, …itu mau pinjam Vias dulu, ntar kamu ada janji kan? … iya, ada kerjaan…” sayup-sayup aku mendengarkan pembicaraan Galih dan Chandra yang hanya berjarak dua meter dari tempat dudukku sekarang.

Belakangan ini aku jadi dekat dengan Galih. Dia tinggal sendiri, sama seperti Chandra, jauh dari orang tua. Workaholic, bekerja lebih banyak dari pada bicara. Bisa diandalkan, advicer yang oke. Orang lapangan terlatih tapi juga konseptor yang teliti. Selalu memenuhi target, loyal, bisa bekerja di bawah tenggat dan tetap tenang, yang pasti dia itu aset yang sangat berharga di perusahaan. Karirnya sangat bagus, gossipnya sih dia sebentar lagi akan dipindahkan dari divisi ini untuk jabatan yang lebih menjanjikan, tapi entahlah, kami semua pasti akan sangat kehilangan.

”Vi! Udah belom?” Galih setengah teriak membangunkanku dari lamunan.

”Iya, bentar.” aku buru-buru memindahkan semua file yang diminta Galih ke flashdisk 1 giga-ku.

***

”Vi, udah maghrib nih. Kamu kalau mau pergi duluan aja.” Galih mengingatkanku.

”Jadi ngusir nih…, ya udah aku pergi.” aku membereskan barang-barangku.

”Ya nggak gitu lah Vi, kamu kan udah batalin janji sama Chandra gara-gara kerjaan ini. Masa sekarang kamu juga terlambat ke acaranya Rizal. Ntar aku yang disalahin sama mereka.”

”Udah, sholat aja dulu. Ntar abis sholat diomongin lagi”.

***

“Aku udah selesai nih. Kamu gimana Vi?”

“Wah, curang cepet banget sholatnya… Tadi tinggal mindahin beberapa grafik ama dipoles dikit biar interaktif. Ya udah kamu balik aja gih! Aku mau ke rumah Rizal.”

“Ya udah bareng aja, sekarang kan jam macet. Ntar kamu nyampe sana besok pagi.”

“Nggak apa-apa agak muter dikit?”

“Nggak apa-apa. Sekalian mau ketemu Chandra bentar. Ada yang mau aku omongin.”

“Oh, ya udah.” Aku membereskan barang-barangku. Aku berjalan di belakang Galih. Kantor sudah sepi, tinggal beberapa pegawai yang lembur dan satpam.

Aku masuk ke mobil Ford Escape hitam milik Galih. Dashboard dan interiornya rapi, khas Galih. Kalau dibandingkan dengan milik Chandra, beda banget. Sangat mencerminkan penunggangnya nih.

“Jangan lupa sabuknya ya Mbak!” Galih mengingatkanku sambil memasang sabuk miliknya. Aku hanya tersenyum.

Sepuluh menit pertama aku hanya diam, mengotak-atik ponselku, memainkan beberapa games dan mengecek jadwal besok. Galih juga beberapa kali mendapatkan sms dan membalasnya. Kadang ada keinginan untuk menggodanya karena senyum-senyum sendiri waktu menerima sms, tapi aku tidak berani. Aku belum terlalu mengenal dunianya Galih. Hanya sekedar tahu saja.

Beberapa hari yang lalu Selvi memberondongku dengan pertanyaan-pertanyaan tentang aku dan Galih. Katanya sih konfirmasi, soalnya anak divisi sebelah ribut, terutama divisi IT yang baru ditinggalkan Galih. Kata Selvi disana Galih meninggalkan seseorang yang menunggunya, Fatma. Selvi bilang mereka masih berhubungan sampai sekarang. Aku kenal Fatma, kita pernah satu proyek beberapa bulan yang lalu. Pasti, tidak ada yang berani memungkiri kecocokan mereka berdua. Aku juga tidak pernah berniat merusak hubungan mereka, jika itu memang ada. Aku menjelaskan ke Selvi bahwa aku dan Galih hanya berhubungan kerja, we’re only partner. Seminggu lagi juga kontrak kerja yang aku kerjakan dengan dia selesai dan akan berakhir begitu saja semuanya.

“Vi, kok diem? Ntar kemasukan loh!” Galih membuka pembicaraan setelah hampir dua puluh menit kami berada di jalanan.

“Habis, kamu sibuk banget dari tadi smsan, aku takut ngeganggu” jawabku datar.

“Loh, kok marah Vi… Iya deh, aku matiin nih” Galih mematikan ponselnya dan memasukkannya ke salah satu celah tempat menyimpan ponsel di dashboard mobilnya.

“Ih…aku nggak marah Lih, kok dimatiin sih, ntar kalo’ ada apa-apa gimana?”

“Nggak apa-apa kok, biar kamu ngomong. Dari tadi diem aja.”

“Ngomong apa? Ngomongin kerjaan bosen, dari tadi seharian aku ngobrolin kerjaan mulu sama kamu.”

“Ya ngomongin yang laen lah. Kamu, Chandra sama Rizal temenan dari kuliah ya?”

“Iya sih, tapi sekarang kita udah sibuk masing-masing. Yah gitu deh, udah pada sok dewasa nggak bisa lagi diajak maen. Oiya Lih, katanya kamu mau dipindahin lagi ya habis proyek yang ini selesai.”

“Nggak tau Vi, capek juga pindah-pindah terus, tapi demi karir nih. Target aku tahun ini sih udah tercapai. Nyelesein enam proyek besar dan masuk ke divisi yang sekarang. Tapi kita lihat nanti kalau memang ada prospek yang lebih bagus di divisi yang lain. Aku nggak keberatan buat nyoba.”

“Keren…, emang nggak salah kamu jadi pegawai teladannya Pak Thomas. He..he..he..”

“Bisa aja kamu Vi, eh ini belok kemana? Aku nggak tahu rumahnya yang mana nih.” Galih memperlambat laju mobilnya, kami baru saja memasuki perumahan tempat tinggal Rizal. Aku menunjukkan arah ke Galih sampai terlihat sedan biru Chandra terparkir di halaman rumah Rizal.

“Tuh, Chandra” aku menunjuk ke arah laki-laki jangkung yang sedang berdiri menatap kami sambil tersenyum simpul.

“Assalamu’alaikum Mas!” Chandra menyalami Galih.

“Wa’alaikumussalam”

“Aku duluan ya!” aku memutuskan untuk masuk ke rumah Rizal dan tidak mau tahu apa yang akan Galih dan Chandra bicarakan. Hanya sekali aku menoleh ke arah mereka yang sedang tergelak, tapi kemudian langsung menunjukkan wajah serius. Aku masih tidak mengerti dunia mereka, mungkin memang tidak akan pernah mengerti.

Aku menemui Faras dan Rizal. Aku setengah terkejut melihat sesosok bayi mungil tertidur pulas di pangkuan Faras.

“Ras, siapa nih?”

“Hei Vi, pa kabar? Kenalin, ini Fariz.”

“Fariz?”

“Bayi laki-laki ini anak yang dikirim Allah buat aku dan Rizal. Memang bukan dari rahimku, tapi aku benar-benar bersyukur bertemu dengannya.”

“Namanya Fariz” Rizal tiba-tiba sudah ada di belakangku.

“Gabungan nama kita berdua. Faras dan Rizal. Seperti nama Fathiyya.” Rizal membelai rambut tebal Fariz kecil. Aku baru ingat Fathiyya juga adalah gabungan nama Faras Ayuningtyas dan Rizal Adithiyya. Aku tersenyum sendiri.

“Lucunya… Fathiyya pasti senang melihat kalian berdua dan Si Fariz kecil ini.”

“Kedua orangtuanya menikah muda. Ibunya meninggal saat melahirkan dia dan ayahnya baru saja meninggal di tempat kerja. Neneknya tinggal dengan omnya yang masih SMA, sehingga akhirnya kami memintanya untuk diasuh. Mudah-mudahan dia senang ya jadi anak kita.” Faras terus menimang-nimang Fariz. Akhirnya aku melihat senyum tulus Faras lagi. Sudah sangat lama rasanya aku dan yang lain tidak melihat Faras yang begitu bersinar seperti ini, cantik. Semoga Fariz adalah jawaban dari doa kami untuk Fathiyya, Rizal dan Faras.

Setelah melewati serangkaian acara akhirnya aku berpamitan pada Rizal dan Faras. Galih sudah berpamitan beberapa waktu yang lalu. Aku juga mengingatkannya untuk pulang lebih awal karena staminanya dibutuhkan besok pagi. Aku sebenarnya ingin pulang sendiri secepatnya, menyelesaikan presentasiku dan istirahat yang cukup, tapi Chandra menarikku ke mobilnya. Aku tahu malam-malam seperti ini memang rawan untuk naik taksi sendiri. Aku pasti kalah berargumen apapun dengan manusia raja ngeles yang satu ini.

“Kamu kan tadi janji mau ketemu aku, kok sekarang mau kabur.”

“Aku capek Ndra. Maaf banget, aku lagi males ngomong atau bercanda.”

“Hm… iya deh, aku yang ngalah. Kamu tidur aja, ntar kalau udah sampai di rumah aku bangunin.” Aku hanya bisa tersenyum lemah. Tidak enak dengan Chandra, tapi aku benar-benar lelah. Huff…. Aku merasa beberapa kali Chandra menoleh sambil tersenyum ke arahku. Tapi aku benar-benar tidak tergoda untuk sekedar bertanya kenapa dia tertawa. Maaf ya Ndra….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s