Vanish (Part 14)

Empat Belas

 

 

 

“Siapa yang akan menyampaikan hasil presentasi kalian?” Pak Thomas memandang lurus ke arah aku dan Galih yang baru saja kembali dari presentasi proyek.

“Saya persilahkan Galih saja.” Aku melemparkan pandangan dan senyum simpul k e arah Galih.

“Wah, seharusnya kamu yang lebih berhak menyamaikan berita ini, tapi baiklah.” Galih membalas senyumku.

“Setelah Vias menjelaskan beberapa hal yang masih tidak mereka mengerti tentang proses quality control yang kita ajukan, Alhamdulillah, proyek ini diterima, dengan Vias yang memimpin langsung proyek ini.”

“Bravo!!, Tapi…Vias?”

“Iya pak, mereka mengajukan syarat itu. Karena menurut mereka Vias yang lebih capable dalam proses, sedangkan saya diharapkan lebih konsentrasi untuk supervisi ke pembuatan engine.”

“Saya tidak pernah meragukan kalian berdua. Kalau memang dari atas sudah menyetujui seperti itu. Kalian kerjakan sebaik-baiknya. Mengenai pengajuan dana bagaimana?”

“Mereka tidak keberatan. Anggaran itu sudah sangat realistis menurut mereka. Hasil audit terakhir mereka untuk proyek sebelumnya menunjukkan kalau pemakaian dana proyek sudah efektif, jadi mereka percaya dan berharap kali ini akan lebih baik.”

“Okey, let’s party…” Pak Thomas terlihat sangat gembira dan menyalami Galih.

***

“Great! Thanks Vi, semua berjalan sangat lancar” Galih membuka pembicaraan saat dalam perjalanan kembali ke meja masing-masing.

“Ini semua juga karena kerja keras kamu Lih! Tapi aku benar-benar tidak enak mereka mengajukan syarat seperti itu.”

“Hei, itu bukan masalah Vi. Aku yakin kamu bisa.”

“Tapi Lih, ini semua hasil kerja keras kamu. Aku menyesal juga terlalu banyak bicara tadi.”

“Hm…Vias yang aku kenal nggak kaya’ gini. Kita seharusnya bersyukur Vi. Mungkin kalau kamu tadi tidak ikut bicara, proyek ini bisa ditolak. Bersyukur dan positif thinking!! Okey!!” Galih tersenyum, tulus. Tapi aku masih saja merasa bersalah. Seharusnya Galih yang menjadi kepala proyek ini karena dia yang pertama kali mencetuskan ide dan serius memikirkan semuanya.

“Supervisor juga tidak buruk. Kalau kamu bandel, aku bisa jewer kamu!” Galih melirikku.

“Siap Pak!! I’ll do my best, doakan saya!!” aku menirukan gaya peserta di salah satu reality show Jepang. Galih refleks tertawa. Aku merasa seperti orang bodoh, tapi hanya itu cara yang aku temukan untuk mencairkan suasana. Akhirnya kami sampai di meja masing-masing, Galih langsung menyibukkan diri dengan komputernya, aku juga harus membaca ulang proposal proyek dan reschedule semua pekerjaan teknis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s