Vanish (Part 15)

Lima Belas

Hari ini benar-benar sibuk, deadline tinggal dua hari lagi. Ini memang bukan pertama kalinya aku menjadi kepala proyek, tetapi karena Galih yang sebenarnya lebih mengerti detail tentang konsep, aku jadi agak merepotkannya dengan berkali-kali mendiskusikan langkah-langkah teknis sebelum rapat tim. Galih sangat baik, dia tidak menunjukkan sikap yang membuatku merasa mengambil haknya. Dia sangat senang mendiskusikan proyek yang sebagian besar hasil pemikirannya ini. Dia juga terus menerus mensupport dan menyemangatiku. I’m nothing without him.

“Nggak terasa ya Lih, tinggal dua hari lagi dan semuanya selesai.” Aku membereskan kertas yang berserakan di meja sehabis meeting.

“Iya, Alhamdulillah sejauh ini berjalan lancar. Semoga besok dan lusa juga.” Galih tersenyum.

“Kamu bisa ikut kan di saat presentasi akhir besok?” aku kembali duduk.

“Aku mau nyari tiket pulang neh. Kebetulan cutiku udah disetujui Pak Thomas. Ada nikahan temen sekalian reunian, kalau ketemu Chandra jangan lupa ingetin dia ya.” Galih beranjak keluar dari ruangan. Aku buru-buru mengikutinya.

“Wah, kapan perginya? Kok nggak bilang-bilang sih? Ntar laporan supervisi kamu gimana?”

“Aku baliknya lusa kok. Besok aku masih masuk.”

“Mbak Vias, dipanggil Pak Thomas.” Dhita mengejutkanku.

“Oh, iya! Aku kesana dulu ya Lih!” aku meninggalkan Galih. Dia mengangguk dan beranjak pergi tanpa ekspresi. Aneh, tapi Galih yang aku kenal sebelum dekat denganku memang seperti itu sih. Workaholic, tidak begitu peduli dengan yang lain, terkesan sedikit datar.

“Siang Pak,” aku masuk ke ruangan Pak Thomas.

“Vias, siang. Silahkan duduk, saya ada kabar baik untuk kamu.” Pak Thomas mempersilahkan aku duduk.

“Ada kabar apa Pak?” aku sedikit penasaran.

“Ini…, setelah melihat kinerja kamu di proyek ini, dewan direksi sepakat untuk mempromosikan kamu.” Aku sedikit terkejut mendengar perkataan Pak Thomas.

“Promosi Pak?”

“Iya, kenapa? Kamu kelihatannya tidak senang?” pak Thomas mengerutkan dahinya.

“Oh, tentu saja saya sangat senang, terima kasih ya Pak!” aku langsung menyunggingkan senyuman. Tapi sebenarnya aku masih bingung . Promosi? Apa artinya itu? Apa aku harus…

“Kamu akan dipindahkan ke kantor pusat. Jangan takut, kamu tidak dipindahdivisikan, hanya pindah kantor saja. Yang pasti disana income kamu bertambah.” Pak Thomas sedikit bercanda, aku menyambutnya dengan tawa sekedarnya.

“Kapan saya harus pindah Pak?”

“Segera setelah proyek ini selesai. Menurut surat dari atas, minggu depan kamu sudah harus ada disana. Karena nama kamu sudah dimasukkan kedalam tim untuk proyek lanjutan yang lebih besar. Jadi besok setelah presentasi akhir, kamu harus beres-beres. Ditunggu makan-makannya ya Vi! Selamat… kamu boleh melanjutkan pekerjaan kamu.” Pak Thomas mempersilahkan aku keluar dari ruangannya.

“Iya Pak, terima kasih.” Aku keluar dari ruangan Pak Thomas dengan penuh kebingungan. Pindah? Ya ampun… di saat aku benar-benar menikmati pekerjaanku disini. Astaghfirullah, kenapa aku jadi tidak bersyukur seperti ini.

“ Vias…” Galih mengejutkanku karena tiba-tiba sudah berada di depan mejaku.

“Selamat ya…” Galih memasang wajah ceria yang sudah lama tidak kulihat.

“Hah selamat?” aku masih loading.

“Iya, kamu dipromosikan kan?”

“Kamu tahu darimana?” aku mengerutkan dahiku.

“Pak Thomas berkonsultasi denganku tentang kinerjamu. Dia minta rekomendasi orang untuk diajukan ke proyek besar di pusat. I think that you are capable…

“Jadi kamu yang…”

“Kamu nggak suka ya Vi? Maaf, aku kira kamu bakal senang karena ini kesempatan yang benar-benar langka Vi. Aku benar-benar minta maaf kalau kamu nggak suka.” Galih memasang wajah innocentnya sambil memohon maaf.

“Nggak Lih, aku bukannya nggak suka, aku masih kaget aja. Rasanya aku baru aja ngerasa bisa deket sama anak-anak. Ternyata aku harus pindah dan ngadain pesta perpisahan. Aku malah nggak enak sama kamu, padahal kamu yang diprediksi bakal dipromosikan. Tapi, akhirnya malah aku yang pindah.”

It’s your turn. Pak Thomas itu sayang banget sama aku, nggak mungkin lah dia melepasku gitu aja! Sana kamu pergi! He..he..” Galih menggodaku sambil tertawa kecil. Aku refleks melemparnya dengan tissue.

“Udah boleh diumumin nih! Kapan pestanya?”

“Boleh…Mmm…lusa deh! Tapi…kamu nggak bisa ikut dong…”

“Ntar buat aku special dong! Aku kasih tau yang lain ya!” Galih meninggalkanku begitu saja dan langsung memberitahuan berita kepindahanku ke seluruh pegawai di ruangan A3 B ini.

***

”Sore! Vias, ini Pak Thomas. Kamu sudah jalan pulang ya?”

”Iya Pak.” Aku melirik ke arah Galih yang sedang menyetir. Kami memang baru menyelesaikan kroscek final untuk presentasi besok. Galih sekalian mau pamitan ke orangtuaku, yah belakangan ini dia lumayan sering muncul di rumah karena pekerjaan yang aku lakukan memang sangat dinamis. Jika ada perubahan tiba-tiba di lapangan, Galih dan aku harus mengubah konsep atau rencana teknis tiba-tiba. Orangtuaku sih sudah mulai terbiasa dengan laki-laki yang tiba-tiba datang dengan intens lalu pergi begitu saja, karena mereka tahu it’s all about my job.

”Kamu sedang bersama Galih?”

”Mm, iya Pak. Ada apa ya?” Galih mulai melirikku dan memasang wajah penuh tanya.

“Sebenarnya gini Vi, ada perubahan yang cukup mendadak sore tadi. Sebenarnya rencana proyek ini sudah lama, tapi hal yang baru saya terima cukup mengejutkan.” Aduh, Pak Thomas membuatku penasaran, ada apa sih sebenarnya.

“Bisa saya bicara dengan Galih juga?”

“Oh, iya sebentar Pak.” Aku mengubah mode dengar ponselku ke loudspeaker. Galih memencet tombol off untuk menghentikan siaran radio informasi jalan raya yang sejak tadi dicermatinya.

”Ada apa Pak?” Galih membuka pembicaraan.

”Ini, kalian pernah dengar proyek sertifikasi untuk produk kita yang baru?”

”Ya, saya pernah melihat beberapa orang dari divisi IT mendesain label dan menyesuaikan beberapa spesifikasi teknis untuk sertifikasi itu.” Galih terus menyetir, sesekali memperlambat kendaraannya. I ever think that he’s sequential, but I was wrong. He’s real parallel.

“Kamu Vias?”

“Iya, saya pernah diajak berdiskusi masalah survei kepuasan pelanggan untuk kebutuhan sertifikasi itu.”

“Baguslah, sepertinya kalian cukup paham.” Aku dan Galih mengerutkan dahi, apa maksudnya?

”Begini Vias, sebelumnya saya minta maaf. Rencana kepindahan kamu sepertinya agak sedikit berubah. Kamu dan Galih diminta untuk menyelesaikan proyek sertifikasi ini, karena tidak kunjung selesai dan sudah sangat jauh melewati target. Akibatnya ada sedikit kebocoran dana dan ini sedikit meresahkan divisi accounting. Bagaimana?”

”Jadi intinya?” aku masih tidak paham.

”Kalian berdua akan dikirim ke kantor pusat sampai proyek ini selesai dan dipindahkan sementara ke tim sertifikasi.”

”Kapan kami harus mulai siap-siap?”

”Untuk proyek ini sih diminta secepatnya, tapi saya rasa tidak ada salahnya kalau kalian refreshing dulu akhir pekan. Jujur saja, kalian workaholic, tapi orang-orang di tim sertifikasi tidak sehomogen disini, jadi saya rasa setelah presentasi final besok kalian berdua boleh libur dulu sampai selasa, cukup?”

”I’ve proposed it Sir!” Galih tertawa kecil. Yah, tentu saja, dia kan memang mengambil cuti untuk pulang.

“Saya juga Pak?”

“Yah, saya rasa cukup adil. Kalian sudah bekerja keras.”

”Saya hanya berusaha membayar cuti saya beberapa waktu yang lalu. Galih yang mengerjakan semuanya.” aku sedikit menggumam.

”Hei, I’m okay. I think you need it too. Kamu belum benar-benar fit kan? Jangan terlalu memaksakan diri.”

”Saya setuju Vi, kamu masih yang terbaik kok! Kamu juga Galih…” kami tertawa bersamaan.

”Okey, I’ll take it, Sir! I don’t wanna lose it” Galih mengambil keputusan kilat.

“I’m not a loser too!!” aku memandang ke arah Galih, dia membalas dan mengacungkan ibu jarinya.

”Okey kids! I’m proud of you…nikmati liburannya ya…” pak Thomas memutuskan sambungan teleponnya.

“So, sepertinya ada yang mau merencanakan untuk liburan nih!”

“Hm…, sepertinya maen bareng Fariz asyik juga. Aku kan udah lama nggak maen bareng dia.”

Nice, nggak ke kebun teh lagi?”

”Hei, kamu tahu darimana masalah kebun teh?”

”Aku kebetulan ada disana waktu itu, lagi survei tempat untuk acara reuni tim proyek SAM di divisi IT dulu. Eh, aku nggak sengaja lihat kamu.”

”Wah, aneh banget. Kamu bukan sengaja nguntit kan? Aku jadi serem nih!”

”Aku nggak seiseng itu kok Vi! Imajinasi kamu oke juga! Ha..ha..” Galih mempercepat laju Ford Escapenya. Aku langsung manyun, sialan Galih, pasti nanti aku balas. Uff, aku mulai childish.

”Kamu masih intens ya berhubungan sama anak-anak IT?”

”Maksud kamu? Siapa…Ngomong aja…”

”Ya semuanya lah…, emangnya ada siapa?” Hm… sepertinya menjurus ke seseorang. Tapi bukan aku yang memancing, dia yang mulai.

“Ya, nggak semuanya sih. Sebagian masih sering bertukar fikiran masalah IT. Gimanapun basisku kan dari IT Vi!”

”Fatma?”

”Iya, masih.” Galih menjawab dengan wajah biasa saja. Entah memang ia menganggap hal ini biasa saja, atau dia sudah mempersiapkan dengan lihai mimik wajah biasa saja untuk menutupi air muka yang mungkin akan membuatku curiga. Yang aku tangkap, dia tidak ingin membicarkan ini lebih jauh.

”Selvi?”

”Iya, siapa sih yang bisa lepas dari Selvi, dia itu kan orang yang tidak bisa dilupakan dengan mudah. Memaksa orang untuk terus memberikan semua informasi padanya.”

”Yeah, everyone know it! You like her!”

“Yah, rasanya nyaman aja ngobrol bareng dia. Tipe pengorek info, aku mungkin sudah terjebak. She distracts me easily.”

“You do!! He..he….” aku puas melihat Galih merasa nyaman ngobrol denganku saat ini.

“Masalah Fatma, aku nggak tahu Vi. Aku hanya membuka sedikit pintu dan membiarkan orang-orang mengintip kedalam, tapi belum ada yang benar-benar masuk ke dalam. Mungkin masih menunggu waktu yang tepat.”

Aku terkejut Galih membicarakan masalah ini. Mudah-mudahan tidak ada maksud apa-apa. Aku menganggap secara tidak langsung dia memberitahukan tiga hal. Pertama, dia masih sendiri, dua, hubungannya dengan Fatma mungkin sama dengan wanita lainnya, dan tiga, dia ingin mengatakan bahwa dia belum ingin menjalin hubungan dengan siapa pun. Cukup cerdas dan penuh perhitungan, tidak tetutup, tapi juga tidak terbuka. Galih seperti menebak perasaanku dengan sangat hati-hati, dengan halus menolakku saat ini, tapi juga mendeklarasikan bahwa penolakannya bukan karena ada seseorang dihatinya. Tapi, aku sendiri juga tidak tahu, apa aku suka pada Galih, atau menunjukkan tanda-tanda menyukainya sampai dia memasang batas seperti ini padaku. Aku tidak benar-benar peduli. Seperti yang pernah aku katakan, untuk hubungan antara orang sepertiku dan orang seperti Galih pada akhirnya kami hanya partner kerja.

”Beri tahu aku ya!” aku tergoda untuk tahu siapa wanita itu, yang berhasil masuk ke dalam, hatinya.

”Kalau sudah saatnya? Tentu saja, kamu juga bukan tipe orang yang gampang dilupakan kok! Sudah sampai nih. Aku sepertinya harus langsung pulang. Salam saja buat om dan tante, nanti malam aku telepon deh.” Galih memutuskan untuk tidak jadi mampir.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s