Vanish (Part 2)

Dua

“Vias, thanks ya untuk semuanya,” Faras menjabat tanganku seusai resepsi. Rizal sedang sibuk dengan pihak hotel.

“Ras, kalian berdua itu sahabat terbaikku. Ini semua tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kebahagiaan kalian,” aku menggenggam tangan Faras.

“Kalau tidak ada kamu Vi, mungkin aku tidak akan pernah tahu perasaan Rizal yang sebenarnya dan aku mungkin tidak akan bertahan untuk menunggu dia. Terima kasih untuk jadi sahabat Rizal selama ini. Aku tahu, dia sangat menyayangi kamu dan Chandra.” Faras tersenyum, sangat manis. How lucky you are, Zal!

“Asal kamu tidak cemburu saja!” aku tertawa kecil

“Bagaimanapun aku tak akan pernah bisa menggantikan kedudukan kamu di hati Rizal, aku yakin itu Vi. Persahabatan kalian lebih kuat. Mungkin sama seperti saat aku bersahabat dengan Hendra sebelum dia meninggal.” Faras berkaca-kaca.

Hendra adalah sahabat Faras, mungkin sama seperti aku, Rizal dan Chandra, hanya saja Hendra adalah tipe orang yang tidak bisa dengan mudah diterima oleh teman-teman yang lain. Seorang yang sangat egois, pendapat umum. Ia hanya mampu ditaklukan oleh Faras yang super lembut. Banyak yang menyangka mereka pacaran, tapi akhirnya Faras bercerita padaku bahwa Hendra begitu karena tekanan yang ia dapatkan dari keluarganya. Sejak kecil ia merasa kehadirannya tidak diharapkan. Bahkan pada awalnya Rizal sangat tidak menyukainya, entah karena cemburu atau karena ketidakcocokan chemistry antara mereka. Hendra meninggal tahun lalu karena kanker otak yang dideritanya. Faras sangat terpukul.

“Tenang saja Ras, Rizal sangat mencintai kamu, aku tahu itu. Dia berjuang sangat keras untuk memendam perasaannya selama tiga tahun. Aku yakin dia tidak akan menyia-nyiakan kamu. Tentang Hendra, aku turut berduka cita. Aku tidak menyangka dia pergi secepat itu.” Aku melepaskan genggaman tanganku.

“Hendra memang tidak sepopuler Chandra dan Rizal ketika di kampus. Tapi dia sahabat yang sangat mengerti aku. Dia yang selalu menyemangatiku saat aku maaf, kadang cemburu padamu.” Faras tersenyum lagi.

“Faras…Faras…, semoga kalian menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah wa rohmah. Rizal sekarang milikmu, jaga dia baik-baik karena dia sudah berjuang sangat keras mendapatkanmu.” Aku beranjak, karena melihat Chandra berjalan ke arahku.

“Aku pulang ya, Chandra sepertinya sudah selesai.” Aku melambai ke arah Chandra.

“Vi, boleh tanya sesuatu? Kapan kamu menyusul? Kelihatannya Chandra tidak terlalu buruk.” Faras tersenyum ke arah Chandra. Entah kenapa tiba-tiba aku jadi merasa aneh, darahku berdesir.

“Entahlah Ras, aku masih belum memikirkan hal itu. Apalagi sejak pertunanganku yang gagal beberapa bulan yang lalu. I still haven’t found my soulmate.” Aku tersenyum dan berpamitan pada Faras.

Aku ingat tiga bulan yang lalu, aku akhirnya membatalkan pertunanganku dengan Irwan, seseorang yang oleh takdir dipertemukan denganku diantara bermilyar-milyar laki-laki di dunia. Aku memang mengenal Irwan lebih dahulu dari sebuah proyek. Tapi aku wanita, aku bisa melihat beberapa hari sebelum pertunangan kami Irwan gelisah, aku juga melihat bagaimana sikapnya selama beberapa minggu terakhir di kantor. Karin, dari divisi IT aku melihat betapa Irwan sangat nyaman bersamanya. Aku tidak cemburu, karena aku tahu bagaimana rasanya memendam perasaan itu. Aku tak ingin malah jadi penghalang antara mereka berdua.

Chandra dan Rizal sangat menyesalkan sikap Irwan, aku tahu mereka sangat kecewa, tapi ini pilihanku. Aku tidak ingin egois, aku percaya mungkin dia bukan untukku. Saat ini Irwan dan Karin sudah bertunangan, aku yang memaksa mereka, karena dua minggu yang lalu Karin mengadu padaku bahwa sebenarnya ia sudah hamil. Aku sedikit bersyukur itu tidak terjadi padaku. Apa kata orang tuaku…

“Hei, diam saja! Untung aku tidak ketiduran, ngantuk nih! Mikirin apa sih!” Chandra membuyarkan lamunanku.

“Irwan?” Chandra seperti biasa sangat akurat membaca pikiranku.

“Karin bilang dia hamil, dan mungkin bulan depan dia harus menikah,” aku tersenyum dan melihat ke arah Chandra.

“Memang sialan si Irwan!” Chandra memukul setir.

“Bersyukurlah Ndra bukan aku yang mengalami hal itu,” aku tersenyum.

“Kalau sampai dia melakukan hal-hal yang menyakiti kamu aku tidak akan tinggal diam,” Chandra geram.

“Hei, apa yang terjadi pada Karin aku rasa karena kesalahan mereka berdua, bukan hanya salah Irwan. Lagipula dia mau bertanggung jawab kan?” aku sedikit protes.

“Kamu sudah berhasil menemukan Saras? Ibumu sudah berkali-kali bertanya padaku tentang siapa wanita yang dekat denganmu selain aku. Aku tidak bisa menjawab apa-apa Ndra! Bahkan Faras pun menanyakan tentang kita, aku tidak bisa mengatakan apapun.” Aku menatap jalan raya yang semakin pekat.

“Aku sudah mencarinya kemana-mana Vi, tapi mungkin kami memang belum berjodoh. Mungkin kamu benar bahwa Saras hanya obsesiku.” Chandra memelas.

“Jangan menyerah dulu, dia itu cinta pertamamu. Mungkin setelah sedetik kau menyerah, dia datang. Saat itu kau akan menyesal Ndra.”

“Sudahlah Vi, kamu ini memang terlalu baik. Masalah ibuku biarkan saja. Eh, aku serius loh, kalau dalam dua tahun kamu belum menikah juga aku akan melamar kamu.” Chandra tersenyum. Lagi-lagi darahku berdesir.

“Kenapa harus menunggu dua tahun? Ha..ha..kamu sudah lelah ya harus menjagaku terus. Maaf Ndra, nanti kalau kamu sudah punya istri aku akan meminta maaf padanya karena sudah mengeksploitasi masa-masa primamu untuk jadi bodyguardku.”

“Vias..Vias…dasar orang aneh!” Chandra menghentikan mobilnya tepat di depan rumahku.

“Eh, aku sepertinya akan sangat sibuk seminggu ini soalnya ada beberapa pekerjaan yang aku tunda untuk persiapan pernikahan Rizal kemarin jadi aku tidak bisa menemanimu check up. Awas kalau tidak pergi lagi,” aku mengacungkan telunjukku ke arah Chandra.

“Iya..iya…cerewet! aku duluan ya, ngantuk nih!” Chandra tidak keluar dari mobilnya. Aku melambaikan tangan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s