Vanish (Part 3)

Tiga

“Vi, kamu sedang sibuk tidak?” aku mendengar suara Chandra yang agak parau seperti sedang menahan sakit.

“Kamu dimana? di kampus? aku langsung kesana!” Aku membereskan file-file dan meminta izin keluar.

Chandra adalah desainer grafis sejati. Dia mendirikan sekolah desain dari nol hingga lumayan berkembang saat ini. Walaupun awalnya kedua orang tuanya kurang mensupport akhirnya setelah proyek terbesarnya dengan salah satu bank terkemuka berhasil dan membuahkan sebuah sedan kesayangannya itu, orang tuanya mulai mengakui kerja keras Chandra.

“Ndra! Aku di depan nih, kamu masih di studio?” Chandra mengiyakan. Aku berjalan sedikit tergesa-gesa. Kampus masih sepi karena yang lain sedang keluar untuk presentasi proyek.

Aku menemukan Chandra yang berbaring di sofa sambil memegangi perutnya.

“Maaf Vi, aku bingung harus menghubungi siapa. Anak-anak sedang keluar semua. Rizal, aku tahu sedang ke rumah keluarga Faras di luar kota, aku tidak ingin mengganggu dia dulu.”

“Sudahlah! kamu pasti belum check up!” Chandra sempat-sempatnya meringis seperti merasa tidak bersalah. Aku sempat meminta bantuan supir taksi yang aku sewa tadi untuk memapah Chandra ke mobil.

Setelah berterima kasih dan membayar taksi aku segera membawa Chandra ke rumah sakit. Aku cemas, apalagi melihat Chandra yang kelihatan begitu tersiksa. Sejujurnya aku panik, tapi aku berusaha menutupi kepanikanku.

Akhirnya Chandra langsung ditangani di UGD dan setelah hampir tiga jam baru dokter keluar dari ruangannya. Aku tidak menghubungi keluarga Chandra, karena kondisi ibunya saat ini juga agak sedikit rentan. Lagipula keluarganya ada di luar kota, Chandra juga melarangku menghubungi Rizal dan Faras. Aku tahu, dia tidak ingin merusak kebahagiaan mereka berdua. Saat ini belum genap dua minggu sejak resepsi pernikahan mereka.

Aku akhirnya diperbolehkan untuk masuk ke ruangannya. Aku tidak tahan melihat wajah pucat Chandra ditemani selang-selang infus. Tak sampai dua menit aku menyaksikan penderitaan Chandra air mataku menetes. Aku merasa tidak berguna, tidak dapat sedikit saja meringankan rasa sakitnya. Chandra masih sadar, aku berusaha menyembunyikan air mataku dengan memaksakan diri untuk tersenyum.

“Vi, thanks ya!” Chandra terbata-bata.

“Shh..sudah kamu jangan banyak bicara dulu. Tenang, aku tidak memberitahu siapa pun. Aku juga sudah meminta Galih mengambil alih pekerjaanku . Kamu istirahat saja tidak usah memikirkan hal lain. Konsentrasi untuk kesembuhanmu.” Chandra mengangguk lemah

“Aku pergi dulu nanti sore aku kesini lagi.” Aku meninggalkan Chandra untuk menemui dokter dan mengurus administrasi.

***

“Sepertinya ginjalnya sudah sangat bermasalah. Sebaiknya Anda mencarikan orang yang mau mendonorkan ginjalnya untuk Saudara Chandra.”

“Akan saya usahakan dok!” aku tertegun, donor ginjal? Aku tidak mungkin memberitahu orang tua Chandra, lagi pula kedua orang tuanya sudah uzur, Chandra adalah anak tunggal.

“Apa Anda bisa memeriksa saya terlebih dahulu?” aku mengajukan diri. Dokter Fauzi mengangguk. Hanya ini yang dapat aku lakukan untuk Chandra, untuk selalu ada saat aku sedang butuh seseorang, untuk selalu tersenyum saat aku butuh semangat, untuk menjadi dewasa saat aku sedang childish.

***

“Vi, kamu kemana saja? Sudah dua minggu kamu dan Chandra tidak bisa dihubungi. Aku curiga nih, pasti ada yang kalian sembunyikan.” Rizal menemuiku saat makan siang dua minggu setelah operasi ginjal Chandra.

“Aku sibuk Zal, aku sengaja tidak mengaktifkan nomor yang biasanya karena beberapa minggu yang lalu aku mendapat relasi dari Singapura, jadi tagihan agak membengkak kalau menggunakan kartu yang lama. Chandra tadi malam baru sms, dia masih sibuk dengan proyeknya. Mungkin minggu ini dia akan pulang kampung katanya kangen sama ibunya.” Aku mengambil sepotong black forest kesukaanku.

“Yang penting kalian baik-baik saja, karena perasaanku dari kemarin tidak enak.” Rizal melahap brownies kesukaaannya.

“Bagaimana keluarganya Faras? Kamu diterima?” aku sedikit mengalihkan pembicaraan.

“Gila! Aku jadi bingung semua sama lembutnya, alhamdulillah aku diterima dengan baik. Wah sudah setengah jam, aku duluan ya!” Rizal meminum tegukan terakhir cappuchinonya sambil beranjak.

***

“Vias, please beri tahu aku siapa yang mendonorkan ginjalnya! Aku ingin berterima kasih.” Chandra merengek-rengek lewat telepon.

“Ndra, itu privacy pendonor. Sudahlah, yang penting kamu sekarang jaga ginjal pemberian orang itu baik-baik. Bagaimanapun itu amanah. Jangan lupa oleh-oleh, salam untuk ibu dan bapak, semoga cepat sembuh.” Aku buru-buru menutup telepon.

Ada sedikit perasaan bersalah menyembunyikan semua ini dari Rizal dan kedua orang tua Chandra, bahkan aku juga menyembunyikan sesuatu dari mereka semua. Semua ini karena aku sangat mencintai mereka.

***


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s