Vanish (Part 4)

Empat

“Vias, Faras sekarang sudah di rumah sakit bersalin. Kamu mau aku jemput?” Chandra menawarkan tumpangan lewat telepon.

“Ya sudah kamu langsung ke rumah, sekarang sudah lumayan larut. Aku tunggu ya!” aku menutup telepon dari Chandra.

Hari ini kandungan Faras belum genap sembilan bulan sepuluh hari, tapi sepertinya Faras akan melahirkan malam ini. Aku dan semua orang yang mengharapkan kelahiran bayi itu berdoa agar Faras baik-baik saja, karena kondisinya agak buruk beberapa hari ini.

“Vi, Ndra, sudah lahir! Perempuan!” Rizal berteriak saat kami datang. Ia langsung memeluk Chandra. Aku langsung menemui Faras, wajahnya sangat pucat. Dokter sudah pergi dari ruangan, hanya ada beberapa perawat yang sedang membereskan peralatan yang dipakai saat bersalin.

“Selamat Ras! Pasti dia secantik kamu! Aku menggenggam tangan Faras, sangat dingin, tapi masih terasa basah dengan keringat. Aku sesaat memandang ke selimut Faras, darah, aku melihat darah, sangat banyak!

“Suster…darah…, aku melepaskan genggaman tanganku dari Faras. Aku panik, perawat itu segera memeriksa Faras. Tak lama kemudian dokter Diah masuk dan menangani Faras.

Blooding, sepertinya harus segera dioperasi. Tolong Saudara Rizal ikut saya sebentar.” Dokter Diah berusaha memberitahu kami apa yang sedang terjadi, tapi entah kenapa aku masih panik. Air mataku tak henti-hentinya mengalir, aku sempat berfikir, kenapa aku harus terus-terusan melihat penderitaan orang-orang di sekitarku. Hanya Chandra yang tenang, ia membawaku keluar. Aku melihat orang tua Faras yang juga cemas, apalagi setelah Rizal keluar dari ruangan dr. Diah dengan wajah linglungnya.

“Rahimnya!” aku sayup-sayup mendengar Rizal berulang kali mengucapkan kata itu kepada orang tua Faras. Aku dan Chandra berpandangan. Beberapa menit kemudian Faras dibawa ke ruang operasi. Setelah hampir satu jam dan kami masih belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi akhirnya Rizal menghampiri kami.

“Rahimnya harus diangkat, Faras pendarahan.” Rizal menghela nafas sangat panjang.

“Diangkat?” aku bertanya pada diriku sendiri. Itu sama saja mengambil harta paling berharga milik Faras. Aku teringat wajah mungil Fathiyya, nama yang selalu Rizal gunakan untuk memanggil bayi itu ketika masih dalam kandungan. Benar-benar suatu kesyukuran Tuhan telah menyelamatkan Fathiyya untuk Faras dan Rizal. Yang dapat aku lakukan sekarang hanya berdoa semua cobaan ini berakhir seiring dengan berakhirnya malam.

***

“Vi, Ndra, aku mohon jangan beritahu Faras apa yang telah terjadi malam ini. Aku tidak ingin dia merasa kekurangan apapun.” Rizal memohon padaku dan Chandra setelah operasi pengangkatan rahim Faras berhasil dilakukan.

“Tapi Zal, akan lebih menyakitkan kalau dia tahu dari orang lain!” Chandra protes.

“Menurutku Faras harus tahu, tapi cari waktu yang tepat untuk memberitahunya. Bagaimanapun ia berhak tahu karena itu menyangkut privasinya.” Aku menimpali.

“Baiklah, tapi biar aku saja yang memberitahunya. Terima kasih untuk ada di saat-saat yang sulit.” Rizal melelehkan air mata.

“Hei, kamu fikir kami siapa? Tidak usah terlalu melankolis seperti itu,” Chandra menepuk-nepuk punggung Rizal. Aku hanya bisa tersenyum, sebenarnya dadaku juga sesak. Apa saat aku mengalami cobaan seperti Rizal masih ada orang-orang yang bersedia menemaniku? Entahlah semua ini adalah bagian dari janjiku, untuk selalu ada…

***


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s