Vanish (Part 5)

Lima

“Vi, ini sudah hampir dua tahun…” Chandra tiba-tiba mengirim sms yang membuatku terkejut.

Aku tidak membalas smsnya. Aku ingat perkataan Chandra saat resepsi penikahan Rizal dan Faras. Aku tidak terlalu menghiraukan perkataanya, walaupun berulang kali Chandra mengatakan kalau dia serius.

Aku bukan tidak ingin mempercayai apa yang ia katakan. Kami sudah hampir lima tahun bersama, entah apa pun namanya perasaan itu aku tidak pernah keberatan jika Chandra akhirnya menjadi suamiku. Tapi aku harus menepis perasaan-perasaan seperti itu, karena aku tahu Chandra masih mengharapkan Saras, wanita yang sangat beruntung menjadi cinta pertamanya. Aku tahu seberapa besar obsesinya terhadap Saras, sumber inspirasi beratus-ratus karya abstraknya di dunia maya.

Chandra adalah sahabatku, ia dan Rizal dua orang yang paling aku percaya, yang selalu ada saat aku terjatuh. Jika aku menikah dengan seseorang nanti, aku ingin suamiku mengerti tentang persahabatan kami. Entah sampai kapan tapi mereka punya tempat istimewa dihatiku, yang mungkin tak pernah berubah.

Aku tahu, Chandra menghawatirkanku. Mungkin ia tidak ingin aku terluka lagi. Ia juga mungkin sudah lelah terus menghawatirkanku. Aku juga tak ingin terus menerus seperti ini.

Aku sudah berusaha mencari sosok lain, my soulmate. Orang yang diciptakan untukku, yang sesuai standarku, who really makes me fall in love at first sight. Aku sempat berfikir tentang Galih, rekan kerjaku. He’s handsome, single, berpengaruh, down to earth, baik. Kadang aku berusaha untuk mencoba menyukainya, tapi ketika aku melihat Irwan, aku entah kenapa sedikit jadi pesimis. Irwan yang begitu innocent, tapi akhirnya? Apa aku menyesali sikapku? Mungkin saat itu aku berfikir aku masih mempunyai Rizal dan Chandra, tapi sekarang aku mulai berfikir lagi, mereka punya kehidupan masing-masing. Aku tidak boleh bimbang seperti ini, this is the way I must pass.

“Halo, kenapa Zal?” aku mengangkat telepon dari Rizal.

“Ini aku Vi!” aku mendengar suara Chandra.

“Eh, maaf aku belum membalas…”

“Sudahlah, itu tidak terlalu penting, aku hanya ingin memberitahu Fathiyya sekarang ada di UGD dia kejang. Faras sekarang pingsan. Sepertinya Rizal stress berat. Kamu bisa kesini sekarang? Aku tunggu!” Chandra menutup teleponnya tidak lama setelah aku mengiyakan. Ya Tuhan, cobaan apa lagi ini. Fathiyya baru berumur enam bulan.

“Bagaimana keadaan Fathiyya? Faras?” aku langsung memberondong Chandra dengan pertanyaan-pertanyaanku.

“Fathiyya masih di UGD, Faras belum sadar. Rizal sepertinya ke musholla.” Jawab Chandra datar. Aku tahu dia masih kecewa, mungkin karena aku tidak menjawab smsnya.

“Maaf soal tadi Ndra! Aku sedang berfikir kalau …”

Never mind! Aku tidak apa-apa Vi! Mungkin kita kan bicarakan ini lagi setelah semua keadaan membaik.” Chandra berusaha tersenyum, aku jadi semakin merasa bersalah.

“Bagaimana Fathiyya Dok!” aku dan Chandra menghampiri dokter.

“Maaf, sepertinya sudah terlambat, kami sudah berusaha.” Dokter itu berlalu begitu saja.

Otakku tiba-tiba jadi lamban, sepertinya sedang terjadi traffic jammed, aku masih mencerna perkataan dokter tadi, setelah hampir tiga puluh detik baru syaraf refleksku bekerja. Aku langsung lemas, Chandra masih stabil, ia membantuku duduk. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada Faras jika ia sadar. Aku tidak bisa membayangkan seberapa parah tingkat stress yang akan dialami Rizal, aku masih tidak mempercayai apa yang baru saja aku dengar, Fathiyya, satu-satunya yang diberikan Tuhan kepada Faras dan Rizal, pergi?

Aku ingat saat pertama kali Fathiyya tersenyum, aku dan Faras ada disana. Aku ingat saat Rizal pertama kali memotong rambut hitam lebat dari kepala mungilnya. Ia sangat cantik, secantik Faras. Fathiyya yang begitu disayangi Rizal, permata hati satu-satunya. Yang hanya sesaat dititipkan Allah, yang memberikan begitu banyak memori dan kebahagiaan pada semua orang yang pernah melihatnya di dunia.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s