Vanish (Part 6)

Enam

“Vi, ada waktu? Aku ingin bicara, kalau bisa berdua saja” Faras tiba-tiba mengajakku keluar setelah hampir enam minggu kami tidak bertemu.

“Dua puluh menit lagi Ras, aku harus menyerahkan beberapa laporan untuk diproses plus aku belum sholat. Kamu duluan saja ke tempat biasa nanti aku menyusul. See you…” Aku mematikan sambungan telepon genggamku dan membatalkan janji untuk betemu klien. Ada apa ya?

“Vi, bagaimana kabarmu?” Faras memulai pembicaraan.

“Baik, kamu sendiri bagaimana Ras?”

Faras terdiam agak lama. “Aku…” Faras tiba-tiba berkaca-kaca.

Aku mencoba menebak-nebak apa yang membuat Faras berkaca-kaca. Kemungkinan besar tentang Fathiyya. Aku jadi merasa bersalah karena selama beberapa minggu ini memang sangat sibuk, sehingga tidak sempat mengunjugi Faras yang mungkin sangat membutuhkan teman berbagi.

“Aku hancur Vi, aku sudah kehilangan segalanya…”

“Apa maksudmu Ras?”

“Kau sudah tahu kan Vi! Aku…aku…sudah tidak utuh lagi..,” Faras sekarang sudah terisak.

Aku mulai memahami apa yang membuat Faras menjadi sangat rapuh.

“Rahimku Vi, hartaku yang paling berharga..,”

Aku berdiri dan memeluk Faras. Ada perasaan sedih, benci merasa bersalah, semuanya campur aduk.

“Aku minta maaf Ras, aku turut menyembunyikannya.”

Aku mengutuk diriku sendiri, rasanya ingin sekali memaki-maki Rizal karena keputusan yang diambilnya. Tapi, aku langsung mengubah sudut pandang. Seandainya aku berada di posisi Rizal aku juga pasti akan melakukan hal yang sama.

“Kapan Rizal memberitahumu?” aku melepaskan pelukanku.

“Kemarin malam, aku shock! Aku tidak berbicara dengannya sampai sekarang.”

“Ras, Rizal mungkin memilih diam selamanya jika tidak terjadi apa-apa dengan Fathiyya, walaupun dia sudah berjanji akan memberitahumu secepatnya. Dia sangat menyayangimu Ras, dia tidak ingin kau terluka sekecil apapun. Aku tahu Ras, dia sangat tersiksa dengan keputusan malam itu, situasinya sangat sulit.” Aku menatap Faras yang masih terisak.

“Aku tahu Vi, aku tahu Rizal sangat mencintaiku, memberiku segalanya. Tapi rasanya tidak adil, karena aku tidak bisa memberikan apapun. Semuanya hanya sekejap…Fathiyya…dia satu-satunya, dan…pergi.”

“Ras, Fathiyya bukan milikmu, bukan milik Rizal, bukan milikku, Chandra, Om Firman atau siapapun. Fathiyya milikNya,” aku menunjuk ke langit-langit kafe.

“Dia berhak mengambilnya kapan saja. Kamu tahu Ras, kamu masih memiliki Rizal, dan dia membutuhkanmu. Dia membutuhkan ketegaranmu untuk menjalani semua ini. Jika ada orang yang paling tersiksa akan semua ini, dia adalah Rizal. Semakin kamu lemah, Rizal akan semakin merasa bersalah, dan itu akan semakin menyiksa. Kamu tahu rasanya menyakiti orang yang paling kamu cintai? Jadi Ras, tolong tegarlah…, dan maafkan dia, aku, kami semua.”

Sesaat hening, Faras hanya termenung menatap gelas berisi lemon tea yang sejak tadi tidak tersentuh.

“Vi, kadang aku berfikir, kenapa Rizal tidak menikah denganmu saja. Kau sangat mengerti dia, kau tahu apa yang harus kau lakukan untuknya, dan mungkin Rizal akan lebih bahagia.”

“Faras! pemikiran bodoh apa itu!” aku memandang Faras tajam, dia masih menunduk.

“Rizal mencintaimu Ras! Rizal suamimu, diciptakan untukmu dengan segala kekurangan dan kelebihan yang harus kau terima. Jadi jangan berfikiran bodoh seperti itu. Aku minta maaf jika mungkin terlalu banyak tahu tentang Rizal, tapi aku tidak pernah bermaksud apapun Ras. Percayalah, dia mencintaimu, apa itu tidak cukup?”

“Apa tidak pernah sedetik pun terbersit dalam hatimu untuk memiliki Rizal?” Faras mengangkat wajahnya.

Aku terdiam sesaat, Faras masih menanti jawabanku.

“Ras, aku wanita, aku manusia, aku tidak mau munafik, kamu pasti sudah tahu jawabannya. Tapi apapun perasaanku sekarang, itu tidak penting. Yang terpenting adalah Rizal mencintaimu, dia membutuhkanmu. Jika kamu benar-benar mencintai dan mempercayai Rizal apapun perasaanku tidak akan berpengaruh kan?”

“Ras, satu hal lagi. Aku menyayangi kalian berdua dan mungkin akan melakukan apapun agar kalian bahagia.”

“Menjadi istri kedua Rizal sekalipun?” Faras menyelaku. Aku…shock! Faras, apa dia tidak memikirkan terlebih dahulu apa yang baru saja dia katakan?

“Ras, aku rasa kamu masih kacau. Sebaiknya aku mengantarmu pulang.” Aku berdiri dan membereskan barang-barangku. Faras ikut berdiri.

“Aku tidak kacau Vi, aku harap kamu memikirkannya. Aku pulang sendiri saja. Terima kasih atas waktumu.” Faras tersenyum sambil menyeka airmatanya dan meninggalkanku terpaku.

Aku tidak percaya dengan apa yang baru saja aku alami. Faras? Aku jadi merasa tidak mengenalnya. Apa dia sungguh-sungguh? Aku tidak percaya dia melakukan ini padaku. Menyiksaku, menyiksaku dengan perasaan seperti ini. Chandra, aku ingin bertemu dengannya, mataku panas. Entah perasaan sesak apa ini, aku seperti dipermainkan, dilecehkan? diuji? Aku tidak mengerti dengan perasaanku sendiri. Ada bulir-bulir air mata menetes sedikit demi sedikit di pipiku. Faras, apa dia cemburu? Tapi melakukan hal sekejam itu? Padahal aku sangat menyayangi dia dan Rizal. Kenapa seperti ini?

“Ndra, kamu dimana? Masih di kampus? Aku kesana ya!”

“Hm? Enggak, aku enggak apa-apa, hanya tiba-tiba ingat kamu.”

Aku meninggalkan kafe dan menuju studio kecil Chandra. Seharusnya hanya 30 menit, tapi aku sengaja agak memutar. Aku ingin menenangkan diri dulu.

Aku tidak menyangkal, aku pernah menyukai Rizal. Tapi entah kapan itu, aku juga lupa. Yang pasti aku menyayanginya, sama seperti pada Chandra. Bagiku, persahabatan ini lebih dari segalanya, bahkan perasaanku sendiri. Jujur, saat Rizal bercerita tentang Faras aku mulai merasa kehilangan. Tapi aku menepisnya, karena itu haknya. Itu hak Rizal menyukai siapa pun. Aku juga tahu, jika perasaan itu memang ada diantara kami bertiga, mungkin kami hanya akan saling melukai diri sendiri sampai perasaan itu pergi dan persahabatan ini tinggal satu-satunya alasan yang mengikat kami.

Chandra, pertanyaannya tentang perasaanku.., aku tidak tahu apakah aku berhak memiliki perasaan itu padanya, sementara aku tahu Chandra menantikan Saras. Aku tidak boleh tidak adil kan? Aku tahu aku terkadang menyakiti diriku sendiri, tapi…lagi-lagi aku hanya ingin persahabatan ini utuh. Akan lebih adil buatku jika Chandra mendapatkan Saras, dan Tuhan mengirimkan seseorang yang ditakdirkan untukku, bukan salah satu dari mereka.

Aku terlalu menyayangi mereka, terlalu, sampai takut kehilangan keduanya. Mungkin Rizal tidak akan marah jika akhirnya aku memilih Chandra, karena kami sama-sama masih sendiri. Tapi, entah kenapa rasanya tetap tidak adil bagiku, seperti sebuah penghianatan. Berhianat? Entah pada apa, entah pada siapa. Bodoh! Kenapa aku jadi berfikiran sebodoh ini. Tapi, aku kalah pada pemikiran bodoh ini.

Aku akhirnya sampai di depan studio Chandra, 45 menit dari kafe. Chandra ada di dalam. Sedan kesayangannya masih terparkir di pojok. Memang selalu disana, karena Chandra lebih banyak menghabiskan waktunya di studio dari pada rumah mungil yang disewanya hanya untuk rehat. Aku masih ragu, apakah aku akan benar-benar menemui Chandra? Setelah semua yang mungkin ia rasakan? Aku mungkin lebih baik pulang saja, atau…

“Eh, Mbak Vias, kok bengong, masuk Mbak!” Fian, salah seorang staf di studio memergokiku yang mematung di depan pintu.

“Eh,” hanya kata itu plus senyuman kecil yang keluar dari bibirku.

“Mas Chandra!! Ada Mbak Vias nih !!” Fian berteriak sangat keras. Aku ingin mencegahnya, tapi sudah telat. Sepuluh detik kemudian Chandra setengah berlari sudah ada di hadapanku dengan senyuman sejuta wattnya.

“Kok lama? Kamu bukannya dari kafe?” Chandra memeriksa arlojinya.

“Laper nih! Kamu tadi makan nggak di kafe?” Chandra berjalan ke arah dapur sambil memegang perutnya. Aku mengikutinya ke dapur. Chandra membuka lemari dan mengambil mie instant.

“Cuma ada ini, mau?” Chandra menawariku.

Aku melihat ke pojok ruangan. Ada tempat sampah yang penuh dengan bungkus snack dan mie instant.

“Ndra, jangan makan mie instant lagi. Kamu sudah tiga hari tidak keluar dari studio kan? Tuh, tempat sampah juga sudah penuh kemasan junkfood” aku menunjuk ke pojok ruangan.

“Em…kalau begitu, kamu harus temani aku makan. Belum makan kan?”

“Iya, aku belum makan, kamu? Mereka tidak apa-apa ditinggal?” aku menunjuk ke arah studio.

“Ah, mereka sudah lebih expert. Mereka sudah besar, tidak perlu diawasi, aku percaya pada mereka. Lagipula.., aku butuh sinar matahari. Kamu tidak lihat wajahku sudah seperti drakula kekurangan darah.”

“Iya…iya…cerewet, ayo! Aku juga laper nih? Lama-lama aku makan juga kamu Ndra!” aku akhirnya tersenyum. Mungkin saat ini aku memilih untuk tidak bercerita dulu pada Chandra, karena dia sedang sibuk. Aku tahu, terkadang dia adalah orang yang sangat tenang, cenderung mengerikan. Tapi, kadang dia bisa meluap-luap saat menghadapi permasalahan tertentu.

“Kamu kenapa Vi, kok tiba-tiba ingat aku? Kamu dan Faras ngobrolin aku ya?” Chandra menggodaku sambil melahap nasi padang plus sambal udang. Makanan yang jarang disentuhnya karena sibuk.

GeeR! Bersyukur Ndra, aku masih ingat kamu. Aku sudah berbaik hati mau menyelamatkan ususmu dari karbohidrat berlebih yang membuat dinding-dindingnya saling menempel karena tiga hari nonstop harus memamah mie instant dan junkfood.”

“Iya Viastika Varna Vanisha-ku, terima kasih banyak.., aku jadi ada alasan untuk kabur dari studio, he..he… Tahu tidak? Proyekku yang terakhir benar-benar menyita otak, animasi 3D! lama, tapi aku puas. Rasanya meluap-luap ketika setiap framenya bergerak like in your mind…” Chandra mulai menceritakan tentang proyeknya. Aku tidak terlalu paham, tapi aku mengerti sedikit. Bagaimana mungkin aku bisa menghindar untuk tahu, kegilaannya terhadap desain grafis sejak kuliah memaksanya menceritakan terlalu banyak hal tentang hobinya itu. Sejujurnya aku juga tertarik sih, tapi kapasitas otak dan kreatifitasku terbatas. Untuk bisa sampai seperti Chandra mungkin butuh waktu…sepuluh tahun? Ah entahlah.

“Sudah sore, aku pulang ya!” aku berpamitan pada Chandra.

“Vi, kamu tidak ingin mengatakan sesuatu?” Chandra tiba-tiba menghentikanku yang ingin beranjak.

“Mengatakan sesuatu? Apa?”

“Kamu tidak bisa berbohong Vi…”

“Kamu aneh Ndra, aku tidak ingin mengatakan apa-apa. Kamu inginnya aku mengatakan apa? Terima kasih Chandra yang ganteng, lain kali ajak aku makan lagi ya…” aku memaksakan tersenyum. Sejujurnya aku takut, kadang aku memang tidak bisa berbohong pada Chandra. Dia suka membaca fikiranku dengan sangat akurat.

“Faras baik-baik saja kan?” pembicaraan kami tiba-tiba jadi serius.

“Baik, dia baik-baik saja”

“Lalu apa yang meresahkanmu seperti ini?”

“Memangnya aku kelihatan seperti itu?” aku menunjuk hidungku sendiri. Chandra mengangguk.

“Kamu sudah tidak mempercayaiku lagi ya Vi? Terserah kamu mau cerita atau tidak. Jika membutuhkan seseorang, just call me, aku selalu ada. OK!”

“Thanks Ndra! Kamu memang sahabat yang paling mengerti aku..”

“Tapi, kamu tidak mau aku lamar!” Chandra tersenyum menggoda.

“Itu beda chan-chan! Kalau Saras tiba-tiba datang bagaimana? Jangan-jangan aku ditinggalkan.”

“Jadi, karena itu? bagaimana kalau aku memutuskan untuk tidak menunggu dia lagi?” Chandra mencondongkan tubuhnya.

“Bagaimana ya…” aku tersenyum.

“Kamu kenal aku berapa lama Vias? Memangnya aku kelihatan sejahat itu ya?” Chandra menarik tubuhnya lagi.

“Iya…iya…kamu tidak sejahat itu, aku hanya bercanda. Kamu benar-benar ingin menikah denganku ya? Mm…beri aku waktu, satu minggu!”

“Kamu serius Vi? OK satu minggu, deal!” Chandra jadi bersemangat.

Ups, apa yang aku lakukan? Gawat, aku tidak bisa menarik ucapanku lagi. Bodoh!

“Mm…sudah deal ya? OK deh, tapi syaratnya jangan cari aku selama seminggu. Kamu sana, kembali ke habitatmu, jangan lupa sholat. Aku pulang ya!” aku beranjak.

“Curang! Tidak boleh menelpon?” Chandra ikut meninggalkan meja. Aku menggeleng.

“SMS?” Chandra masih mengikutiku. Aku menggeleng lagi.

“Tidak, beri aku kebebasan, karena aku…sudahlah! Kamu tunggu saja satu minggu lagi.”

“Vanisha…vanisha… vanish!” aku mendengar Chandra menggumam. Aku hanya tersenyum. Dia sering mengejekku vanish. Selain karena itu nama belakangku, dalam bahasa Inggris artinya adalah disappear suddenly. Jika aku mulai menghilang tiba-tiba, dia akan memanggilku vanish.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s