Vanish (Part 7)

Tujuh

Aku sekarang berada di rumah pamanku tepat di depan sebuah perkebunan teh. Disini sangat hijau, dan dingin. Hanya tiga jam dari rumahku. Mh..aku akhirnya memutuskan untuk cuti selama seminggu. Vanish! Seperti yang telah dikatakan Chandra. Tadinya partner kerjaku tidak mengizinkan, karena mereka membutuhkan seorang supervisor untuk menyelesaikan proyek yang terakhir. Tapi dengan segala macam motivasi dan alasan akhirnya aku berhasil meyakinkan mereka untuk menyelesaikan proyek ini tanpa aku.

“Teh Vi, jagung bakarnya sudah selesai nih!” Ratih, sepupuku, seorang gadis yang lahir dan dibesarkan di tengah suasana perkebunan.

“Iya, kamu duluan saja, nanti Vi kesana!”

Ratih sedang membakar jagung di halaman belakang, tepat di depan jendela kamar tempat aku berada sekarang. Ratih tersenyum, lesung pipi kecilnya sangat manis. Wah, kalau Chandra dan Rizal melihat sepupuku yang satu ini, bisa kacau dunia persilatan. He..he.., untung saja, Rizal sudah menikah. Chandra…dia tidak tahu kalau aku punya sepupu semanis ini. She’s too pure to touch.

“Kamu mau melanjutkan kemana?” aku menyantap jagung hasil bakaran Ratih.

“Ratih ingin belajar desain grafis. Ratih tertarik ke advertising. Ibunya teteh bilang teman Teteh ada yang punya sekolah desain grafis?”

“Uhuk!” aku langsung tersedak. Mama! Mana tega aku menyerahkan Ratih kepada Chandra. Bisa-bisa dia jadi sama dengan manusia super aneh itu.

“Teteh nggak apa-apa?” Ratih menepuk-nepuk pundakku.

Nggaknggak apa-apa…”

“Iya, teman Vi memang punya sekolah desain grafis, tapi belum terlalu lama berdiri. Lagipula orangnya agak-agak psycho, bisa-bisa kamu ketularan. Kenapa kamu tidak mencoba sekolah desain yang lebih terkenal?”

“Akses Ratih terbatas Teh. Kalau Teteh bersedia, carikan informasi untuk Ratih ya!” Ratih tersenyum.

“Iya, Insya Allah Vi Bantu cari.”

“Em…, Ratih curiga nih, kenapa Ratih nggak boleh ke sekolah temannya Teteh? Takut temannya suka sama Ratih ya…” Ratih menggodaku.

“Ratih!” aku mencubit lengan kecil Ratih. Wajahku memerah. Hei, kenapa aku jadi … apa itu tandanya…Chandra? Ah bodoh! Aku kesini kan untuk menenangkan hatiku, kenapa jadi begini?

“Tenang Teh, Ratih sudah punya A’ Fadhil.”

Akhirnya Ratih menceritakan tentang Fadhil, mahasiswa yang sempat Praktek Lapang di perkebunan milik pamanku beberapa bulan yang lalu. Ratih terus memaksaku untuk cerita. Dia memang tipe gadis yang tak seorang pun mampu menolak keinginannya, innocent look. Semoga ia tidak menggunakan kemampuan ini untuk hal yang buruk.

“Tuh kan benar!” Ratih menggodaku lagi setelah aku menceritakan tentang Chandra dan Faras.

“Ngapain bingung Teh, udah terima aja, A’ Chandra kedengarannya baik. Dengan begitu kan Teh Faras juga tidak akan bertanya-tanya lagi tentang A’ Rizal dan Teteh.” Ratih menanggapi ceritaku dengan polosnya.

Aku hanya tersenyum. Apa benar sesederhana itu? Tapi apakah adil untuk Chandra? Seolah-olah aku memanfaatkan dia untuk melarikan diri dari Faras. Ah, mungkin memang aku yang membuat masalah ini jadi rumit.

“Teh, Ratih ke dalam dulu ya, maghrib.” Ratih beranjak dan meninggalkanku sendiri.

Aku menatap ke langit senja, merah di atas hijau. Entah kenapa tiba-tiba terbersit satu pertanyaan bodoh dalam hatiku. Jika Chandra dan Rizal sama-sama memintaku untuk menjadi istrinya sebelum dua tahun yang lalu, sebelum Rizal menikah, dan sebelum aku tahu tentang Saras, siapa ya yang kira-kira aku terima?

Sambil berjalan masuk aku memperhatikan kebun teh dihadapanku. Kenapa ya, aku mempersulit diriku sendiri? Kenapa ya, aku menyiksa diriku sendiri? Apa sesekali aku boleh bicara dan bertindak semauku tanpa harus pusing memikirkan aturan dan perasaan orang lain? Hei, banyak yang harus aku fikirkan. Mama, papa, Pras kakakku, adikku Tyas, dimana mereka dalam hatiku? Pekerjaanku? Mencarikan sekolah desain untuk Ratih. Sepertinya aku tidak adil dalam membagi fikiranku. Terjebak pada masalah ini terus. Tapi, dua hari lagi aku tetap harus memberikan jawaban untuk Chandra.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s