Sister Complex (part 5)

“Assalamu’alaikum, Zalie….” Aku menemukan Zalie di kamarku. Dia sedang serius menulis program di komputerku. Ternyata aku kangen banget sama dia sampai gemes. Aku langsung memeluk dia dari belakang dan mencium pipi kanannya yang nyaris tanpa jerawat. Aku yakin, cewek-cewek di sekolah pasti nangis-nangis nggak rela kalau ngelihat aku ngelakuin ini ke Zalie.

“Hei…, dasar kolokan!” Zalie menjitak kepalaku.

„Biarin! Mana ada cewek yang bisa kaya’ gini ke kamu… kamu sih, nggak punya pacar!“ aku mencubit pipinya.

„Udah sholat belum? Ganti dulu sana! Lagi seru nih…“

„Nyuruh ganti tapi kamu disitu! Keluar dulu sana!” aku melemparkan tas ranselku ke tempat tidur.

”Nggak ah, kamu ganti di kamarku aja”. Zalie bahkan tidak memandangku, serius banget, mana tega aku ngegangguin dia. Akhirnya aku yang mengalah.

„Zalie…Ajarin aku Photoshop lagi yah…aku dapet order buat cover Majalah Sekolah edisi khusus Valentine yang terbit Senin nih!“

”Edisi khusus Valentine?” Zalie tiba-tiba menoleh ke arahku.

”Iya, tau nggak covernya siapa? Si Tin-tin ketua klub Cheerleader yeng bernama asli Martini itu. Biasa dia minta fotonya diedit ini itu biar kelihatan lebih gimana gitu….”

“Emang pihak sekolah nggak berkomentar apapun tentang majalah itu?” Zalie menghentikan aktivitasnya di komputer.

“Enggak, kepala sekolah nggak peduli kita mau nerbitin tentang apa, yang pasti kita ngasih setoran 25% keuntungan sebagai imbalan semua siswa wajib membeli.”

“Siapa ketua Majalah Sekolah kamu?Mm… Diar ya?”

”Iya. Emang kenapa sih?”

”Enggak, Valentine itu kan sebenernya sebuah perayaan yang bukan punya umat Islam. Rasanya miris aja kalau sampai itu dijadikan berita utama seolah-olah kita ikut merayakan.”

”Emang iya Zal? Kok aku baru tahu sih…”

”Kamu sih, makanya kalau ngenet jangan chatting mulu, browsing, lihat perkembangan dan informasi…”

”Berisik ah! Terus gimana sih sebenernya cerita Valentine itu?“

„Itu perayaan untuk memperingati meninggalnya seorang Pastur yang bernama Valentino. Sedangkan bentuk perayaannya mengikuti budaya Yunani kuno yang Pagan. Free sex, pesta pora dsb. Kalau mau tahu lengkapnya baca aja, artikelnya udah aku masukin ke komputer kamu.“

„Wah, jadi nggak enak nih aku ikut berkontribusi. Gimana ya…tapi majalahnya udah selesai, tinggal terbit hari Senin“ aku menggigit jariku.

„Ya udahlah adikku, sayangku, cintaku, manisku… Ntar lihat aja hari Senin, mungkin bakal ada majalah tandingan..“ Huekk… aku mau muntah ngedenger Zalie memanggilku seperti itu, tapi apa tadi katanya? Majalah tandingan? Aku jadi nggak habis fikir. Memang sih, saat ini kakakku alumi aktif di sekolah, tapi lama-lama aku jadi serem juga ngebayangin seberapa kuat pengaruh dia di sekolah. Walaupun udah ninggalin sekolah tiga tahun yang lalu, tapi dia masih selalu diobrolin sana-sini sama orang-orang di sekolah.

„Kamu ntar beresin lagi yah, aku mau tidur sebentar“ Aku langsung meraih bantal dan tidak ingat apa-apa lagi.

Sehabis makan malam, aku langsung masuk ke kamar dan siap-siap untuk pergi dengan Zalie. Hm…enak juga kalau punya kakak yang nggak pacaran. Bisa disuruh buat nganter-nganter…ha..ha.. lagian kalau dia bukan kakakku, mana ada cowok seganteng dia mau jalan sama aku.

Aku bingung memilih padanan kaos dan kerudung yang aku punya. Tapi, Zalie bilang dia paling suka kerudungku yang warna biru denim kado dari dia. Baru aku pakai sekali, lebaran kemarin. Aku juga suka siy…

”Zalie….” aku nongol di depan pintu kamarnya dengan rok jeans A lines, kaos biru muda dan kerudung yang tadi. Aku udah latihan kemarin malam gimana cara memakai kerudung ini biar nyaman dan cepat jadi aku bisa selesai sebelum Zalie yang nyamperin ke kamarku.

Zalie baru selesai mandi, rambutnya masih sedikit basah, dengan celana bahan hitam dan kemeja biru lengan pendek kesukaannya. Duh… ganteng banget…, seandainya dia bukan kakakku…. Tuk, aku memukul kepalaku sendiri. Aku nggak sadar saat aku bengong ngelihatin dia, dia juga bengong ngelihatin aku.

”Zie… aku nggak mimpi kan?” Zalie menghampiriku dan memelukku. Kaya’nya dia seneng banget, sampe’ aku nggak bisa nafas.

”Kamu lebih cantik kaya’ gini…”

”Iya, sekarang kamu nggak malu dong jalan sama aku. Udah yuk ntar kemaleman.”

”Aku nggak pernah malu jalan sama kamu. Tapi sekarang aku jadi lebih merasa lega, karena aku nggak perlu was-was dan ngerasa bersalah ngebiarin orang-orang yang nggak berhak ngelihat aurat kamu.”

Aku hanya bisa tersenyum, ternyata segitu beratnya ya yang Zalie rasain ketika aku tak kunjung mengenakan kerudung dan menutup auratku. Aku jadi merasa bersalah juga. Udah berapa banyak laki-laki yang aku buat berdosa karena melihat aurat yang nggak aku tutup?. Yang terjadi selanjutnya ketika aku sampai di ruang tamu adalah papa histeris ngelihat aku, duh… susah emang punya papa heboh.

”Ma, pa, Zalie sama Zie pergi dulu yah…” Zalie berpamitan. Duh.. kakakku ini sweet banget siy, pake acara cupika-cupiki lagi ama mama papaku.

“Zie, kamu mau aku anterin kemana nih?” Zalie menyalakan mobil.

„Lha, aku kan mau nganterin kamu. Tapi, kalau kamu mau nganterin, aku mau nyari baju buat Senin, aku belum punya baju untuk sekolah.”

”Aku anterin deh, kemana aja, tapi jangan lama-lama ya…kamu sih nggak bilang mau nyari baju. Tau gitu kan kita pergi dari tadi siang, jadi kamu bisa milih-miih deh.” Zalie mencubit pipiku.

”Ih, kok kamu jadi genit gitu… Aku kan nggak mau belanja banyak-banyak, lagian baju panjangku lumayan banyak kok, kerudung juga banyak. Kamu sih… hobi banget beliin aku kerudung.”

”Tapi kamu suka kan. Makasih ya Zikra… udah mau pake kerudung yang aku beliin, kakak sayang banget sama kamu…”

Duh meleleh deh aku digituin…

Setelah muter-muter mall, ternyata ada juga baju sekolah yang sesuai ukuran aku. Habis, semua baju di toko itu suka nggak kira-kira. Dikiranya semua anak sekolah kaya’ artis apa? Ngetat bin ukuran pinggang yang menyiksa. Aku kan bukan cewek seideal itu.

”Zalie, aku capek nih. Kamu udah kan beli bukunya? Balik yuk.”

”Iya, udah setengah sepuluh nih. Jam malem cewek.” Zalie melirik arlojinya.

”Eh, sebentar, ada temenku” Zalie melihat ke arah toko komputer. Aku mencari-cari temen yang mana yang dia maksud.

”Fan!” Zalie berjalan menghampiri seorang cowok yang sedang melihat-lihat mouse. Aku tidak bisa melihat dengan jelas, jadi aku mengikuti Zalie menghampiri temannya itu.

”Eh, Mas Zalie, sama siapa nih?” Aku akhirnya bisa melihat wajahnya dengan jelas. Tapi cowok itu malah mengalihkan pandangan terus, padahal aku baru kali ini melihat makhluk sejenis Zalie…cute abis… Mana ada makhluk kaya’ gini di sekolah.

”Ini Zikra, adik ane! Masa antum nggak kenal. Kalian satu sekolah kan?” Zalie menepuk punggung cowok itu. Tapi, apa Zalie bilang? Satu sekolah? Nyium kodok deh kalo’ beneran cowok ini satu sekolah sama aku. Pasti Zalie salah.

”Oh, ini Zie? Subhanallah, tadi pagi kan belum seperti ini. Maaf kalau nggak kenal.”

“Em…iya…tapi, kamu siapa ya? Kelas berapa?”

“Zie, kamu nggak kenal dia? Dia ini Irfan, Wakil Ketua ROHIS, kelas berapa Fan?”

”Dua Satu, maklum ane memang nggak terkenal, jadi wajar aja kalau Zikra nggak kenal.”

“Alah, ente merendah, bukannya ente kemarin baru lolos seleksi Student Exchange? Jadi siapa yang menggantikan?” Zalie terus mengobrol dengan cowok yang baru aku kenal itu.

Aku baru menyadari sesuatu, itu adalah Irfan Nasa Wardhana, orang yang seharusnya aku wawancarai untuk profil majalah sekolah. Tapi digantikan oleh Wilya yang merengek-rengek padaku, dan aku dengan bodohnya mengiyakan. Wilya bilang orangnya terlalu mendominasi kalau berbicara, bisa-bisa aku grogi dan nggak mengucapkan sepatah kata pun ketika mewawancarai dia.

Aku shock seketika menyadari kalau aku baru saja bertemu dengan salah satu makhluk terjenius di sekolah. Aku nggak mengucapkan sepatah kata pun sejak dari mal sampai rumah. Aku juga shock karena Zalie begitu be asa ajah!. Dia emang beneran seleb, nggak hanya cewek-cewek rese’ yang kenal dia, tapi juga petinggi-petinngi ekskul plus orang-orang terjenius di sekolah.

“Kamu nggak kenapa-kenapa kan Zie?” Zalie mengunjungi kamarku.

“Nggak, nggak kenapa-kenapa kok”

“Habis sejak ketemu Irfan kamu diem aja. Emang kamu beneran nggak pernah lihat dia? Kasihan Si Irfan. Ya udah aku tidur ya.” Zalie tertawa kecil sambil meninggalkan kamarku.

Kasihan Irfan? Kasihanilah aku karena aku baru melihat makhluk seberkilau itu sekarang, setelah seminggu lagi dia harus berangkat untuk Student Exchange ke Australia. Nyium kodok… aku harus nyium kodok supaya aku sadar, ini hanya mimpi dan ketika terbangun aku ada di hari ketika Wilya merengek-rengek meminta menggantikan aku.

12 Februari 2005

Dy, aneh deh… aku baru aja nemuin cowok yang Subhanallah banget. Sebangsa dan satu spesies dengan Zalie, anak ROHIS (Wakil Ketua gitu…), Irfan Nasa Wardhana. Cowok beken yang seharusnya aku wawancarai untuk majalah yang terbit besok Senin. Hwaah…seandainya saja aku sadar ketika Wilya yang biasanya paling males disuruh-suruh menawarkan diri menggantikanku… Ah, dia hampir perfect. Ganteng, Sholeh, Pinter… Allah begitu sempurna menciptakan makhluk seperti dia…

Duh, aku kok jadi kaya’ orang jatuh cinta gini sih… Jangan-jangan iya? Ha…ha… ternyata aku cewek normal! Habis Echi selalu meledekku dengan mengatakan bahwa aku ini cewek nggak normal karena suka sama kakakku. Sister complex. Itu sih kaya’nya karena dia cemburu kali ya… Tapi… bisa mati aku kalau ketahuan Zalie aku suka sama Irfan, dia kan manusia anti-pacaran. My ’love at first sight’…

Tahu nggak Dy, dia kenal sama aku… walaupun aku nggak kenal dia. Dan dia bilang apa coba? Dia bilang “tadi pagi kan belum seperti ini” itu kan berarti dia memperhatikan aku. Aduh… kenapa aku baru sadar sekarang ya, ada manusia kaya’ gitu… padahal kelas kita kan hanya beda dua ruangan. Aku dua tiga dan dia dua satu. Aduh dy… tapi dia mau ke Australie… nasib deh…

Dy, aku sampai lupa kalau tadi siang juga ada kejadian aneh, Andri nggak masukin aku ke kelompoknya. Aku bahkan lupa tujuan aku nraktir Zalie gara-gara Andri. Mudah-mudahan Andri finish karena kejadian waktu di rumah kemaren.

Oiya, aku udah bertekad buat terus pake’ kerudung. Zalie seneng banget sampe’ lama banget nggak ngelepasin pelukannya. Aku jadi sedih kalo’ inget perjuangan Zalie menyuruhku berjilbab. Mudah-mudahan aku istiqomah ya Allah. Amiin…

Papa juga heboh… tapi gimana pendapat anak-anak ya? I’ll fight whatever they say!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s