Sister Complex (part 6)

“Aduh!!” Tiba-tiba donat sebesar ban mobil hilang dari hadapanku karena aku tidak bisa bernafas. Zalie membangunkanku dengan cara andalannya, memencet hidungku! ”Biar bangir!” katanya ngeles.

”Bangun kamu! Shubuh…”

Zalie duduk disamping tempat tidurku, lengkap dengan koko putih dan sarung birunya. Kaya’nya sih baru pulang dari mesjid. Aku lupa mengunci pintu tadi malam, pantas saja makhluk berkilau ini bisa masuk.

Aku bangun sambil merapikan buku harian dan pulpen warna-warni yang berserakan di tempat tidurku. Sial, jangan-jangan Zalie udah baca bagian dimana tertulis nama Irfan dengan tinta Pink? Aku meliriknya tajam.

”Kenapa kamu? Disuruh sholat kok malah ngelirik aku kaya’ gitu?”

”Kamu nggak menjamah buku harianku kan?”

”Menjamah? Hmph…hmph… Adikku sayang, aku menghargai privasimu. Kalaupun nggak sengaja kebaca aku nggak akan bilang ke siapa pun. Udah sana buruan sholat, mau ikut jogging nggak?” Zalie beranjak meninggalkanku. Tapi aku masih curiga, jangan-jangan ketika dia membelakangiku dia tersenyum penuh kemenangan karena telah berhasil mengetahui rahasia besarku! Huh!

Aku sholat masih dengan perasaan was-was. Zalie bilang ‘kalau nggak sengaja terbaca?’. Hwaah…hiks…hiks… aku yakin 90% dia udah baca buku harianku bagian yang ’itu’.

Aku menemukan Zalie di teras depan. Dia sedang mengikat tali sepatu sportnya, lengkap dengan kaus oblong putih dan training merah. My brother in red, hot!

“Aku nggak ikut ya! Mau bantuin mama” aku nongol di pinggir pintu, malas pakai kerudung, sebenernya lupa sih. He..he..

“Pantes aja kamu gendut! Ya udah beneran nih? Udah nggak kangen lagi sama aku? Aku mau balik jam delapan loh!”

Aku hampir muntah, tapi aku emang kangen kalau nggak ada dia. Kaya’nya sebutan sister complex eh, brother complex emang cocok banget (habis aku yang sayang banget ke dia, tapi dia juga genit sih ke aku ^_^!). Aku menggelengkan kepalaku lemah.

Sebenernya aku males joging bareng Zalie. Selain dia terlalu ramah sama ibu-ibu dan cewek-cewek rese’ yang sengaja joging dibelakangnya, aku juga capek digunjingkan sebagai anak angkat lah, adik tiri lah, dan lain sebagainya hanya karena aku nggak se-berkilau dia. Humph…

13 Februari 2005

Dy, hari ini kaya’ minggu-minggu biasanya setelah Echi pergi. Bantuin mama, belajar buat besok dan melepas Zalie pergi, hm… dia pergi lagi. Sebel, padahal kan dia bisa pulang agak sorean, tapi dia malah pulang pagi-pagi. Katanya banyak yang harus dikerjain, padahal dia kan udah tingkat tiga seharusnya udah nggak terlalu sibuk sama masalah organisasi deelel kan?

Oiya, mudah-mudahan besok pagi surat dari Echi nyampe. Si Echi tuh aneh. Konvensional plus sok romantis, habis ada email ada sms, ada mms. Banyak gitu yang lebih cepat plus murah, tapi dia lebih milih ngirim surat. Yang rentan rusak dan nyampe’nya lama bo’.

Mudah-mudahan dia nggak kenapa-kenapa deh, kangen juga nih. Biasanya kan hari Minggu gini dia yang selalu ngajakin aku ngobrol, cerita tentang majalah-majalah langganannya, nyoba resep-resep baru. Sebenernya aku rela sih, nyerahin Zalie ke dia. Tapi sebenernya aku kasihan sama Danar, dia kan sepenuh hati suka sama Echi. Si Echi aja rada-rada bego’ ato pura-pura nggak sensitif? Habis, tetep aja dia sering cerita tentang Zalie dengan semangat empat lima ke Danar. Sakit banget tuh pasti ngedenger cewek yang disukai malah ngefans ke cowok lain.

Aku jadi inget Irfan lagi, dia masih inget aku nggak ya? Duh, kaya’ gini ya jatuh cinta itu? Zalie… maaf aku menduakanmu. Alah…aku ini ngomong apa sih…

Persiapan mental buat besok pagi nih. Ya Allah beri aku kekuatan untuk menghadapi anak-anak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s