Sister Complex (part 7)

“Zie?” Sarah terkejut ketika menghampiriku di depan rumah.

“Kenapa Sar? Aneh ya?”

“Kamu cantik banget. Kalau kaya’ gini nggak ada yang mengingkari lagi deh kalau Zikra itu adiknya Zalie.”

”Tapi nggak aneh kan? Doain aku biar terus kaya’ gini ya…”

”Amiin…”

Sarah emang temen sebangku yang paling baik. Sebenernya dia juga anak ROHIS tapi gaul abis. Aku beruntung banget bisa sebangku sama dia, walaupun sering ditinggal-tinggal sama mbak aktivis OSIS plus PMR ini. Makanya di sekolah juga aku lebih sering main sama Echi walaupun kita nggak sebangku.

Belakangan Sarah emang lebih sering meluangkan waktu buat aku. Mungkin dia nggak mau aku ngerasa kesepian walaupun Echi nggak ada. Em…, kaya’nya boleh juga kalau Zalie sama dia jadi aku nggak cemburu-cemburu amat plus udah akrab ama kakak ipar, hu…hu…

”Zie? Kamu kenapa senyum-senyum sendiri?“

“He…he… enggak kok Sar. Upacara yah? Mudah-mudahan nggak telat deh!“ aku mengenyahkan pikiran-pikiran aneh tadi.

Brukk, tiba-tiba aku menabrak sesuatu karena berusaha menyembunyikan wajah bodohku dari Sarah. Aku menabrak Nadia, murid Dua Satu yang just a step to perfect. Cantik, pinter, aktivis.

“Aduh, maaf Nad!”

“Hati-hati dong! Gimana sih kamu!” Nadia melengos pergi. Hah! Sumpe deh… it’s my very bad first impression. Padahal selama ini aq mengira Nadia itu orang yang asyik.

“Gak apa-apa Zie?” Sarah menolongku. Aku menggeleng. Mungkin Nadia lagi sebel kali ya…

Waktu upacara, aku sibuk mengafirmasi otakku dengan kata-kata seperti: dia lagi sebel, dia lagi nggak mood, dia lagi kesel, dia nggak sengaja, dia buru-buru. Aku bahkan hampir dikira sedang merapal mantra karena tak sengaja menggumam. Habis, ternyata ini giliran Nadia berpidato Bahasa Inggris selama 15 menit.

Kegiatan ini diusulkan tiga minggu yang lalu dan secara bergiliran sebagai awalan anak-anak klub Bahasa Inggris berpidato saat upacara hari Senin. Nadia kan finalis debating competition tingkat wilayah. Menonjol banget di klubnya. Di majalah sekolah edisi sebelumnya dia juga mengirimkan sebuah cerpen berbahasa Inggris yang dipuji-puji oleh Mr. Razak, my teacher.

”Zie, kamu kebagian sirkulasi di dua satu tuh.” Diar memberikan sekardus majalah edisi Valentine yang sebenarnya sedang aku hindari karena mengingat ucapan Zalie kemarin.

”Dua Satu?” aku baru ingat sesuatu, Irfan!

”Iya, emang kenapa, biasanya juga biasa aja. Takut?”

”Enggak sih, tapi…”

”Udah sana, aku hanya ngizinin kalian sampai istirahat pertama. Jadi cepet beresin bagian kalian dan masuk ke kelas yang ditugaskan setelah jam ketiga. Ngerti! Eh, kamu manis juga pake kerudung..” Diar beranjak menuju Wilya dan anak-anak lain. Maklum, sebenarnya redaksi majalah sekolah ini hanya tujuh orang, jadi kita itu ya reporter, ya editor, ya lay-outer, ya sirkulasi riweh dah!

”Assalamu’alaikum, Bendaharanya ada?” aku langsung bertanya pada murid dua satu yang duduk paling dekat dengan pintu. Aku nggak habis fikir dengan anak dua-satu, lima menit pertama istirahat masih saja berkutat dengan buku-buku.

”Oh, Nadianya tadi dipanggil Kepala Sekolah. Tuh, sama Irfan aja ketua kelasnya.” siswa itu menunjuk makhluk-terlarang-yang-seharusnya-tak-kulihat. Tapi telat, Irfan sudah berjalan ke arahku.

”Ada apa Zie? Majalah sekolah ya?”

”I…iya…, Nadianya nggak ada ya?” aku tidak berani menatapnya. Sekilas kulirik dia juga tidak melihat ke arahku.

”Ya udah, ntar saya aja yang ngebagiin plus ngumpulin uangnya.”

”Oh, ya udah, tanda tanganin tanda terimanya aja” aku masih gugup.

”Ya udah, saya mau ke mushola dulu. Nanti saya ke kelas kamu kalau semuanya udah bayar.”

”Hah?” apa katanya! Ke kelasku? Mau menemuiku di kelas? Bisa geger seantero jagat!

”Nggak usah, nanti aku kesini lagi aja”

”Nggak apa-apa, kamu kan lagi sibuk. Saya juga ada perlu dengan Hasan kok.”

”Ya… terserah kamu deh…”

”Ya udah, saya pergi dulu. Oiya…terima kasih ya buat infonya tentang edisi khusus Valentine ini” Irfan menyimpan kardus yang aku berikan dan pergi meninggalkanku saat masih mematung, bingung. Info?

”Kamu ngapain?” tiba-tiba Nadia sudah ada di depanku ketika aku berbalik.

”Nad, itu anak majalah sekolah. Tadi nyariin kamu. Tapi udah ketemu Irfan” murid yang duduk paling dekat pintu tadi bersuara.

”Oh, ya udah. Ngapain lagi kamu disini!” Nadia ketus. Aku pergi sambil menggeleng-gelengkan kepalaku.

Kenapa sih, si Nadia itu? Padahal, kalau aku lihat-lihat dia sama yang lain baik-baik aja. Nggak segitunya. Aku nggak ngerti…

”Sar, kamu kenal Nadia kan?”

”Anak dua satu yang tadi nabrak kamu? Eh, kamu tabrak?”

”Iya, dia kenapa sih sewot banget sama aku?”

”Aduh, nggak tau tuh. Sama aku biasa aja kok, dia asyik kok orangnya. Kita satu kepanitiaan di Bulan Bahasa.”

”Itu dia, makanya aku bingung. Yang aku tau dia itu orangnya asyik, kok sama aku sewot ya?”

”Ya udah, thinking positive aja. Dia lagi sensi kali, ato kamu nggak sadar pernah buat dia kesel kali…”

“Aduh… nggak tau deh.”

“Ehm, Zie…” tiba-tiba suara seseorang yang tidak asing terdengar di telingaku. Andri…

“Iya…” aku menoleh

“Zie, kamu … beneran Zie kan?”

“Iya Ndri, kenapa?” aku menoleh kembali tidak melihat ke arah Andri.

“Kamu makin cantik Zie….” Andri memberikan sepucuk surat padaku dan pergi. Sekilas aku melihat wajahnya merah banget.

“Sar…hi…apaan nih? Aku takuut..” Aku memindahkan surat didepanku ke hadapan Sarah.

“Hwa…ha…ha… hayo lo Zie…. Kan udah aku bilang, kamu makin cantik kalau pakai kerudung. Makin cocok jadi adeknya Kak Zalie.”

“Kamu aja deh yang lihat” aku menyuruh Sarah membuka surat itu.

“Ini kan buat kamu! Nggak sopan kali Zie…” Sarah mengembalikan surat itu.

“Tapi kalau aku buka kamu jangan ketawa ya!” aku membuka surat itu dengan perasaan dag dig dug. Mau apa sih si Andri ini? Aku melirik Sarah, dia sedang menahan tawanya. Dasar dia…


14 Februari 2005, 00:02

Aku nggak bisa tidur

Aku bingung, apa kamu juga ngerasain apa yang aku rasain?

Aku nggak ngerti kenapa aku kaya’ gini. Walaupun kamu marah ke aku, walaupun kamu maki-maki aku, walaupun kamu ngebenci aku, aku tetep aja pengen bisa deket kamu.

Zie, aku tau kamu sebenernya tau apa yang aku rasain, dan kamu merasa terganggu, makanya kamu memperlakukan aku seperti sekarang.

Aku nggak menyalahkanmu Zie. Aku nggak tau pasti apa yang kamu pahami tentang perasaanku ke kamu. Tapi, benar kalau kamu merasa aku menaruh hati padamu.

Aku cuma pengen kamu tau, aku nggak akan berhenti. Apapun yang kamu lakuin ke aku.

Maaf kalau aku mencintaimu, dan itu mengganggumu.

Alfiandri Satya Bhakti


”Sar, aku bingung… kok kaya’nya aku jahat banget sih? Aku salah nggak sih?”

Sarah tersenyum kecil dan menggenggam tanganku.

”Kamu nggak salah kok Zie, kita emang harus tegas menghadapi orang yang ada penyakit di hatinya. Aku bakal bantuin kamu kok, kamu tenang aja” Sarah memberi harapan padaku.

Aku masih bingung dan tidak konsentrasi ketika pelajaran Bahasa Inggris. Untung saja Mr. Razak tidak menanyaiku hari ini. Maklum Zalie itu anak kesayangannya, jadi aku selalu dianggap sama jeniusnya.

Aku langsung sms Zalie ketika istirahat kedua.

<Aslmlkm.Zalie,Andri ngsh srt cinta ke aq.gmn dunk?aq meminta suakamu nih!>

Send to GaNteNG. Delivered

Aku dengan penuh harap mendapat balasan dari Zalie. Sarah agak khawatir karena aku nggak mau diajak ke kantin. Padahal, biasanya aku paling pantang menolak yang namanya ”makanan”.

”Assalamu’alaikum,” sebuah suara yang…

”Eh, ada angin apa nih akh bertandang ke kelas ane?” Hasan manjabat dan melakukan adegan cupika-cupiki dengan Irfan. Hal itu tentu saja mengundang perhatian warga dua tiga yang masih 70% ada di kelas.

”Enggak… gimana bulletin? udah disebar di kelas kan?”

”Astaghfirullah, untung ente ingetin, kalo’ enggak ane lupa nih!”

”Ya udah, ane cuma mau ngecek aja kok. Sama mau nyerahin uang majalah ke Zikra.”

Aku menoleh ke arah Hasan dan Irfan sampil memaksa tersenyum. Aku tau, pasti wajahku super duper terlihat bodoh saat ini. Bagaimana tidak, aku kan sedang kacau. Zalie nggak bales-bales smsku!

”Ini Zie, maaf belum semuanya. Mungkin pulang nanti saya antar ke sekret majalah sekolah. Soalnya anak-anak uangnya belum ada kembalian.”

”Eh, iya…nggak apa-apa kok. Makasih banget nih dianterin.”

”Ya udah, saya balik ke kelas dulu.” Irfan melenggang pergi. Aku melirik ke kanan dan kiri. Mata-mata penuh tanda tanya memandang ke arahku. Aku merasa menciut menjadi seukuran penghapus di hadapanku. Untung saja Sarah nggak ada, kalau ada aku pasti diinterogasi. Sejak kapan Irfan sang siswa Student Exchange yang juga Wakil Ketua ROHIS itu kenal denganku.

”Zikra…. itu Irfan ya? Irfan yang mau ke Aussie itu? Irfan yang ketua kelas dua satu?” Aku mengangguk.

”Hhh…. ganteng banget…” Febi terlihat lebih kacau dari aku.

Tak lama setelah Feby memberondongku dengan pertanyaan-pertanyaan nggak mutu, seperti Irfan suka cewek kaya’ apa, dia makan apa bisa seganteng itu, anaknya siapa, tiba-tiba Zalie meneleponku. Tumben nih makhluk berkilau nelepon aku.

”Assalamu’alaikum. Kenapa manies…?” Huekk..aku mau muntah ngedengernya.

”Wa’alaikumsalam. Berisik ah! Zalie, gimana dong…aku takut nih…”

”Kamu stay cool aja. Kalau dia emang sayang sama kamu dia pasti nggak akan ngapa-ngapain kamu lah…”

“Stay cool…stay cool…emangnya kulkas. Kamu kan tau aku paling anti sama cowok romantis. Sebangsa kamu…”

“Aku romantis? Makasih…Biasanya kamu bilang aku datar, akhirnya kamu sadar kalo’ aku romantis?”

“Zalie…. Jangan mulai deh…aku matiin nih!”

”Iya…iya…ntar Jumat aku ngisi mentoring kok. Ntar aku suruh Irfan ngajakin Andri mentoring.”

”Orang kaya’ Andri? Bisa gitu?” aku melirik ke jendela. Sudah kelihatan bayangan Andri disana

”Zal, udah ya. Udah mau masuk nih. Assalamu’alaikum”

Aku mematikan telepon dan pura-pura membaca buku Biologi. Andri dengar nggak ya? Bodoh amat ah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s