Vanish (Part 16)

Enam Belas

Akhirnya hari Sabtu datang juga. Kemarin Galih berangkat pulang, Chandra juga tidak ada. Aku tidak mungkin menggangu weekend Rizal, Faras dan Fariz. Pekerjaan juga sudah tuntas dengan hasil yang cukup memuaskan. Pesta perpisahan tidak jadi dilakukan, masih menunggu Galih pulang. Aku belum tahu mau kemana hari ini. Di rumah terus juga tidak enak, mama papa pergi mengunjungi tante. Mas Pras masih berkutat dengan meja kerjanya di kamar, mana tega aku mengganggunya. Tyas sedang hang-out dengan teman-temannya. Dasar anak kuliahan… Aku akhirnya memutuskan ke toko buku saja. Sudah lama tidak membeli novel atau bacaan fiksi lain. Aku berpamitan pada Mas Pras. Seperti yang kuduga, dilirik pun tidak. Tapi dia memesan buku tentang arsitektur lanskap.

Aku mencari buku pesanan Mas Pras terlebih dahulu. Takut kelupaan kalau sudah asyik melihat-lihat novel. Hm…akhirnya kudapatkan dua buku yang menurutku berhubungan dengan Arsitektur Lanskap. Aku hendak melangkahkan kakiku ke bagian fiksi, tiba-tiba mataku menangkap wajah seseorang yang kukenal. Aku terpaku sesaat, hm… kenapa dia ada disini. Sialnya waktu masih mengontrol detak jantungku dia menoleh ke arahku.

”Vias!!” laki-laki itu menghampiriku. Aku hanya bisa memasang senyum dipaksakan dan berdiri terpaku.

”Masih inget aku kan?” dia dengan santai mengajakku ngobrol.

”Iya, Valdi Valor Viceroy” rasanya aneh menyebutkan nama itu, selain memang namanya terlalu aneh juga karena namanya hampir mirip namaku, triple V. Lagipula mana bisa aku melupakan makhluk yang satu ini. Dia kan orang yang paling tidak boleh kutemui di dunia ini.

”Yup, Viastika Varna Vanisha.” Valdi tersenyum.

Hah?? Dia bahkan ingat namaku yang cukup panjang itu. Perasaanku jadi nggak enak. Yah, hanya kebetulan saja sepertinya. Beruntung juga aku hari ini bisa bertemu teman lama. Aku melirik buku yang sedang dipegangnya.

”Masih terobsesi dengan V?” aku akhirnya bisa mengendalikan detak jantungku yang masih shock. Ia kemudian melirik buku di tangannya.

”Yeah, the Vampire” Valdi tersenyum.

”Lagi nyari buku juga? Kebetulan sekali ya, kita bisa ketemu disini.” Valdi masih tersenyum khas. Sepertinya dia senang sekali bertemu denganku.

”Hm… Nggak juga kok, lagi weekend aja, dan kerjaan baru beres kemaren, jadi lagi rest. Sekalian nyari buku titipan kakak. Kamu kemana aja? Habis lulus kuliah langsung hilang nggak tau kemana, tiba-tiba muncul lagi disini.”

”Hm, iya kemaren ada kesempatan lanjutin kuliah di luar, ya aku terima aja. Kamu kerja dimana?”

”Masih sama ketika pertama lulus. Wah udah jadi Master dong!”

”Masih di tempat lama? Wah, betah ya, bagus dong ilmunya kepakai”

”Kalau kamu?”

”Aku rada nggak nggak nyambung sih, tapi lumayan kok tempatnya enak, nggak di kantor-kantor banget”.

”Hm…dah lama juga ya nggak ngobrol gini”

”Kamu kaya’ kangen banget gitu ke aku” balas valdi dengan wajah datar.

”Dasar kamu, masih sinis aja ke aku. Eh, nomor kamu ganti nggak? Email?”

”Ganti, nomormu masih yang ama kan? aku miscall deh. Email tetep yang lama kok.”

”Aku kira ganti juga, habis kamu kan orang yang suka ngilang, nggak pernah muncul di milis juga.”

”Tapi aku selalu baca email kalian kok.”

”Curang tau! Udah masuk nih nomornya, aku simpan ya”

”Kamu kapan nikah?”

”Ih, nanyanya gitu amat sih. Gak tau lah, kapan datengnya!”

”Oh, belom ya! Aku juga gak tau.”

Maksudnya apa ’aku juga nggak tau’? Beberapa detik terjadi kebisuan diantara kami. Nih orang masih mau ngobrol nggak sih? Kok malah diem aja. Apa pengen ngobrol tapi bingung nyari bahan?

”Ya udah deh, aku kesana dulu, masih ada yang mau dicari.”

”Eh vi!” Valdi menghentikan langkahku.

”Kenapa?”

”Nggak jadi deh, bukan apa-apa kok!”

”Yee… dasar aneh!Ya udah kalau ada apa-apa hubungi aja ya!” Aku ngeloyor pergi tanpa menoleh sedikit pun, karena wajahku memerah, malu, senang, nggak jelas. Aku akhirnya asal mengambil buku di bagian novel dan memutuskan untuk langsung pulang. Takut ketemu lagi.

Sesampainya di rumah, aku langsung membongkar diary-diary SMA dan kuliahku. Hm, ternyata aku masih suka sama orang itu. Satu-satunya orang yang membuat aku selalu melakukan hal-hal bodoh. Jadi cewek biasa. Kagum, pernah mentok tiang listrik gara-gara meleng ngelihat dia. Pernah jejingkrakan karena tiba-tiba ditelepon, padahal cuma nanyain nomor temen. Bahkan milih universitas yang sama gara-gara dia. Pokoknya benar-benar hal-hal bodoh. Padahal aku udah merasa nggak pernah ada harapan lagi waktu akhirnya dia menghilang setelah kuliah. Ah, bodoh, apa yang direncanakan Allah.

Dulu, aku selalu, selalu mengikutinya kemana pun. Walaupun tidak bisa dekat, tapi aku selalu mengawasinya dari jauh. Terkadang saat aku terjatuh, dia selalu berbalik, mengobati lukaku dan berjalan lagi di depanku. Dia terlalu tak tersentuh. Desperate karena dia sepertinya benar-benar tidak akan menoleh padaku. Terkadang memutuskan untuk menyerah saja, tapi seberapa lambat pun aku berjalan dia selalu terlihat. Kalau lepas dari pandangan dan aku ingin melupakannya, dia malah secara kebetulan tiba-tiba ada di dekatku. Aku benar-benar tidak mengerti. Yang aku tahu aku menyimpan perasaan ini sejak pertama kali mengenalnya. Benar-benar bodoh, karena aku menyadari aku masih merasakan perasaan itu sampai sekarang.

”Vi, ada bukunya?” tiba-tiba Mas Pras ada di belakangku.

”Mas, Ih… masuk kamar orang ngetuk dulu sih!” aku langsung membereskan diary-diaryku yang berserakan.

”Udah tau! Kamu aja kesyikan sampai nggak denger orang udah teriak-teriak!”

”Tuh, bukunya di meja.”

”Makasih ya! Ntar kalau proyek yang ini berhasil aku traktir deh!”

”Asyiik..!! ngomong-ngomong kamu kucel banget Mas! Udah nggak mandi berapa hari?”

”Ngaco kamu! Baru dua hari tau aku nggak mandi!”

”Ih!! Dua hari kok baru!! Itu kumis, jambang, jenggot dah nggak bisa dibedain! Ampun deh! Mandi sana.”

”Siip, aku juga harus ngecek jenis tumbuhan yang aku butuhin di luar. Ya udah deh, aku mau bersih-bersih dulu..” Mas Pras hendak keluar dari kamarku.

”Mas!” Aku tiba-tiba ingin menanyakan sesuatu.

”Ya! Kenapa lagi?” Mas Pras berbalik.

”Kalau…. aku nikah duluan nggak apa-apa?”

”Hm? Tumben kamu nanya itu. Memangnya ada yang mau sama kamu?” jawabnya tanpa ekspresi.

”Jahat! Banyak tau!” aku melempar bantal ke arah Mas pras.

”Banyak? Maksudnya angsa? Hehehe. Ya nggak apa-apa lah. Kamu kan perempuan, malah seharusnya aku memang nunggu kamu nikah dulu. Mana? Siapa yang mau sama kamu? Kasih tau ya ntar! Aku mau ngecek, bener-bener orang apa angsa! Hwahahahaha!” Mas Pras tertawa puas sambil menginggalkan kamarku. Aku cuma bisa manyun. Masku itu memang serius, tapi kalau udah ngeles atau bercanda, tidak ada yang bisa mengalahkannya. Walaupun kadang-kadang garing plus nggak nyambung. Huh, sebel. Hm…Chandra, gimana ya? Jadi kepikiran lagi deh, tapi dia belum kesini sih. Dia udah bilang ke orang tuanya belum ya? Aduh pusing ah!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s