Vanish (Part 17 – End)

Tujuh Belas

”Maaf ya Zal, ngerepotin dan ganggu weekend kamu. Apa kabar Faras dan Fariz? Nggak apa-apa kan aku ngajak kamu kesini?”

”Ya ampun Vi, kamu ini kaya’ sama siapa aja. Sama sekali nggak apa-apa. Apa kamu masih marah sama kejadian waktu itu? Aku minta maaf lagi deh Vi. Aku sama sekali nggak ngerasa direpotin kok. Lagipula aku pernah ngerepotin kamu lebih dari ini. Faras dan Fariz baik-baik aja. Emangnya ada apa? Kok cuma aku aja yang diajak, Chandra? Oh…aku tau, masalah Chandra ya?” Rizal memasang tampang berfikir khasnya.

”Hm iya sih, nggak apa-apa kan? Habis aku bingung mau nanya siapa lagi.”

”Kenapa? Orang tua kamu nggak setuju?”

”Bukan itu Zal. Kalau masalah itu, orang tuaku udah nyerahjin semua ke aku. Lagipula mereka kan udah kenal Chandra lama. Kalau memang Chandra nggak baik menurut mereka nggak mungkin lah aku dibolehin temenan sama dia.”

”Kali aja, temenan sama nikah itu kan beda Vi”

”Kamu tau kan Zal, salah satu alasanku bisa sahabatan sama kalian?”

”Persamaan prinsip bahwa dating is nothing?”

Exactly, kenapa kita bisa punya kesamaan prinsip itu?”

”Karena kita percaya kalau itu nggak penting, ngabisin waktu, bener-bener bikin capek hati, tenaga, waktu.”

”Bukan itu juga sih. Ada satu hal yang buat aku percaya sama kalian sehingga persahabatan ini nggak berakhir dengan pacaran sesama kita. Kamu tau kan, sahabat cewek-cowok itu omong kosong.”

”Aku masih nggak ngerti, apa karena itu kamu berat nerima Chandra?”

”Mungkin, tapi yang paling bukan itu. Aku percaya sama kalian karena aku tau, masing-masing kita punya orang yang kita sukai. Jadi kalau kita saling suka rasanya seperti menghianati kepercayaan itu.”

”Tapi Vi, waktu kan berlalu, orang yang kita sukai bisa berubah.”

”Bener juga sih. Boleh aku tanya satu hal? Apa pernah sedetik aja kalian pernah ngerasa ’suka’ yang kaya’ gitu ke aku?”

”Mh…kalau itu sih… kami cowok normal dan kamu nggak punya kekurangan buat disukai. Jadi, pasti pernah Vi. Aku rasa Chandra serius.”

”Aku juga pernah, tapi rasa itu kalah sama rasa sayangku sama kalian atas persahabatan ini. Rasa menghianati kepercayaan kalian itu yang membatasi aku.”

”Kalau itu, bukan masalah kan, aku nggak apa-apa kok kalau kalian menikah. Lagipula kalian tetap sahabat kan? Mungkin ada yang berubah yaitu status dan perasaan yang tadinya dibatasi itu jadi bebas. Dengan begitu bukannya ikatan kalain jadi lebih kuat?”

”Nggak semudah itu melepas batas yang selama ini kupertahankan Zal. Ditambah lagi, mungkin Chandra bisa melupakan Saras, tapi aku nggak bisa ngelupain Valdi.”

”Valdi? Jadi orang yang selama ini kamu sukai dia? Kenapa kamu nggak bilang dari dulu? Padahal dia sedekat itu. Kamu memang curang masalah itu, nggak pernah bilang. Padahal kalau kamu mau kami bisa bantuin loh!”

Rizal membuatku tersenyum.

”Aku suka Chandra, aku sayang, tapi bukan suka dan sayang seperti itu. Ini lebih seperti melindungi, cuma persahabatan yang tertinggal dari semua perasaan sukaku padanya. Sedangkan Valdi, dia mungkin memang cuma obsesiku tapi selama hampir sepuluh tahun ini memang cuma dia yang membuatku merasa jadi cewek normal yang melakukan hal-hal bodoh karena menyukai seseorang.”

”Apa Valdi juga suka padamu?”

”Aku nggak tau, aku terlalu takut untuk tau.”

”Kamu pernah bilang kalau kamu suka padanya?”

”Dia yang kukenal adalah orang yang terganggu dengan hal seperti itu. Aku takut kalau dia tau, dia pasti jadi membenciku.”

”Ah! Mana Vias yang jagoan! Yang selalu mengatakan kebenaran tanpa ragu! Apa tertinggal di kampus? Atau hanya digunakan sebagai alat dalam pekerjaan? Bilang Vi! Apapun hasilnya, itu lebih baik daripada seperti ini. Semua jadi tidak jelas, dan kamu menzolimi seseorang, Chandra, dengan ketidakpastian ini.”

”Aku juga berencana untuk mengatakannya dan menanggung semua risiko itu. Yang aku khawatirkan selanjutnya adalah jawaban Valdi. Jika tidak, tidak ada masalah, aku yakin Chandra baik buatku, tapi jika iya, bagaimana dengan Chandra?”

”Kamu fikir Chandra selemah itu? Kamu kenal dia berapa lama? Dia tidak akan kenapa-kenapa. Nggak akan ada yang berubah, aku yakin. Kita masih sahabatan kan? bahkan mungkin itu lebih baik, dibandingkan menggantungkan harapan seperti ini. Ini lebih menyiksa Vi.”

”Thanks Zal, aku mungkin hanya butuh dukungan dan perlindungan untuk merasa aman dengan keputusanku. Aku harus segera bicara dengan Chandra dan Valdi.”

”Hm, okey hasilnya, kasih tau aku ya.”

***

”Assalamu’alaikum, Pa kabar Ndra?”

”Wa’alaikumussalam, Baek, wah udah lama nih kamu nggak nelpon aku”

”Maaf deh, gimana reuninya. Galih dan Saras dateng?”

”Ada, aku denger dari galih kamu gagal dipromosiin ya? Gantinya pindah kantor bareng Galih. Hm… aku makin curiga nih ma kalian!”

”Apa sih Ndra! Aku nggak ada apa-apa sama Galih. Dia kebagusan buat aku, kamu yang bilang kan! Hm, gimana Saras?”

”Sial, kamu ngomong ya ke Galih, kalau aku udah ketemu sama Saras? Abis aku dicengin anak-anak. Dasar si galih, doyan juga dia ngegosip.”

”Ih kok jadi nyalahin Galih. Aku yakin kalau Galih nggak bilang juga kalian bakal dicengin. Sesekolah juga tau kale….”

”Ngebelain nih ye! Gimana dengan kamu? Apa udah ada progress dari permintaanku?”

”Itu ya…, sebenarnya aku nelpon kamu juga mau ngomongin soal itu.’

”Bener Vi? Akhirnya…, setelah kamu menghindar terus dari aku. Apapun keputusan kamu aku terima Vi.”

”Maaf ya, buat kamu nunggu. Kalau kamu nggak keberatan aku minta kamu nunggu beberapa hari lagi.”

”Maksud kamu?”

”Kamu inget beberapa tahun lalu waktu masih di kampus?”

”Duh, kemana nih arah pembicaraannya aku nggak ngerti”

”Rizal punya Faras, Kamu punya Saras dan aku juga punya seseorang yang aku sukai.”

”Itu, iya aku ingat. Tapi aku nggak ingat kamu pernah nyebutin siapa orangnya. Aku nggak pernah tau” Suara Chandra yang tadi terdengar ceria melemah.

”Aku punya satu permintaan Ndra. Saat ini aku berstatus sedang dalam proses lamaran denganmu. Apa aku boleh memberinya satu kesempatan? Karena selama ini aku tidak pernah mengatakan perasaanku padanya.”

”Kamu benar-benar masih mencintainya?”

”Sampai kemarin aku masih merasakannya.”

”Jadi kamu ketemu dia?”

”Iya. Gimana Ndra, boleh?”

”Aku nggak sekejam itu Vi. Bagaimanapun hati kamu udah jadi milik dia sejak aku belum kenal kamu. Aku dukung kok… berjuang ya!” Chandra menyemangatiku.

”Beneran Ndra? Makasih.”

”Jadi hidup kita berdua sekarang ada ditangannya ya!”

”Aku memang nyusahin ya! Kamu, Rizal. Tapi kamu beneran nggak apa-apa?”

”Aku? Ya nggak apa-apa lah. Orang ganteng gini! Hm, mumpung lagi direunian aku nyari cadangan ah kalau ditolak…. Iya! Hehehehe…kamu memang selalu nyusahin, tapi anehnya kita nggak pernah ngerasa kesusahan tuh. Karena kita tau kita lebih nyusahin kamu Vi. Ya udah sana. Ntar keburu direbut orang loh!”

”Ngejek! Iya ya udah ya Assalamu’alaikum.”

Apa Chandra bebar-benar nggak apa-apa ya? Ah aku terlalu mengkhawatirkannya. Kalau difikir-fikir aku ini lebih merasa seperti kakaknya dari pada sahabatnya. Terlalu khawatir. Sekarang yang terakhir, aku harus bicara dengan Valdi. Jujur saja, aku nggak akan pernah berani bicara langsung dan menghadapi ekspresi kemarahannya kalau mendengar apa yang akan kukatakan. Jadi aku memutuskan untuk meneleponnya saja. Aku memang pengecut.

”Assalamu’alaikum.”

”Wa’alaikumussalam. Vias? Ada apa?”

”Em, maaf Di, kamu lagi sibuk nggak?”

”Enggak kok, ada apa?”

”Aku mau nanya sesuatu dan kalau boleh aku pengen kamu dengerin dulu sampai aku selesai ngomong baru kamu jawab.”

”Iya.”

”Apa kamu ada keinginan buat nikah sama aku?” aduh, aku nggak bisa nafas, benar-benar nervous.

”Apa cuma itu?” Valdi balas bertanya, datar. Aku nggak boleh nyerah, udah terlanjur dibilang, harus bilang semuanya.

”Em, aku minta maaf kalau kamu terkejut atau marah. Tapi, aku suka sama kamu di, sejak pertama kenal. Aku nggak tau kamu sadar atau nggak, tapi aku selalu ada disekitarmu seperti orang bodoh. Berusaha mati-matian agar kamu tetap ada dijangkauan mataku. Melakukan hal-hal bodoh yang mungkin nggak kamu sadari. Tapi aku terlalu takut untuk bilang karena yang aku tau kamu terganggu dengan hal-hal seperti ini. Aku minta maaf di, kalau kamu merasa dibohongi dengan semua sikapku selama ini. Ada yang melamarku dan aku minta padanya memberikan kesempatan padamu, karena aku nggak pernah tau, apa kamu punya keinginan untuk menikahiku. Aku hanya tidak ingin menyesal. Kalau kamu memang tidak punya perasaan apapun padaku, aku akan menerima lamaran itu dan menerima kalau kamu marah dan mungkin tidak mau bertemu denganku lagi. Tapi kalau kamu bilang tunggu, aku akan tunggu kamu, sampai kapan pun. Aku minta maaf lagi karena maksa kamu ngedengerin semua ini.” fiuh… semuanya sudah keluar, tapi Valdi masih diam. Jangan-jangan dia tidak mendengarkan?

”Vi, udah selesai ngomongnya?”

”U…udah…” aduh, sepertinya dia benar-benar marah.

”Dasar seenaknya!” Valdi membentakku. Duh, dia benar-benar marah.

”Maaf, aku tau. Makasih udah mau dengerin.” Aduh, aku nggak tahan, pengen nangis. Gini ya rasanya ditolak.

”Vi, mau kabur ya! Udah maksa orang dengerin kamu. Gantian dengerin aku sampai selesai dong.” Valdi masih marah-marah. Tapi ini marah-marahnya yang biasa.

”Kamu itu memang seenaknya, menggantungkan keputusan hidup kamu sama orang lain. Orang bodoh mana yang nggak sadar sama kelakuan kamu yang jelas banget kaya’ gitu. Kamu ngerasa ngebohongin aku? Nggak bisa Vi, kamu bukan orang yang bisa bohong. Aku tau kok kalau kamu suka sama aku.”

”Tapi kok kamu biarin aku…”

”Dengerin dulu dong. Memangnya aku bilang boleh ngomong?”

”Maaf, iya aku dengerin.”

”Aku tuh memang nggak suka kalau orang yang nggak aku sukain seliweran di depanku. Ngeganggu kan! Aku biarin kamu karena buatku kamu nggak ngeganggu. Aku boleh tau siapa yang ngelamar kamu?”

”Temen di kampus, mungkin kamu juga kenal. Chandra”

Valdi diam saja. Aku menunggu, tapi sebenarnya keinginan utamaku adalah kabur, takut dimarahi lagi.

”Kalau gitu tunggu aku!” Valdi menjawab sangat lirih, sampai tidak kedengaran.

”Hah? Apa Di?”

”Dasar! Tunggu aku! Aku nggak mau ngulangi lagi! Malu tau! Udah ya. Assalamu’alaikum.” Valdi menutup teleponnya.

Gila, aku jadi senyum-senyum sendiri. Tapi nangis yang tadi tetep lanjut, cuma beda versi. Kali ini nangis karena diterima. Valdi nggak berubah, tetap dingin dan malu-malu kalau masalah ini. Tapi aku nggak salah denger kan dia bilang ’tunggu’. Ups, ada sms masuk. Dari…valdi?

<Assalamu’alaikum, Vi kalau belum jelas juga sekali lagi aku bilang, tunggu aku. Aku harus bilang dulu ke orangtuaku karena ini belum aku rencanakan dan belum aku bicarakan dengan mereka. Nanti kuhubungi lagi.>

<Assalamu’alaikum. Ndra, Zal, Valdi bilang ’tunggu aku’.>

Message Send. Delivered to Rizal. Delivered to Chan-chan.

2 thoughts on “Vanish (Part 17 – End)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s