Sister Complex (part 11)

Akhirnya, setelah sedikit lari-lari mengejar bus dapet tempat duduk yang sampingan sama Zalie. Bagaimanapun ini perjalanan yang lumayan jauh tanpa mama-papa pertamaku. Zalie menyuruhku duduk di samping jendela. Kebetulan ini bus executive, jadi bangkunya berdua. Beberapa menit setelah merasa agak nyaman, Zalie mengeluarkan mp4nya. Aku penasaran dia ngedengerin apa, jadi aku rebut aja earphone-nya sebelah.

“Dengerin apa sih! Bagi-bagi dunk!” aku memasang earphone itu ke telingaku.

“Doa pagi…” Zalie menjawab tenang, sambil mencari-cari sesuatu di sakunya. Tak lama kemudian dia menyodorkan buku imut berjudul Al Ma’tsurat Sughra kepadaku.

“Ini, aku alhamdulillah udah hafal siy, jadi kamu kalo’ mau ikutan lihat aja. Tapi jangan dibaca keras-keras, ntar kamu dilempar sama orang dibelakang, he..he…”

Aku masih bingung, aku membuka-buka buku kecil itu sambil mendengarkan mp4nya Zalie dengan earphone yang cuma sebelah.

“Mau diulang lagi nggak?” Zalie menawarkan merewind almatsurat versi suara digitalnya.

“Nggak, terusin aja. Udah ketemu kok bacaannya sampai mana.”

Zalie kembali terdiam sambil melihat ke bangku sekitar kami. Sumpeh deh, dia cool banget. Mungkin nggak ya orang-orang ngira kita ini lagi pacaran? Hwa ha..ha….itu sih enak di aku nggak enak di dia…

Setelah satu jam perjalanan Zalie tertidur, sepertinya tubuhnya memang belum terlalu fit. Dia maksa sih…, orang-orang di sekitar kami juga semuanya tertidur pulas. Aku terbangun karena ini sebenarnya udah waktunya aku memasukkan sesuatu ke lambungku, he…he…. Aku membuka keripik yang dibawakan mama, ternyata Zalie juga terbangun karena suara keripik yang kumakan.

“Mau donk,” Zalie merampas bungkusan keripik di tanganku. Aku cuma bengong. Nih orang emang gak bisa ditebak. Kadang terlalu dewasa, kadang kaya anak kecil, kadang sok manis, kadang sok cool. Ya Allah berikanlah dia istri yang sabar nantinya.

“Masih lama ya Lie nyampenya?”,

“Hm…lumayan…baru juga bentar”, dia akhirnya berhasil menghabiskan bungkusan keripik singkong yang pertama dan mulai melirik bungkusan kedua yang berisi bagelan. Tapi melihat reaksiku yang spontan menutupi tas yang dibawakan mama tadi. Dia langsung manyun.

“Apa Echi beneran gak apa-apa ya Lie?” Aku sadar mataku meredup, karena tiba-tiba aq mengingat Echi. Dia saat ini pasti sedang berjuang melawan rasa sakitnya.

“Kamu percaya takdir Allah kan? Kita hanya bisa usaha semaksimal mungkin dan berdoa, sisanya Allah yang mengatur.” Wajah manyun dan kekanak-kanakan Zalie tiba-tiba menghilang.

“Aku cuma ngerasa belum menjadi sahabat yang baik buat dia. Padahal dia segitu cintanya sama aku, em…maksudku sayang. Rasanya aku terus-terusan menjadi penerima segala macam tetek bengek persahabatan darinya. Aku jarang membalas senyumnya, kadang menganggap garing candaannya, tak pernah memberinya cokelat kalau dia sedih, membodoh-bodohkan masalah percintaannya…ah…aku ini bukan sahabat yang baik”. Aku menunduk lagi.

“Memberi dan menerima itu kan bagian dari persahabatan itu sendiri Zie. Mungkin cara kalian menyampaikan perasaan sayang itu beda. Echi mungkin lebih ekspresif, memeluk, tertawa, emosinya lebih tersampaikan. Tapi kamu beda Zie, aku kenal kamu. Kamu yang menangis ketika mendengar dia masuk rumah sakit. Kamu yang tiap hari uring-uringan menanti surat darinya. Kamu yang selalu menulis di buku harian pemberiannya. Kalau menurutku sebagai orang ketiga di persahabatan kalian. Kalian saling memberi kasih sayang dengan seimbang kok. Mungkin dibandingkan cokelat, Echi lebih senang kamu berikan omelan atau sekedar sms singkat ‘Dasar Bodoh!’ khasmu. Makanya kamu jangan pasang muka aneh kaya gitu” Zalie tertawa sambil menjitak kepalaku dengan mp4 yang dipegangnya. Aku masih di dalam pikiranku sendiri dan tidak merespon.

“Tumben nggak ngambek kujitak, sini dunk bungkusan makanannya. Aku masih laper nih! Kamu tidur aja sana! Masih lama kok.” Zalie lagi-lagi melirik ke bungkusan yang kupegang. Tapi kali ini lirikannya senada dengan gerak tangannya jadi bungkusan itu tak bisa kuselamatkan.

“Sisain ya…, kayanya aku memang masih ngantuk.”

“Iya, adikku sayang…”

Huekkks…. Aku menjulurkan lidah sambil memasang tampang habis muntah. Sepertinya perjalanan ini akan kunikmati dengan tidur saja, dari pada aku terus-terusan berkelahi kata-kata dengan Zalie yang sudah pasti tak akan pernah menang. Jadi sebaiknya kusimpan saja energiku untuk nanti.

Zalie sepertinya asyik mendengarkan nasyid sambil makan. Aku tak habis pikir melihat cara makannya, lari kemana makanan sebanyak itu? Dasar cowok! Aku hanya geleng-geleng kepala. Marka jalan yang barusan terlintas menuliskan angka 200 kilometer ke tempat yang kutuju. Wah, masih jauh. Walaupun kantukku sudah berkurang sebaiknya kupejamkan mata saja. Menyelamatkan diri dari keisengan Zalie, karena dia sudah mulai menggangguku dengan lirikan mata dan pose tak mau membagi makanan yang kekanak-kanakan.

***

5 thoughts on “Sister Complex (part 11)

  1. sedikit bingung..coz g ngikutin dari awal… boleh di undah g ceritanya dari awal?? buat bacaan sebelum tidur… huekeke

    • sedikit bingung..coz g ngikutin dari awal…

      Karena belom selesai, jadi aq gak masukin versi unduhnya, kalo mau baca, sementara harus lbuka-buka halaman per chapternya di kategori “Sister Complex”.
      Kalo yang satu lagi, “Vanish” alhamdulillah dah nyampe ending dan udah aq upload versi unduhnya, tapi kynya rada bermasalah.
      Kl emang mau versi draft, hubungi aq saja, hehehe

  2. HUAA.. DIKIT GAG NGERTI SMA KYK YANG LAEN NI GAG NGIKUTIN DARI AWAL.
    TAPI NOT BAD KUQ… BAGUS MALAH! HO..HO..HO..

  3. Pingback: [untitled] « Rei Sora’s Story

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s