Deduktif – Induktif

Pernah gak berfikir sesuatu yang di luar kebiasaan. Misalnya, tiba-tiba saja ingin merubah pola pikir masyarakat tentang korupsi, atau tiba-tiba ingin tau apa sih sebenarnya yang sedang dikerjakan orang-orang di BPS? Atau mungkin juga penasaran tentang keberadaan data jumlah Sarjana dan pendistribusiannya, atau sekedar bingung seperti apa wujud asli Pelikan, Mammoth dan hal-hal yang tidak biasa difikirkan dalam kehidupan sehari-hari.

Hal-hal tersebut merupakan bagian tak terpisahkan dari suatu proses kreatif. Kebingungan-kebingungan akan membentuk suatu pertanyaan yang akhirnya akan membutuhkan suatu proses lanjutan yang disebut solving problem. Beberapa orang mungkin memang tidak menghiraukan pamikiran-pemikiran yang terlintas seperti ini, tapi beberapa orang lainnya sangat memikirkannya dan melahirkan suatu product berupa jurnal, rekomendasi atau benar-benar produk fisik yang dapat dinikmati oleh orang lain yang kesulitan menghadapi masalah yang mereka hadapi tapi tidak sempat memikirkan solusinya.

Dalam pemikiran dan keseharianq, ada dua tipe pola pikir yang dapat dikembangkan untuk melangkah ke proses kreatif selanjutnya atau hanya berakhir di buku catatan ide. Hal ini pasti pernah dipelajari minimal pada mata pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah menengah dalam kasus pembentukan paragraf. Pola pikir induktif dan deduktif. Jika mengingat kata pola pikir induktif dan deduktif, teringat pada buku Pola Induksi Seorang Eksperimentalis yang disusun oleh salah seorang dosen saya, tentang dosennya.

Terkadang untuk mencapai suatu titik diamana kita dapat berperan utuh untuk menyelesaikan sebuah masalah, kita harus berfikir dari sesuatu yang sangat global kemudian menelusuri sedikit demi sedikit jalur yang sesuai dan mampu kita tempuh hingga akhirnya kita menemukan tempat untuk dapat berperan serta aktif menyelesaikan masalah yang kita fikirkan. Sebaliknya, terkadang kita dapat menuju proses pemecahan masalah dengan melihat hal yang paling khusus dari sumber masalah lalu menelusurinya hingga ke efek terbesar suatu masalah dan lagi-lagi mencari posisi diamana kita dapat ikut serta meneyelesaikan masalah tersebut tanpa menginterupsi suatu proses yang sudah berjalan atau merusak suatu sistem yang telah baik.

Proses deduksi-induksi pernah dijelaskan secara sederhana oleh seorang dosen dengan memisalkan pada undang-undang terorisme dan asas praduga tak bersalah. Di satu sisi, seseorang langsung dijebloskan ke penjara karena diduga penjahat, baru kemudian dijalankan proses pemeriksaan, sedangkan undang-undang lainnya sebaliknya, diperiksa terlebih dahulu untuk memastikan seseorang bersalah baru dijebloskan ke penjara.

Menurutq, inti dari proses deduksi – induksi bukan hanya terletak pada bagaimana suatu problem dapat diselesaikan, atau bagaimana suatu problem dapat dicari sumber masalahnya. Tapi juga bagaimana memposisikan diri sebagai salah satu pihak yang ikut andil dalam menyelesaikan masalahnya, bukan menginterupsi dengan tanpa perhitungan dan tidak melihat keadaan yang sebenarnya sudah ada tapi tidak terlihat dan malah menambah pekerjaan orang-orang yang mungkin sudah bersusah payah merancang suatu perbaikan sistem.

Misalnya saja, pagi ini tiba-tiba aq tertarik untuk memikirkan tentang Indonesian Natural Resource Management. Hal pertama yang aq lakukan tentu saja, karena sedang berada di depan laptop dengan jaringan internet adalah mengetikkan keyword itu ke isian Google Search, dengan harapan ada suatu model atau keadaan saat ini yang dapat menambah informasiq tentang apa yang akan kufikirkan. Semua informasi masih kulahap begitu saja, belum diproses menuju tahap selanjutnya, tapi beberapa hal yang aq temukan adalah bahwa ternyata banyak orang yang juga memikirkan tentang hal ini. Ditandai dengan banyaknya tulisan yang “mungkin” berkaitan dengan apa yang sedang aq fikirkan.

Yang ada dalam fikiranq tadi pagi adalah pertanyaan-pertanyaan:
1. Siapa ya yang paling berhak mengatur pengelolaan sumber daya alam Indonesia yang kaya ini?
2. Kalau biro atau departemen dan dilakukan secara parsial oleh setiap biro dan departemen tanpa saling koordinasi dan membahas secara utuh eksisting kebutuhan rakyat dan ketersediaan sumber daya yang ada mungkinkan terkelola dengan baik?
3. Apakah ada suatu perencanaan utuh tentang pengelolaan seluruh sumber daya alam (catat: tidak secara parsial) yang memperhitungkan kebutuhan dari data yang diambil secara akurat, untuk membatasi eksploitasi berlebihan dan penyelewengan dana-dana yang sebenarnya merugikan negara?
4. Apakah ada program pembangunan jangka panjang yang disepakati bersama oleh rakyat, sehingga berkesinambungan dan tidak terputus saat pergantian pemimpin?
5. Apakah ada ukuran-ukuran kuantitatif dan kualitatif yang mengontrol sistem yang telah atau akan berjalan secara transparan sehingga masyarakat tidak merasa dibohongi atau terotorisasi dengan semua kebijakan yang dilakukan pemerintah?

Hm…jujur aja, ngomongq jadi kemana-mana ya..tapi itu cuma sekedar sesuatu yang ada dalam fikiran..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s