Book Shelf

Ngeliat tumpukan buku di kamar rasanya kasihan. Padahal tadinya buku-buku itu udah mau ditaruh di raknya waktu masih di kost di kota hujan itu. Tapi apa daya, nampaknya rak itu belum berjodoh dengan buku-bukuq. Sekarang dengan kasus diriku yang masih nomaden mengakibatkan buku-buku itu juga harus diangkut kesana kemari. Memang jarang kubaca semuanya. Tapi kalau kukirim pulang ke rumah pun dirumah cuma bakal jadi barang pajangan, karena mama, papa dan adikq tidak terlalu suka membaca. Inget perpustakaan yang dulu dibuat papa. Hm, sebenernya siy simpel.Tadinya itu cuma lemari yang dibuat untuk pembatas ruangan. Tapi karena papaq punya banyak buku diktat kuliah dan dibuang sayang (tipikal yang sama denganq) jadinya papaq membuat pembatas itu jadi lemari buku yang luayan besar. Dulu seingetku siy muat untuk bukunya mama, papa, aq dan adikq. Bukuku yang masih terpajang disitu mulai dari catatan sekolah waktu masih di MTs, sampai aq lulus SMA. Terakhir kali melihat, lemari itu sudah berpindah ke dapur/bersama isi-isinya fungsinya sudah berubah menjadi setengah gudang dan tiap hari menemani mamaku memasak dan mencuci piring, wkk😀

Buku-buku itu masih ada disana, dengan kondisi yang cukup mengenaskan. Di bagian paling atas aq ingat kumpulan majalah komputer dan Tempo yang mengenalkanq dengan dunia elektronik dan sosial politik nusantara, di tengah ada diktat kuliah papaku yang menemaniku belajar bahasa inggris waktu kelas I MTs (ngelunjak, anak SMP baca diktat kuliah, hahaha), dan majalah Annida dan buku-buku hadiah teman-teman waktu masih aktif di Rohis (masa lalu yang manis ^_^) serta kumpulan catatan-catatanku yang memperlihatkan perubahan genre tulisan tanganku, mulai dari tegak lurus, miring, berbunga-bunga, bahkan sempat nulis pake penggaris, hingga stabil seperti sekarang.

Hm, jadi buku-buku itu mau ditaruh di rak buku mana ya?

Bisa aja aq beli rak buku sekarang, tapi karena masih nomaden rasanya bakal merepotkan kalau pindah lagi. Masa nunggu sampe punya rumah sendiri. Bisa-bisa tuh buku-buku udah gak berupa lagi. Rasanya juga saat ini hampir setengah koleksiku entah kemana. Padahal aq suka buku-buku yang hilang itu. Masa aku harus beli lagi siy😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s