Sister Complex (Part 12)

Akhirnya aku dan kakakku yang ganteng ini sampai juga di Rumah Sakit tempat Echi berada. Rada deg-degan niy, takut ada apa-apa dengan Echi. Zalie segera menelpon tante Icha setelah turun dari angkutan umum terakhir. Beberapa meter dari pintu masuk aku bertemu dengan tante Icha. Raut wajah cantiknya sedikit pudar, ada sedikit sembab bekas tangis dan lingkaran hitam di sekitar matanya.

” Alhamdulillah sampai juga kalian”, Tante Icha langsung memelukku.

“Gimana Echi tante?”, celetuk Zalie tanpa basa-basi.

Tante Icha tersenyum, “Alhamdulillah sudah selesai dan berhasil, berkat do’a kalian juga”.

“Aku boleh ketemu gak Tan?”, sahutku tak sabar.

“Hm… Echi masih si ICU Zie, belum bisa dijenguk. Kalian gabung dengan Danar saja. Dari kemarin dia belum makan tuh, Tante jadi khawatir…” Tante Icha berjalan mendahului kami menyusuri lorong-lorong rumah sakit.

“Hah, Danar udah disini? Dasar dia, padahal kemaren pas pulang sekolah sempet papasan.” Aku ngedumel sendiri sembari mengikuti Tante Icha dari belakang. Zalie masih sibuk membetulkan mp4 yang menempel di telinganya.

“Iya dia kemaren langsung kesini pulang sekolah, kayanya sempet basah-basahan gitu,” sahut Tante Icha.

“Emang pejuang cinta sejati…,” aku dan Tante Icha sama-sama tertawa kecil.

Beberapa saat kemudian aku menemukan Danar terduduk lesu dengan wajah ngantuk dan pakaian yang seperti Tante Icha bilang, seperti habis basah dan kering di badan. Duuuh malangnya nasib temenku yang satu ini. Zalie langsung menghampiri Danar yang baru menyadari kehadiran kami. Mereka langsung bersalaman. Danar terlihat memasang senyum terpaksa, yaah aku tau sih dia pasti masih merasa belum lega sampai bisa melihat Echi siuman dan tertawa lagi dengannya.

“Tante ke bagian administrasi dulu ya,” Tante Icha pamit dan meninggalkan kami bertiga.

“OK Tante,” sahutku.

“Kamu dari kapan disini Nar?”, tanyaku protes.

“Dari kemaren malem,” sahut Danar sambil tersenyum datar khasnya.

“Kok kamu gak bilang siy mau kesini, tau gitu kan bareng aja…”

“Saya nggak tau kamu mau kesini Zie, lagipula kemaren kan hujan. Nanti saya dimarahin Kak Zalie,” jawab Danar sambil melirik ke Zalie.

“Hehe, iya siy. Oiya, kata Tante Icha kamu belum makan, makan yuk..,” ajakku.

“Udah sholat belum? Sholat dulu aja yuk.” Sahut Zalie sambil mengecek waktu di jam tangannya.

“Alhamdulillah udah kok, kak Zalie ama Zie silahkan sholat aja dulu.” Danar mempersilahkan.

“Yaah, Zalie ih…orang suruh Tante Icha suruh ngajak Danar sholat dulu,” protesku sambil manyun.

“Iya tapi kan ini dah masuk dzuhur sayang..,” Zalie mengeluarkan senyuman mautnya, mati deh aku.

“Iya..iya ampuun. Aku sholat dulu ya Nar, nitip tas, hehe..”

“Mushollanya dimana ya?” tanya Zalie ke Danar.

“Lurus aja, ntar belok kiri Kak..”

Rumah sakit ini punya musholla yang lumayan luas, terletak tepat di tengah taman yang dikelilingi lorong-lorong seperti rumah sakit pada umumnya. Mushollanya lumayan adem, karena terbuat dari bahan yang sebagian besar kayu dan dicat warna natural yang senada dengan suasana taman. Wah, aku curiga banyak yang numpang tidur disini niy. Tapi ternyata pas kusambangi, semua orang disitu lagi sholat (ya iya lah di musholla, hahaha). Mungkin masing-masing mereka sedang berdoa untuk kesembuhan kerabat mereka. Semoga Echi baik-baik saja…

Setelah sholat aq dan Zalie kambali menemui Danar yang posisi duduk dan ekspresi wajahnya nggak berubah sejak kita tinggalkan tadi. Tante Icha juga belum kembali ke tempat kami berkumpul. Mungkin sibuk kesana-kesini mengurus masalah administrasi.

“Yawdah makan yuk… Tante Icha dah makan belum ya.” Celetuk Zalie sambil mengambil tas yang tergeletak di sebelah Danar.

“Om Zul sama Tante Icha tadi udah makan kok,” jawab Danar.

“Kenapa kamu gak ikut makan?”, tanyaku ketus.

“Saya standby, barangkali tiba-tiba ada apa-apa sama Echi.”

“Heuh, dasar pangeran cinta kesiangan. Cium sono coba, kali bangun putrinya.Wkkk..”

“Hush…,” Zalie menjitak kepalaku, aku langsung manyun. Danar akhirnya tertawa.

Tak lama kemudian Tante Icha dan Om Zul menghampiri kami bertiga.

“Apa kabar Zalie, Zie…” Om Zul menjabat tangan Zalie sambil melirik ke arahku.

“Baik Om…,” jawabku dan Zalie serentak.

“Mama sama papa mungkin sore baru kesini Om,” aku baru ingat pesan mama.

“Oh iya, tadi papa kamu juga sudah telpon Om kok.”

“Belum pada makan kan? Ikut yuk, ada rumah makan enak deket sini,” lanjut Om Zul.

“Danar, kamu ikut saja, biar Tante yang jagain Icha.” Tante Icha merespon gelagat Danar yang rada ogah-ogahan tak berselera makan.

“Iya kamu, aku aduin ke Echi niy kalo dia bangun, biar kamu diomelin,” aku mencoba membantu memaksa Danar makan.

“Ayo Danar, daripada kamu pingsan pas Echi bangun,” celetuk Zalie.

Danar langsung berubah air muka, sepertinya masih menganggap Zalie sebagai saingan.

“Ya udah, Tante saya tinggal dulu ya… Kalau boleh kalau ada perkembangan apa-apa sms saya.” Danar berpamitan ke Tante Icha. Echi… kamu tuh ya…beruntung banget siy disukain Danar.

******

3 thoughts on “Sister Complex (Part 12)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s