Lagi-lagi tentang bersyukur…

Bermegah-megahan telah melalaikan kamu[1] , sampai kamu masuk ke dalam kubur[2] . Sekali-kali tidak! Kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu)[3], kemudian sekali-kali tidak! Kelak kamu akan mengetahui[4]. Sekali-kali tidak! Sekiranya kamu mengetahui dengan pasti[5], niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahim[6], kemudian kamu benar-benar akan melihatnya dengan mata kepala sendiri[7], kemudian kamu benar-benar akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan (yang megah di dunia itu)[8].

~ Q.S. At Takaatsur [1-8]


Kalau menghitung-hitung nikmat yang Allah berikan, sudah pasti semua orang juga tau, gak akan ada habisnya. Kalau mau diingkari, sudah pasti juga hanya membuat kita malu sendiri. Alhamdulillah selama lebih kurang tiga minggu belakangan ini diberi kesempatan oleh Allah untuk melihat sisi lain dari Indonesia. Sebenernya perginya juga atas nama negara, dengan beban memakai fasilitas uang negara untuk mengawasi kinerja orang-orang yang ‘atas nama pemerintah’ memberikan bantuan kepada masyarakat. Rasanya miris juga siy, tapi karena tidak tahu menahu jadi dipakai saja semua fasilitas yang menurutku terlalu mewah ini dengan niat agar tidak mubazir. Bayangkan saja, seorang bisa menghabiskan lebih dari satu juta sehari hanya untuk perjalanan dinas, yang secara hitung-hitungan hemat mungkin bisa dilakukan wajar dengan hanya setengah atau bahkan seperempatnya. Padahal uangnya mungkin bisa digunakan untuk SPP kuliah si A dan si B beberapa tahun, atau untuk modal usaha bapak C dan ibu D yang tidak punya pekerjaan. Fiuh…

Kalau melihat langsung betapa di beberapa daerah terjadi ketimpangan standar ekonomi masyarakat, rasanya kok ya….sebarannya sudah pasti nggak seragam, hehehe… Jadi inget diskusi alot yang terjadi waktu SMA pas pelajaran PPKn yang membahas masalah tindakan yang boros dan sia-sia. Si A yang koleris idealis mentah-mentah bilang kalau orang yang punya tiga mobil itu sangat boros dan sia-sia, sedangkan si B yang sanguinis liberal bilang, “lho, sah sah saja toh, orang dia mampu gitu loh !” Gyaaaah, habis itu kelas pecah jadi tiga kubu, kubu A, kubu B dan kubu abu-abu… Setelah lama gak selesai-selesai (sampe si ibu guru killer itu pun tak bisa menengahi mereka) akhirnya si E, the best student and the most wise one bilang. “Kalau menurut saya, apa yang dikatakan tidak berlebihan adalah memiliki sesuatu itu sesuai kebutuhan. Kalau misalnya memiliki tiga mobil itu memang kebutuhan yang wajib dipenuhi oleh seseorang dan dia mampu ya dia tidak berlebih-lebihan. Tetapi jika sebenarnya satu mobil cukup, dan dia membeli dua mobil lainnya hanya dalam rangka spending money, ya itu memang berlebih-lebihan.” Ya kira-kira gitu deh opini si temenku yang luar biasa itu, langsung membuka mata kita semua. Langsung damai dah tuh kelas…

Pemikiran ketidakseragaman itu kemudian mengusik beberapa kriteria kemiskinan yang dipaksakan seragam. Misalnya kriteria penerima paket perdana LPG 3 kg yang pengeluaran per bulannya harus di bawah 1,5 juta (udah pernah kubahas di sini), kemudian kriteria segmentasi SES penonton untuk kebutuhan rating televisi dari Nielsen, dan kriteria-kriteria lain yang masih menggunakan rata-rata, padahal tau keragamannya besar banget… (terusik, karena gak sesuai kaidah statistika) itu kan jadi bias… dan jadi masalah ketidaktepatan sasaran pada akhirnya.

Sebenarnya satu hal dasar yang pengen banget aku sorotin itu adalah masalah kepuasan bathin atas dasar kecukupan. Inti dari syukur (kalo menurutku). Kalau tadi aku berjalan-jalan dan melihat keluarga-keluarga yang tinggal di pinggiran sungai kumuh penuh sampah di salah satu kota besar Indonesia, mereka hanya tinggal di sepetak ruangan tiga kali empat dan merasa cukup, masih bisa hidup, insya Allah bahagia. Lantas bagaimana dengan mereka-mereka yang tak pernah cukup dengan satu lantai rumah, tak pernah cukup dengan satu mobil, tak cukup dengan satu HP (menyindir diri sendiri >.<)???? Bukan karena butuh loh, tapi mereka yang hanya mengikuti trendsetter kehidupan.

Kadang aku sendiri mikir, bisa ya si mbak sebelah rumah, nyekolahin anaknya, padahal dianya sendiri gak kerja, suaminya juga gak kerja. Aku membandingkan dengan mbak lainnya yang sibuk menggesek kartu kredit kesana sini (a.k.a berhutang) hanya karena mau undangan ke rumah temen hari sabtu, gak kepikiran tuh dia kalo harga sepatu yang dia beli barusan itu bisa buat makan keluarga si mbak sebelumnya sampe dua hari mungkin. Fiuh…, kadang kita masih salah mengartikan “kebutuhan” itu sendiri kali ya…

Kalau baca kutipan ayat di atas, rasanya merinding. Apakah kita ini masuk kepada golongan yang berlebih-lebihan itu? Semoga saja semua yang kita dapat, miliki, dan inginkan adalah benar-benar yang hak, halal dan mampu disyukuri dengan dimanfaatkan dengan benar. Teoritis banget siy… tapi harus berusaha dilakukan. Jadi zuhud itu pilihan hidup kok. Aku yakin kesederhanaan gak membuat kita jadi terlihat lebih rendah di mata siapa pun. Syukur-syukur mampu memberikan manfaat buat orang lain. Biar hidup jadi lebih hidup yaks… **ngiklan mode: ON**

————

Catatan:
Tuh kan tetep aja ngalor ngidul gak jelas… **ditimpuk yang baca**

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s