Membunuh Rindu

Aku sedang duduk termenung sendiri, tanganku masih bersimbah darah. Aku baru saja membunuh rindu. Saat ini jasadnya sudah tak tampak lagi, aku sudah berhasil menghanyutkannya ke sungai. Biarlah sungai ini akan menjadi pusara rindu. Huff….aku bingung, menyesalkah? tapi dia terlanjur kubunuh… Ah tidak! tidak ada yang salah, biarkan saja dia mati! sehingga tidak ada lagi yang tersiksa karenanya.

Sehari Sebelumnya
“Na, gw kangen banget sama dia. Kalo kaya gini terus lama-lama gw bisa mati.” Desita menangis tersedu-sedu di hadapanku. Sudah hampir setahun, Edo, kekasih yang didapatkannya dengan susah payah, mengorbankan banyak mimpi dan keinginan Desita, pergi mengejar keinginannya. Bukannya Edo tak setia, bukan…, hanya jarak fisik saja yang memisahkan mereka.

“Ah, lu lebay amat Des…Lu kan masih bisa nelpon, masih bisa sms, kirim surat, apa kek…kayanya sekarang ini zaman udah maju. Banyak deh yang bisa ngilangin rindu lu itu.” jawabku menenangkan setengah sewot.

“Gak bisa gitu Na, rindu gak bisa hilang semudah itu…Tau gak sih lu, sejak pelayarannya yang terakhir ke Thailand, Edo susah banget dihubungi. Sms gw jarang dibales, kalo gw nelpon jarang diangkat, kalo nelpon juga dia suka buru-buru nutup. Gw kan jadi khawatir Na, jangan-jangan ada cewek lain disitu…,” Desita kembali berkaca-kaca.

“Makan tuh kekhawatiran lu sendiri! Orang lu sendiri yang nyiptain ketakutan lu..” sahutku dalam hati. Tapi tak berani kuungkapkan, karena bagaimanapun lebaynya cewek di hadapanku ini. Dia adalah sahabat yang paling aku sayangi.

“Tenang aja Des, gw percaya sama Edo, toh selama ini dia gak pernah macem-macem. Kali aja dia lagi sibuk, ato lagi susah sinyal. Yah, banyak deh yang bikin dia jadi sedikit terasa cuek sama lu.” Aku beranjak meninggalkan Desita yang masih terisak. Sepertinya daripada aku, dia lebih butuh waktu untuk menetralisir pikiran-pikiran anehnya itu. Percuma saja apapun yang aku katakan kalau dia masih tenggelam dalam prasangka buruknya itu.

Dua minggu yang lalu
Aku baru saja pulang dari kantor, saat sayup-sayup kudengar suara isakan mama di kamarnya. Sepertinya ia baru selesai sholat isya. Aku mengintip penuh penasaran, apa yang membuat mamaku menangis kali ini? Ternyata itu… mama sedang memegang foto papa. Dia telah meninggalkannya hampir lima tahun yang lalu, tapi sepertinya lukanya belum kering. Laki-laki yang katanya papaku itu pergi begitu saja mencampakkan mamaku setelah menikah lagi dengan wanita yang dulu sangat ingin dinikahinya. Aku tak tahu apa yang tertinggal dari darinya, sehingga rindu itu masih hinggap di sela-sela keseharian mama. Aku paham tatapannya, itu bukan benci, itu rindu yang teramat sangat, dan aku benci rindu itu.

Dua bulan yang lalu
“Na, hari ini tepat lima tahun sejak Erin gak ada. Waktu itu kalian baru lulus SMA ya…kalau saja waktu itu Tante bolehin dia kuliah, mungkin sekarang ini dia dah diwisuda kaya kamu ya Na.” Mata Tante Ross menerawang, ada rasa sakit dan penyesalan yang ditahan dalam pandangannya. Erin tetangga sebelah rumahku, meninggal di tempat kerjanya karena kecelakaan. Erin gadis manis yang periang dan pintar, tak pernah mengeluh, hanya sekali-kalinya meninginkan satu hal dalam hidupnya, kuliah. Tapi Tante Ross yang hanya tukang jahit musiman dan suaminya yang hanya tukang ojek tidak sanggup mengabulkan keinginan Erin, buah hati mereka satu-satunya.

Sejak penolakan halus yang sangat disesali di kemudian hari oleh ibunya, Erin tidak pernah meminta ataupun menyinggung apa-apa lagi tentang kuliah, karena ia tau, ibunya bukannya tak ingin, tapi tak mampu. Erin selalu berangkat kerja dengan senyuman dan kecupan hangat di tangan ibu dan ayahnya. Senyuman yang sama yang ia lontarkan ketika setiap hari aku dan dia berangkat sekolah bersama. Senyuman yang selalu membuat Erin tampak sangat cantik dan berwibawa meskipun terseok-seok dengan segala macam urusan administrasi dan keuangan yang membuatnya selalu jadi bahan cemoohan. Tapi Erin tetap Erin, hal semacam itu tidak pernah membuatnya putus bercita-cita menjadi seorang guru. Pagi itu Erin berangkat kerja seperti biasa, dengan senyum manis dan salam yang biasa, serta satu pesan singkat seperti biasa, “Semoga hari ini lebih baik dari kemarin ya Bu”, dan…ia pulang tanpa nyawa, tapi masih dengan senyuman yang sama.

“Na, tante rindu sama Erin”, mata Tante Ross mulai berkaca-kaca.

Setahun yang lalu
“Tinaaaaaa, akhirnya gw lulus juga. Makasih bangeeeet, lu udah nemenin gw selama ini. Gak ada deh temen yang sebaik elu… Sebagai ucapan terima kasih, nih gw kasih sapu tangan yang gw pake buat lap keringet tadi pas sidang ke elu. Hahaha..” Nazar meletakkan sapu tangan basah ke tanganku.

“Sialan lu Zar,” aku kembali melempar sapu tangan itu ke wajahnya. Tapi bukannya marah, yang dilempar malah tertawa semakin keras. Susah deh yang lagi bahagia, malah aku yang terlihat bodoh.

Laki-laki di hadapanku ini adalah Nazar, yang juga menjadi nazarku untuk mendapatkan hatinya. Tapi dia juga Nazar, yang menjadi Nazar banyak orang. Tak sepantasnya aku yang hanya “teman” ini mengganggu semua nazar yang dibebankan padanya. Aku tidak mengharapkan cintanya, hanya ingin menjadi sesuatu yang mungkin tak mudah ia lupakan begitu saja dalam perjalanan hidupnya.

“Jadi Na, dengan begini, gw resmi lulus, dan….gw harus berangkat ke Jepang. Gw harus mengejar cita-cita gw yang masih banyaaak bangeeet… Tapi….sebelumnya, gw boleh minta tolong gak, satu…lagi… please…,” Nazar tiba-tiba memasang wajah serius.

“Apa siy permintaan lu yang gak gw jabanin,” jawabku sekenanya.

“Tolong tunggu gw Na, setahun aja. Tar gw jemput lu, kita sama-sama ke Jepang.” Sebuah senyuman tersungging di wajah Nazar.

“Maksud lu?, ” aku masih tidak mengerti.

“Lu baru lulus tahun depan kan Na, gw gak bisa nikahin lu sekarang. Jadi tunggu gw, setahuun…ajaa.. Sekalian gw kumpulin uang, biar kita bisa sama-sama tinggal di Jepang.” Jawab Nazar terbata-bata.

“Hah?,” aku masih tidak percaya.

“Gw suka ama lu Na, serius. Gw pengennya langsung nikahin lu, tapi lu kan belom lulus. Gw gak mau lu putus kuliah gara-gara keegoisan gw. So…would u mind to wait for me, just one year?” Nazar mengulang pertanyaannya.

I’ll be right here waiting…” Sebuah senyuman kecil dan rasa syukur menyatu dalam senyumanku untuk Nazar.

“Gw bakal kangen banget ama lu Na,” lanjut Nazar singkat.

“Gw juga,” sahutku dalam hati. Bahkan saat ini pun rindu itu sudah terbersit. Sesaat setelah aku membayangkan Nazar tak lagi ada di hadapanku.

Enam bulan yang lalu
“Tina, em…gw mau ngasih tau sesuatu, tapi lu yang tabah ya..,” Fahmi tiba-tiba membuka pembicaraan yang serius denganku selepas kuliah.

“Kenapa Mi?,” sebersit ketakutan menderaku.

“Nazar Na,” Fahmi menyebutkan satu nama yang sangat awam di telingaku. Mataku mulai panas, Fahmi memasang raut wajah yang membuatku membayangkan hal-hal aneh telah terjadi pada Nazar.

“Nazar kenapa Mi? Kasitau gw!!” aku mulai panik.

“Nazar udah gak ada Na,” sahut Fahmi lirih.

Air mata yang entah sejak kapan membuat mataku panas tidak jadi keluar. Sebagai gantinya, tubuhku limbung, sekitarku terasa berputar dan kemudian menjadi gelap. Terakhir kali kudengar Fahmi masih memanggil-manggil namaku, tapi aku tak kuasa meresponnya.

Aku sadar hampir dua jam kemudian. Aku tergeletak di kasurku sendiri. Masih terasa sesak, karena aku dapat mengingat dengan jelas semua yang dikatakan Fahmi. Nazar pergi, selamanya. Tadi bukan mimpi, aku yakin, karena aku melihat mama menangis. Sesaat setelah melihatku siuman ia memelukku erat dan berkata, ” Tina, sabar ya Nak, semua cuma titipan Allah.” kata-kata itu seperti kunci yang membuka bendungan air mata yang tidak jadi keluar sebelumnya, air mata itu mengalir perlahan, kemudian menjadi deras bercampur isakan. Aku tidak tahu apa yang aku rasakan, rasanya hampa. Aku tidak melihat Nazar disini, aku tidak melihat tubuhnya yang menjadi kaku, tidak juga melihat bibirnya yang biasa tersenyum itu menjadi kelu. Allah, tiba-tiba saja aku sangat merindukannya.

Tiga bulan yang lalu
“Na, lu baik-baik aja kan?” Desita menghampiriku.

“Baik, kenapa emang?” jawabku datar.

“Gw khawatir aja, lu keliatan biasa-biasa aja sejak hari itu.”

“Hari apa?” aku mengerutkan dahi.

“Hari Nazar gak ada,” jawab Desita sangat lirih dan hati-hati.

“Oooh, kenapa emang? Gak apa-apa kan? Trus gw harus gimana dunk? Gw harus nangis terus gitu, ngeratapin dia yang udah gak mungkin balik lagi?” Jawabku sambil tersenyum datar.

“Lu emang aneh Na, emangnya lu gak ngerasa kehilangan gitu? kangen ato rindu?” lanjut Desita.

“Rindu? siapa tuh? Haha..” sahutku sambil berlalu meninggalkan Desita yang kebingungan.

Rindu? Dia sudah lama tidak menghampiriku. Mungkin sejak kuusir dia pergi sehari setelah kepergian Nazar. Ia pergo dengan sukarela setelah aku membentaknya. ” Buat apa lu dateng lagi! Percuma kan gw rindu Nazar! Dia gak akan pernah balik lagi! Gw benci sama lu!! Pergi lu! Jangan deketin gw lagi!!”

Pagi ini, 17 menit setelah meninggalkan rumah
“Hai, apa kabar Na? Masih inget gw?” Suara yang aku kenal dengan baik tiba-tiba mendekatiku. Aku sengaja mempercepat langkahku, tapi entah kenapa tiba-tiba ia sudah kembali menjajari langkahku.

“Ngapain lu nemuin gw lagi!” sahutku sinis.

“Hahaha, sinis amat sih lu! Gw cuma kebetulan liat, tadi pagi lu liatin foto Nazar agak lama. Makanya gw samperin lu.”

“Gw gak mau ketemu lu lagi! Gw udah bilang kan?” bentakku.

“Tapi hati lu gak bilang gitu Na..” suaranya yang tadi mengejek menjadi lembut.

Bullshit!! Tau apa lu tentang hati gw!”

“Hemm…oiya!! Gw juga tau, beberapa hari yang lalu lu sempet ngeliatin sepeda yang dibeliin bokap lu kan? Lo kangen kan ama dia?” lanjut rindu seolah hampir menang.

“Sok tau lu!! Gw cuma mikir tuh sepeda berapa harganya kalo gw jual!,” jawabku lagi.

“Tina…Tina…gak usah munafik deh lu! Hati lu yang manggil gw, makanya gw dateng…”

“Berisik banget siy lu! Sok tau lu!!,” kesabaranku mulai habis.

“Lho! gw kan cuma ngomong kenyataan. Lu tuh masih manusia..pasti pernah lah, sebersit aja lu manggil gw. Ya kan? Ngaku deh Na…,” rindu kembali mencibir.

“Lu bisa diem gak siy!” aku menghentikan langkahku. “Kalo gak gw bakal…” wajahku sepertinya sudah merah padam menahan amarah.

“Lu bakal apa Na?” sahut rindu santai.

Aku langsung menarik tangan rindu, mendorongnya hingga jatuh terjerembab. Rindu mengaduh kesakitan. Darah segar mengalir dari kepalanya. Aku kalap, aku menyeret rindu yang sedang tak mampu melawan terus ke bawah jembatan. Aku yakin saat itu tidak ada orang yang melihat. Aku menyeretnya terus hingga ke tepi sungai. Rindu masih meronta, kali ini aku mendorongnya keras ke dinding penyangga jembatan. Kelebatan rasa perih yang kurasakan, Desita, Mama, Tante Ross dan mungkin berjuta-juta manusia di luar sana membuatku semakin kalap, aku terus menyakiti rindu hingga ia tak bergerak lagi. Rindu mati…

pratigina© Buitenzorg, 9 Maret 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s