Undescribable – Karena Buku

Minggu ini, sudah dua kali aku menangis, dengan alasan yang mungkin tidak bisa kumengerti juga. Tapi sumbernya aku tau, karena membaca. Aku sedang tidak menstruasi, kondisi paling rentan dengan sensitivitas tinggi, dan hei aku bukan orang yang gampang menangis karena film atau buku. Kali pertama tiga malam yang lalu, aku merasa seperti anak kecil yang menginginkan sesuatu tetapi tidak terpenuhi. Aku marah pada keadaan, marah pada diri sendiri, dan merasa bodoh, karena semua kecengenganku itu tak mampu mengubah apapun. Aku yang sedang online juga akhirnya memutuskan untuk tidur dini, karena dengan keadaan seperti itu akan banyak kata-kata pedas dan pemikiran yang tidak logis, tidak adil untuk siapapun teman chat yang jadi korban. “Kamu masih aja gak jelas!” balas seorang teman dalam chatnya. Jadi ingat sebuah hadits.

Diiriwayatkan dari Abdullah bin Umar RA katanya Rasulullah SAW telah bersabda: “Wahai kaum wanita! Bersedekahlah kamu dan perbanyaklah istighfar, yaitu memohon ampun. Karena aku melihat kaum wanitalah yang lebih banyak menjadi penghuni neraka.” Seorang wanita yang cukup pintar di antara mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, kenapa kami kaum wanita yang lebih banyak menjadi penghuni neraka?” Rasulullah SAW bersabda: “Kamu banyak mengutuk dan mengingkari suami. Aku tidak melihat mereka yang kekurangan akal dan agama yang lebih menguasai pemilik akal, dari golongan kamu.” Wanita itu bertanya lagi: “Wahai Rasulullah! Apakah maksud kekurangan akal dan agama itu?” Rasulullah SAW bersabda: “Maksud kekurangan akal ialah persaksian dua wanita sama dengan persaksian seorang lelaki. Inilah yang dikatakan kekurangan akal. Begitu juga wanita tidak mengerjakan sholat pada malam-malam yang dilaluinya kemudian berbuka pada bulan Ramadhan karena haid. Maka inilah yang dikatakan kekurangan agama.”
[Shahih Bukhori-Muslim, Kitab tentang Iman]

Apa yang mengusikku malam itu? Suatu keegoisan tinggi tentang kemampuan dan ketiadaan kesempatan. Melawan takdirkah pikiranku malam itu? Aku hanya bisa beristighfar, karena dibalik semua protesku terhadap keadaan itu, aku menyumbang kemalasan dan sikap acuh yang berlalu tanpa pernah boleh kusesali, no regret life. So?aku kembali dalam keterpurukan. Malam itu, berakhir dengan ucapan salam seseorang yang menjadi tumpahan semua buah pikir dan perasaanku. Maafin aku yang suka gak jelas ini ya..😥

Ilmu itu cahaya, dan tidak akan datang pada mereka yang suka gelap-gelapan. Ah, disinilah letak kebodohanku aku ini sangat suka gelap-gelapan. Tapi memang nikmatnya terang adalah ketika dalam kegelapan.  Huff, aku membela diri (salah satu kebodohan lainnya). Aku sampai saat ini masih terkontaminasi dengan ketidakpuasan dalam hatiku yang seharusnya mampu kunetralkan, sampai ingin mengumpat rasanya.😡 So let it go? Gak!! Aku ingin ini dan itu dengan semua keterbatasanku, kalau aq biarkan ia mengambang dalam fikiranku saat ini, suatu hari nanti aq akan kembali memikirkannya lagi, karena semua itu hanya membuat penasaran. Apa sih sebenarnya sumber ketidakjelasan ini? Mencari ilmu!

Aku yakin dengan waktu senggang yang melimpah ruah yang aku punya saat ini seharusnya banyak hal yang bisa kulakukan dan kuperoleh, tapi aku ini pemalas dan pengecut bukan? Ya sebagian diriku mengakuinya. Aku melongok ke atas dan ke bawah, ke atas karena merasa usahaku masih sangat memalukan, dan ke bawah karena merasa hei banyak yang mendapatkan semuanya dengan mudahnya. Akhirnya? lagi-lagi aku stag… Aku harus melakukan sesuatu kan?  Kepalaku ini ada untuk berfikir, dan ini saatnya… aku lagi-lagi harus menata dan bikin targetan yang udah kacau balau!! **sigh**

Kali kedua, baru sejam yang lalu, aku lagi-lagi nangis. Tadi malam, selepas makan malam dan sholat isya, karena janji mentraktir aku diajak mencari buku di Gramedia Botani. Setelah putar-putar dan menyelidik berbagai macam buku, buku yang dicari gak juga ketemu. Saat ditunjuk satu buku, “Buku ini bagus deh, biografinya Muhammad tapi novel gitu.” Aku tertarik sama covernya dan memberanikan diri membuka, aku langsung jatuh cinta. Akhirnya aku ambil satu buku “Muhammad, Lelaki Penggenggam Hujan” dan sepasang buku “Be A Great Couple (Husband & Wife)”.

Sejak tadi malam, aku seperti ditarik-tarik untuk segera membuka buku itu, tapi aku masih harus menyelesaikan De Liefde yang tinggal 100 halaman lagi. Karena benar-benar tertarik, akhirnya aku membuka plastik penutupnya saja tanpa berani membuka isinya. Pagi hari, aku meletakkan buku itu jauh-jauh dan mulai membaca De Liefde, akhirnya pukul 11 lewat sedikit aku berhasil menyelesaikan De Liefde. Aku mengambil buku karangan Tasaro GK itu dan mulai membuka halaman depannya. Ritualku setiap kali hendak membaca buku baru milikku adalah membubuhkan nama dan bulan plus tahun pembelian di kanan atas, halaman pertama, kedua, aku masih terus membaca, dengan setengah rasa ingin kejutan, dan setengah rasa ah aku kan secara umum udah tau jalan cerita kisah Muhammad SAW.

Beberapa lembar pertama yang aku baca menyisakan perasaan wah, aku menemukan sesuatu yang menarik

Astvat-ereta – Maitreya – Bar Nasha – Maleccha – Hamada..

Muhammad SAW diperkenalkan dengan nama yang berbeda-beda, aku lantas penasaran dengan penulisnya. Aku membuka beberapa halaman terakhir “Jejaring Muhammad”, aku dengan lancang langsung membaca bagian terakhir itu, dan buzz..berakhir dengan mengisak. Aku merasa sangat hina dan rendah..

Aku lantas beranjak dan menulis tulisan ini, saat azan aku berjalan setengah anemia ke kamar mandi, berwudhu, dan sholat ashar dengan galau. Aku mencari-cari Dia…aku tak ingat dengan jelas, berapa kali aku merasa mengulang tahiyat, mungkin sholatku lebih dari empat rakaat. Tapi aku tidak menemukannya…apa aku sedang dibenciNya? Naudzubillah…

Kepalaku tak hendak tegak, masih ada rasa sesak, rasanya banyak denyutan yang tak ingin hilang dari sekujur tubuhku, sekarang kucari lagi Dia, entah dimana…tapi ingin kucari, tidak dengan berdiam dalam kegelapan, tapi ingin kucari lagi dalam lembar-lembar yang mungkin akan tetap membuatku menangis lagi dan lagi, Al Qur’an..

senja, hendak dijemputnya,
tapi masih saja ingin menuliskan seribu kata

Buitenzorg, 27 April 2010

8 thoughts on “Undescribable – Karena Buku

  1. Perasaan kemarin lagi bicarain tentang pendidikan yang mahal dan susah?..kok ga’ jadi dituangkan disini?
    apa aku yg salah nangkep?
    *bingung sendiri*

    • @d’spideyisdead:
      ada kok di atas,

      Ilmu itu cahaya, […]. Kepalaku ini ada untuk berfikir, dan ini saatnya… aku lagi-lagi harus menata dan bikin targetan yang udah kacau balau!! **sigh**

      aku udah berhasil menenangkan pikiranku itu kok.. hehehe… sorry kemaren gak jelas🙂

  2. masih belum menemukan penjelasan mengenai pendidikan yang mahal dan susah..
    sudahlah mungkin saya aja yg ga’ bisa nangkep maksudnya..

    • @ spidey-spidey di dinding:
      hyaaah, mungkiin… sudahlah tak usah terlalu difikirkan, saia saja sudah tidak terlalu memikirkannya..
      *brubah-brubah mood mode ON*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s