Pembesar-pembesar yang…

“Dan demikianlah pada setiap negeri Kami jadikan pembesar-pembesar yang jahat[1] agar melakukan tipu daya di negeri itu. Tapi mereka hanya menipu diri sendiri tanpa menyadarinya.”

۞ Q.S Al An’am[6]: 123

Tadi pagi setelah tilawah, seperti biasa sebalum menutup AlQuran Syamil biru kesayanganku aq memilih satu ayat secara random untuk ditadaburi. Pilihanku jatuh pada Surat Al An’am[6] ayat 123. Membacanya pertama kali mengingatkanku pada fenomena di negaraku yang tercinta ini. Para legislatif dan eksekutif yang diekspos media, sering merengek-rengek meminta kemewahan bahkan baru sesaat setelah menjabat, Rumah Dinas, Mobil Dinas, dan sekarang Gedung Kantor? Walah-walah sepertinya mereka harus banyak-banyak beristighfar dan sering-sering membaca Surat At Takāsur yah, hehe…

Kalau dibandingkan dengan masyarakat kelas bawaaaaah…kolong meja, jembatan dan kolong langit…kesenjangan sosial macam ini memang banyaaak banget berceceran di pelosok-pelosok desa bahkan di setiap sudut kota. Miris, tapi ya memang begitu adanya, masalah yang masih juga belum bisa disolved sama semua orang. Kalo inget dulu cerita teman yang sempet mampir ke rumah penampungan milik dinas sosial di kota tempat aq menghabiskan masa SMA, kebanyakan penghuni (pemulung, pengamen, dan tuna wisma) yang susah payah dikumpulkan tidak tahan hidup di tampat penampungan itu. Entah perlakuannya yang kurang baik, atau mereka bosan, tidak mampu bertahan dengan pekerjaan yang coba diajarkan (waktu itu kalo gak salah kerjaan mereka bikin keset dari kaos bekas), karena biasanya dengan meminta-minta atau mengamen mereka bisa dapet uang lebih cepat dan lebih gampang. Heuh, mental bangsaku…😦

Jadi inget film Alangkah Lucunya (Negeri ini) yang isinya menyindir habis-habisan kondisi sosial masyarakat yang ada di Indonesia. Selain ceritanya menyindir habis tentang masalah pendidikan, gaya cerita yang dibuat kocak, dan yang paling menunjukan realita adalah ending dari ceritanya. Pesan yang  tertangkap dari ending ceritanya adalah

“tuan-tuan dan nyonya-nyonya para penonton, masalah ini belum solved di masyarakat kita, jadi film ini ya memang begini saja ujungnya”

Padahal menurut salah satu hadits dari Muslim, bahwa mengemis itu tidak boleh dilakukan oleh seorang muslim kecuali sangaaaat terpaksaaa. Bunyi haditsnya:

عَنْ قَبِيْصَةَ بْنِ مُخَارِقِ الْهِلاَلِيِّ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: تَحَمَّلَتُ حَمَالَةً فَأَتَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَسْأَلُهُ فِيْهَا, فَقَالَ: أَقِمْ حَتَّى تَأْتِيَنَا الصَّدَقَةُ, فَنَأْمُرَ لَكَ بِهَا. قَالَ: ثُمَّ قَالَ: يَا قَبِيْصَةُ, إِنَّ الْمَسْأَلَةَ لاَ تَحِلُّ إِلاَّ ِلأَحَدٍ ثَلاَثَةٍ: رَجُلٌ تَحَمَّلَ حَمَالَةً فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيْبَهَا ثُمَّ يُمْسِكُ, وَرَجُلٌ أَصَابَتْهُ جَائِحَةٌ احْتَاجَتْ مَالَهُ فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيْبَ قِوَامًا مِنْ عَيْشٍ, أوْ قَالَ: سِدَادًا مِنْ عَيْشٍ. وَرَجُلٌ أَصَابَتْهُ فَاقَةٌ حَتَّى يَقُوْمَ ثَلاَثَةٌ مِنْ ذَوِى الْحِجَا مِنْ قَوْمِهِ: لقدْ أَصَابَتْ فُلاَنًا فَاَقَةٌ فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيْبَ قِوَامًا مِنْ عَيْشٍ, أوْ قَالَ: سِدَادًا مِنْ عَيْشٍ. فَمَا سِوَاهُنَّ مِنَ الْمَسْأَلَةِ يَا قَبِيْصَةُ, سُحْتًا يًأْكُلُهَا صَاحِبُهَا سُحْتًا

Artinya:

Qabishah bin Mukhariq al Hilal RA berkata: “aku pernah memikul tanggungan berat (diluar kemampuan), lalu aku datang kepada Rasulullah saw untuk mengadukan hal itu. Kemudian beliau bersabda: “Tunggulah sampai ada sedekah yang datang kepada kami lalu kami perintahkan agar sedekah itu diberikan kepadamu”. Setelah itu beliau bersabda: Hai Qabishah, sesungguhnya meminta-minta itu tidak boleh kecuali bagi salah satu dari tiga golongan, yaitu (1) orang yang memikul beban tanggungan yang berat (diluar kemampuannya), maka dia boleh meminta-minta sehingga setelah cukup lalu berhenti, tidak meminta-minta lagi. (2) Orang yang yang tertimpa musibah yang menghabiskan hartanya, maka dia boleh meminta sampai dia mendapatkan sekadar kebutuhan hidupnya. (3). Orang yang tertimpa kemiskinan sehingga tiga orang yang sehat pikirannya dari kaumnya menganggapnya benar-benar miskin, makia dia boleh meminta sampai dia memperoleh sekadar kebutuhan hidupnya. Sedangkan selain dari tiga golongan tersebut hai Qabishah, maka meminta-minta itu haram yang hasilnya bila dimakan juga juga haram.
(HR. Muslim)[2]

Keadaan mental masyarakat yang super sulit ini, ditambah lagi dengan sifat konsumtif masyarakat level menengah dan sifat kapitalis yang masih menghantui masyarakat level atas. Arrrgh, aq tidak pernah bermaksud untuk mengkelaskan manusia seperti ini, tapi ini untuk memudahkan pembicaraan saja yah, karena manusia itu kan di pandangan Allah sama saja, yang membedakan adalah keimanannya kan ya.. CMIIW.Yah, kesimpulannya jadilah masyarakat yang tidak madani seperti sekarang ini. Kalo mendengar kisah tentang masa kekhalifahan dimana sangat sulit mencari orang untuk menerima zakat (ini sekedar fairy tale ato beneran nyata siy, harus cari referensi lagi), berkebalikan 180 derajat dengan masyarakat Indonesia, yang ketika ada apapun yang judulnya “pembagian xx gratis” bahkan orang yang sebenarnya tidak berhak pun rela berdesak-desakan untuk mengantri.

Kalo menurut pandangan temanku yang ini, konflik yang kompleks di masyarakat itu akan bisa diselesaikan secara perlahan dengan adanya pemimpin yang baik (kaya cerita zaman Rasulullah dulu), makanya sangat penting memberikan pendidikan kepemimpinan bagi anak muda biar nantinya mereka jadi orang yang bener ketika menjadi pemimpin, yah minimal menjadi pemimpin dirinya sendiri dan keluarga lah.

Kalau aq hendak menambahkan opiniku, ini bukan hanya masalah pemimpin yang lurus (menghindari kata benar, mengikut makna shiratal mustaqim dalam Surat Al Fathihah), tapi juga masyarakat yang lurus. Mau tidak mau ini adalah tugas berat semua orang tua (dan para calon orang tua = semua orang), ada misi besar untuk mengubah bangsa. Bagaimana mempertahankan diri untuk tidak terombang-ambing oleh sistem yang udah terbentuk sekian ratus tahun (lebay), susaaaah banget, tapi harus bisa. Bukankah Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali mereka sendiri berusaha mengubahnya? (Surat apa yah ini? lupa :roll:)

Sesungguhnya ini hanya opini semata, daripada ngejelimet ruwet dalam otakq, mending aq tulis aja ya..hoho..
*terancam dilempar batu kali*

——————-
Catatan:
[1] Menurut sebagian mufasir, Akaabira mujrimiihaa artinya adalah para penjahat-penjahat besar
[2] Diambil dari artikel Keharaman Mengemis dalam Islam (eramuslim)  link disini
Eh baru kali ini aq nulis include tulisan Arab, bisa ya ternyata, hoho🙂

Buitenzorg, 5 Mei 2010 (ditambah, direvisi dan dipublikasikan 27 Mei 2010)
pratigina©2010

4 thoughts on “Pembesar-pembesar yang…

  1. Maksudnya “pembesar2 yg jahat” itu bukan pemimpin negeri ini kan?
    *jadi ga enak, komentar di blog ini semuanya dipenuhi oleh nama rismaka hohohohoo

    • @ rismaka:
      Ya, gak tau siy, tapi kata Al Quran ..pada setiap negeri.. siy, jadi di negeri ini juga ada lah..hehe…
      Habisnya kayanya cuma rismaka yang ngeRSS Feed blog aq, hehe…
      Maklum lah kebanyakan isinya gak penting..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s