Kariima Latief, itu namaku..

Sepanjang jalan kulihat wajah-wajah asing berserakan, itu yang namanya cantik ya? Aku terusik dalam bungkam. Bukan terkesima oleh kemolekan tubuh para wanita yang terpajang santai di billboard dan poster itu, aku malah merasa malu, karena rasanya aku yang tengah ditelanjangi oleh semua mata yang melihat mereka. Rasanya sangat menyesakkan, saat beberapa wanita dengan bersusah payah, bahkan mungkin mengorbankan banyak hal untuk menutup auratnya, beberapa wanita lain dengan bangganya mengumbar. Rasanya sakit, sepertinya usaha orang-orang yang pertama tidak dihargai. Hm, mungkin mereka bilang itu hak azasi. Iya ya? Bukankah menutup aurat itu hukumnya wajib? Sama halnya seperti sholat? Aku makin tidak mengerti.

Lambat dan penat, bus yang kutumpangi ini bergerak sangat lambat di jam sibuk. Padahal di luar tengah hujan cukup lebat. Beginilah ibukota, rasanya waktu yang berharga banyak terbuang di jalanan ini. Untungnya ada sesosok wajah di hadapanku yang meskipun terlihat letih masih terasa mesra senyumnya. Ini Latief suamiku, sedari tadi dia berdiri disisiku sambil sesekali tersenyum, seperti hendak berkata kalau dia baik-baik saja. Aku tau dia lelah, lelah karena perjalanan jauh yang kami tempuh, tapi dia masih dengan sigap menyerahkan tempat duduknya pada seorang lansia yang masuk ke bus hanya berselang 5 menit sejak kami duduk.

Aku dibesarkan di desa, pergerakan informasi sangat lambat, meskipun pemahaman masyarakatnya akan Islam tidak syamil, tapi mereka melaksanakan apa yang mereka tahu dan pahami dengan sungguh-sungguh. Sami’na wa atho’na. Dibesarkan dengan segala keterbatasan, aku menjadi orang yang juga hidup apa adanya, tidak pernah menginginkan banyak hal. Satu kata yang selalu kuingat dari ayah adalah, panjang angan itu tidak baik. Apakah salah bermimpi? Tanyaku waktu itu pada ayah. Ayah hanya menjawab dengan tenang, “Tidak salah bermimpi, tapi jalani secara bertahap, syukuri semua yang kita dapat. Melupakan nikmatnya proses saat meraih mimpi membuat kita sering kecewa, makanya tidak salah bermimpi, tapi jalanilah perlahan, faidzaa faraghta fanshob, wa ilaa rabbika faarghab.” Ayah mengutip dua ayat terakhir surat Al Insyiraah. Dia mengajarkanku untuk mementingkan apa yang disebut proses, bukan hasil.

Aku pertama kali berjilbab bukan karena dipaksa atau disuruh oleh orangtuaku, tapi karena sindiran dahsyat dari Al Quran. Aku langsung memakainya, tanpa ragu. Apa yang meragukanku? Itu perintah. Apa lantas aku jadi orang yang suci setelah memakainya? Tidak juga, aku yakin masih banyak dosa dan maksiat yang aku lakukan setelah memakainya, tapi setidaknya, dengan menutupi auratku, aku tidak membuat orang lain juga berdosa karena melihatnya. Setidaknya, dengan memakainya aku menjadi malu apabila ingin berbuat ini dan itu. Itulah yang disebut proses buatku, proses membenahi diri dengan melakukan yang harus kulakukan terlebih dahulu, faidzaa faraghta fanshob, wa ilaa rabbika faarghab.

Kariima Latief, itu namaku..

Bunda adalah wanita yang amat baik dan berbakti pada ayah, tapi dia hanyalah wanita desa biasa, yang belum sampai padanya berbagai ilmu. Aku pun salah, karena tidak berbagi ilmu pada bunda, aku sibuk dengan dunia remajaku. Selembar, dua lembar kerudungku sering dipandangi bunda. Hatiku terenyuh, apa bunda ingin memakainya? Dia sering memakai selendang seadanya ketika pergi pengajian. Tapi tidak di sela-sela hari sibuknya menyiapkan makanan, membersihkan rumah dan melayani pembeli di kedai depan. Bunda memang tak pernah pergi lebih jauh dari ujung gang rumah, karena khawatir ayah yang sering tiba-tiba pulang, atau tak ada yang menjaga kedai kecilnya. Tapi mungkin bunda juga ingin terlihat lebih cantik dengan kerudung merah marun berpayet seperti milik Hajjah Isna yang sering diceritakannya, dan aku memang yakin bunda bakal lebih cantik. Tapi mungkin bunda adalah wanita yang tak banyak inginnya, tepat seperti pesan ayah. Dia lebih senang membelikanku atau kakakku baju baru dari sisa keuntungan jualannya, daripada membelikan baju baru untuknya sendiri.

Saat lebaran, aku ingat, bunda memakainya dengan sangat rapi. Kerudung ungu, cantik sekali. Ayah hanya diam, sambil tersenyum. Bunda cantik, dan aku tidak pernah lagi melihat bunda melepas kerudungnya di luar rumah setelah itu. Itu titik awal yang indah. Ayah ternyata tak pernah keberatan, bahkan dengan kasih sayangnya berkali-kali setelahnya, aku dapati Ayah membelikan gamis untuk bunda. Seperti mendapati impian yang sudah lama diinginkannya. Raut wajah ayah menyiratkan bahwa ia telah mendapati bidadarinya di dunia. Yang walaupun tak muda lagi, tapi rasanya sudah sempurna. Bunda memakainya karena keinginannya sendiri.

Kariima Latief, itu namaku..

Annisa, kakakku yang cantik dan terpelajar. Darinya aku mendapatkan hadiah ulang tahun Al Quran yang berterjemah pertamaku, dan ayat-ayat yang selama ini tak kumengerti seperti pintu yang terbuka lebar. Aku seperti mendapatkan seluruh dunia di tanganku. Kakakku adalah orang yang cukup terbuka fikirannya, namun dia kurang kuat hatinya. Aku tahu, karena dia cerita padaku, kalau dia pertama kali memakai kerudung karena rasa cintanya pada seorang pria. Katanya pria itu soleh, dan berkata pada semua orang kalau dia suka wanita berkerudung. Dengan niat itulah, kakakku berkerudung. Tak lama kemudian, laki-laki itu menikah, dengan wanita yang tidak berkerudung, hanya lebih cantik, lebih berpendidikan dan lebih kaya. Impiannya, menjilbabi wanita itu setelah menikah. Tapi entahlah, sampai sekarang aku lihat istrinya masih belum berkerudung tuh. Kakakku sempat kecewa dan hendak melepas kerudungnya, tapi setelah sindiran sinisku padanya dia sepertinya mengurungkan niatnya.

“Kakak kecewa? Terus mau lepas kerudung? Memangnya kerudung ini dia yang suruh pake, orang yang suruh Allah kok. Kalo kakak lepas berarti kakak kecewa sama Allah? Wah, betapa durhaka dan gak berterimakasihnya kakak… sementara banyak orang yang ingin berkerudung tapi dilarang,” sindirku sinis sambil melengos pergi.

Kariima Latief, itu namaku..

Hujan masih mengguyur ibukota siang itu, suasana masih sepenat tadi. Jalanan tampak sepi dari manusia. Hanya di pinggir-pinggir jalan menuju pusat perbelanjaan banyak anak-anak ojek payung yang menunggu para pengguna angkutan umum turun dan menyambangi mereka. Gedung-gedung bertingkat menjulang mengingatkanku pada peristiwa beberapa bulan yang lalu. Aku berhasil memperoleh gelar diplomaku, dengan susah payah aku melamar pekerjaan kesana sini, namun tidak ada jawaban. Dari nama saja pun tidak menjual, seloroh teman seangkatanku. Jikapun ada, mereka lantas menanyakan kerudungku. Lalu menanyakan apa yang akan aku pilih antara pekerjaan dan keluarga. Aku dengan tegas menyatakan tidak akan merubah penampilan dan pilihanku. Apa gunanya ilmu yang dengan susah payah kupelajari, jika ternyata hanya fisik yang mereka lihat.

Aku hampir putus asa, lantas suatu malam aku diingatkan lagi olehNya lewat An Nahl ayat 69, “Apa yang ada di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan Kami pasti akan memberi balasan kepada orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik” dan satu hal yang selalu membuatku tidak boleh berputus asa adalah perkataan Rasulullah SAW bahwa doa seseorang itu akan dikabulkan selagi dia tidak terburu-buru menyebabkan dia berkata “aku berdoa tapi tidak dikabulkan”.

Alhamdulillah, tidak lama berselang setelah malam itu, datang seorang pemuda yang melamarku. Seorang yang alim, keras wataknya namun lembut hatinya selembut namanya, Abdul Latief. Dengan jawaban Allah itu, maka luruhlah semua kegundahanku. Bukankah yang kuingini hanya memperoleh ridha Allah? Sedangkan dengan memiliki suami, menurutinya dan memperoleh ridhanya aku akan memperoleh pahala menyamai pahala seorang lelaki yang keluar rumah untuk beribadah dan berjihad. Alhamdulillah juga, aku masih diberi kesempatan mengamalkan ilmu, dengan menjadi guru di madrasah dekat rumah mungil kami. Lalu nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Sekarang, aku melewati jalanan ini, dengan segala protes kecil di hati, segala hal yang sebabnya tidak kumengerti dan segala hal yang ingin kuperbaiki. Seperti diingatkan, bahwa masih banyak kewajiban yang harus aku lakukan di dunia. Sudah cukup segala nikmat Allah untukku, lantas untuk mereka? Apa yang bisa aku lakukan untuk mereka? Namun tetap dengan tegas aku akan berkata, Kariima Latief, itu namaku..

In the rainy day
Happy sweet seventeen for my sister ^^
Buitenzorg, 16 Juni 2010
pratigina©2010

———
Catatan:
Direpost dari notes di facebook dan blog pernikahanku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s